Akhir-akhir ini saya merasa ada yang tidak beres dalam ruang pikir saya. Seolah partikel otak tak bekerja dengan maksimal. Entah kenapa, dinamisasi dalam berkarya seolah menemui jalan buntu yang tak kenal arah. Selalu saja blunder dan stag pada sebuah realita yang sulit dipahami. Tidak ada yang kurang, semua support telah bekerja dengan maksimal. Namun mengapa daya pikir selalu saja mandeg tuk melakukan sebuah karya yang inovatif. Ketidakberesan berpikir ini, –saya rasa- berkaitan dengan mentalitas diri, yah suatu mental konsumtif yang mencundangi kekuatan berpikir untuk selalu menyerah dan terbawa arus yang mengalir, atau tidak mampu melawan arus sebagaimana orang-orang sukses yang berani melakukan karya besar tanpa terpengaruh dengan keadaan apapun. Nampaknya perlu pembenahan yang mendalam untuk ‘mewaraskan’ kembali kekuatan berpikir dan mental yang telah berkarat ini. Tidak ada seorangpun yang mampu mengobati mental dan pikir yang sakit, terkecuali diri sendiri. Yah, bagi saya dan –mungkin- bagi Anda yang sama merasakan ada yang tidak beres dalam berkarya, penawarnya hanya ada dalam diri kita sendiri.
Dalam ruang pikir, apapun yang kita cari, kemungkinan besar akan kita temukan. Bila mencari suatu keburukan, maka tak kan sulit bagi kita untuk menemukannya. Sebaliknya bila kita mencari keindahan –tentunya- akan kita dapatkan juga. Sungguh, jika dijalankan dengan benar, pikiran mampu merevolusi gerak aktivitas lambat menjadi cepat. Dan kemungkinan bermunculan hal-hal positif lainnya. Sebagian besar pengalaman kita tergantung pada cara kita menyikapi kehidupan ini. Sedikit cerita tentang dua sahabat yang memiliki dua pikiran yang berbeda mengenai pembuatan booklet itenerary perjalanan misalnya. Ketika saya bertanya pada sahabat A, ‘Apa yang kamu kerjakan (?)’ Sahabat A menjawab dengan negatif dan mengasihani dirinya, ‘Aku duduk berjam-jam didepan komputer mengerjakan itenerary perjalanan, namun masih belum kelar juga’. Di lain waktu, saya bertanya pada sahabat B dengan pertanyaan yang sama. Dengan mantap penuh percaya diri sahabat B berkata ‘Aku berusaha agar itenerary perjalanan yang dibuat ini, bermanfaat untuk para jemaah. Sehingga mereka berangkat dengan tenang, aman dan nyaman.
Dari cerita ringan diatas, tentunya tidak ada yang salah, keduanya benar. Mudah bagi kita, untuk mengerti bahwa dalam kehidupan kita bisa mengalami seperti kedua sahabat diatas. Satu-satunya pilihan yang paling mudah dan umum adalah berpikir negatif, menyerah, kalah, berpikir pesimis. Tetapi tentunya, apa perlu kita berfikir sejenak, bahwa pilihan tersebut bukanlah pilihan terbaik. Justru pilihan tersebut, membuat situasi menjadi lebih buruk, semakin sulit diatasi dan lebih berat dari keadaan sebenarnya. Selain itu, pikiran yang terungkap dengan sikap itu membuat transformasi negatif pada orang sekitar. Sehingga sulit pekerjaan itu diselesaikan dengan efektif dan matang.
Saya tidak mau berlarut dengan ‘ketidak-warasan’ berpikir dan mentalitas diri yang selalu mengeluh dengan keadaan. Seperti yang sering diungkapkan oleh “Hidden Person” kami, bahwa keinginan terbaik dalam hidup kita, terletak bagaimana cara berpikir kita tuk mendapatkan kebaikan itu. Melakukan perubahan kecil dengan berfikir positif sekarang, untuk mencapai sukses besar kemudian, adalah investasi yang tidak memerlukan modal, tetapi menghasilkan keuntungan yang besar.




