Kesolidan team adalah segalanya
Semua kita tahu, bahwa Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan kali ini banyak kejutan yang terjadi. Kejutan yang paling mencengangkan adalah banyaknya tim-tim unggulan yang tampil buruk, dan bahkan banyak yang harus menanggung malu karena dipermalukan oleh tim-tim non-unggulan. Italia misalnya, tim juara bertahan ini misalnya harus dibikin repot oleh tim pendatang baru sekelas Selandia Baru. Italia hanya mampu bermain imbang 1-1 dengan tim Negeri Kiwi tersebut. Masih banyak lagi daftar tim unggulan yang ternyata tidak layak disebut unggulan. Lihat saja, bagaimana “Keperkasaan” Inggris yang belum berhasil membukukan kemenangan pada ajang World Cup kali ini dalam dua partai. Wayne Rooney cs yang bertekad mengulang kejayaan tahun 1966, dibuat tak berkutik ketika ditahan imbang 1-1 oleh Amerika Serikat, dan bermain tanpa gol saat bermain dengan Alzajair. Belum lagi Jerman yang tumbang 0-1 oleh Serbia, atau Spanyol yang dipermalukan 0-1 oleh Swiss.
Namun diantara buruknya permainan team diantara negara-negara tersebut, Prancis lah yang paling tampak menderita. Tim Les Blues juga tampil bak tim yang baru belajar menjajal Jabulani, sebutan untuk si kulit bundar pada Fifa World Cup tahun ini. setelah ditahan 0-0 oleh Uruguay, Prancis bertekuk lutut 0-2 pada Meksiko. Hasilnya, jika tidak ada keajaiban, mereka harus bersiap-siap angkat koper lebih awal dari Afsel.
Mari sama-sama kita lihat bagaimana team raksasa dari Eropa yang berturut-turut meraih tropi juara dunia 1998 dan Euro 2000 ini, harus meratapi nasibnya lebih awal karena berada di posisi yang sulit tuk lepas dari babak kualifikasi. Meski hanya penikmat, atau juga bahkan jarang menyaksikan pertandingan bola, setidaknya kita paham bagaimana filosofi sebuah team saat berada di “Medan Juang”. Lihat saja, setelah kekalahan menyakitkan dari Meksiko, keutuhan team Prancis retak setelah sang pelatih, Raymond Domenech dan striker andalan Prancis, Nicolas Anelka bertengkar dengan hasil tragis, yakni diusirnya sang striker dari ajang World Cup untuk segera angkat koper ke kampung halamannya. Belum lagi, aksi mogok berlatih dari semua pemain “Si Ayam Jantan” (julukan lain dari tim Prancis), setelah sang kapten Patrice Evra bersitegang dengan pelatih fisik teamnya. Kondisi ini membuat Prancis dalam keadaan pincang untuk berhadapan dengan tim tuan rumah, Afrika Selatan pada pertandingan pamungkas grup A.
Ada pelajaran yang berharga dari tim Prancis, yakni soal keutuhan tim. Kita semakin menyadari bahwa membentuk sebuah team apapun, baik bersifat sosial maupun sebuah company, bahkan dalam aspek lebih kecil, team keluarga. Tidak melulu bersandar pada tumpukan harta dan peluang, soal non-teknis seperti keutuhan dan harmonisasi tidak bisa dihapuskan bila ingin membuat tim menjadi perkasa dan solid. Hal lain adalah memiliki visi dan perasaan yang sama untuk meraih cita-cita bersama. Sehingga lahir-lah karakter saling peduli dan berbagi ketika berada di “Medan Juang”. Kualitas dari tiap individu yang meliputi keutuhan team –tentunya- juga modal untuk memberikan warna dan kekayaan sebuah team yang solid. Namun, untuk masalah kualitas diri, semuanya yang berperan adalah pribadinya sendiri. Akan kah ia terus belajar dan memperbaiki diri, atau hanya puas dengan kemampuan yang stagnan.




