Hidup Harus Ada Penyesalan !?

Satu lagi tentang pernik hidup yang saya dapatkan dari sosok yang tak pernah henti tuk melangkah, dan tak pernah bosan tuk memberi arti kehidupan disekitarnya. Kali ini ia bercerita tentang sebuah penyesalan, yah, konon penyesalan selalu identik dengan sesuatu hal negatif yang telah dilakukan. Namun justru, selama jantung masih berdetak, penyesalan adalah salahsatu kompas penunjuk sebuah kehidupan. Remorse is the improvement, penyesalan adalah perbaikan. Penyesalan adalah separuh tiket menuju surga, dalam bahasa agama penyesalan akan selalu diiringi dengan pertaubatan. Tentu bukan sekedar tobat yang temporal, sesal yang hanya kulit, tetapi total terhadap apa yang disesalinya. Karennya, saya terkadang sering rancu jika mendengar rangkaian kata “Hidup Tanpa Penyesalan”. Bisakah manusia melakukannya (?) Benarkah diantara semua aktivitas hidup tak kan pernah ada suatu penyesalan (?) Saya pikir, dalam mengarungi samudra hidup, selalu saja ada hal yang kita sesali. Baik itu perkataan yang terucap, tindakan yang dilakukan, pilihan yang diambil, bahkan –terkadang- atas kejadian yang sebenarnya bukan atas kuasa kita.

Hidup tanpa penyesalan, berarti tidak melakukan sesuatu yang kelak akan mendatangkan penyesalan. Padahal tak ada satupun yang tahu apa yang akan terjadi esok hari. Bisa jadi penyesalan hari ini tidak bisa lagi diperbaiki, sebab kesempatan itu telah berlalu, atau bahkan tidak pernah tiba. Justru akan menambah dalam deretan list penyesalan. Karena itu senantiasa melakukan tindakan yang terbaik adalah suatu keharusan. Menjalani hidup sebaiknya hari ini, demi kebaikan di masa yang akan datang.

Tentu setiap manusia ingin menjalani hidup tanpa ada penyesalan pada akhir ceritanya kelak, kalaupun memang ada, pasti semuanya tidak mudah tuk dilalui. Lantas bagaimana jika penyesalan itu akhirnya terjadi (?). Ada dua pilihan yang bisa kita ambil. Pertama tenggelam semakin dalam pada lautan penyesalan. Menyiksa diri lebih lanjut, dan membiarkan gelombang asa terus menerjang jiwa pada kehampaan. Atau yang kedua, suatu hal penting yang harus selalu kita ingat, yakni menyadari bahwa segala sesuatu yang telah terjadi pada diri, baik atau pun buruk, adalah episode yang terbaik untuk kita.

Inilah indahnya hidup yang kita jalani. Sesungguhnya tiada ciptaan-Nya yang sia-sia (QS. 3:191). Bila hal ini telah tertanam dalam hati, maka kita dapat melihat bahwa terdapat limpahan hikmah pada segala hal. Bahkan pada suatu kemalangan yang menimpa sekalipun. Karena ujian hidup merupakan sarana edukasi dari Sang Pencipta, tentunya agar menjadi manusia yang lebih baik.

So, sederhana sekali ternyata menjalani hidup tanpa penyesalan. Cukup jalani hidup dengan sebaiknya. Dan ketika cobaan itu datang, kita jadikan batu loncatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Meski demikian dalam aplikasi hidup, terkadang suatu yang sederhana menjadi sangat rumit ketika kita tidak berani untuk siap menyesali tindakan buruk yang telah terpijak.

“Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S Ar-Rahman)


Kategori

Tag

Komentari artikel ini: