Suatu hari, seorang dosen mendatangi kelas dengan membawa benda-benda, yang menurutku aneh sebagai alat peraga di mata kuliah hukum. Ia membawa satu ember berkapasitas 15 liter, tiga batu besar masing-masing berukuran buah kelapa, 10 liter air putih, dan batu kerikil sekira setengahnya dari isi ember diatas. Saya dan juga teman lainnya masih bingung, untuk apa beliau membawa benda-benda tersebut ke dalam kelas. Tidak lama kemudian, dosen yang juga doktor Falsafah (filsafat) itu bertanya pada audiens. “Tahukah kalian untuk apa benda-benda ini ada dalam ruangan?”. Serentak semua penghuni kelas diam dan menggelengkan kepala. “Baiklah, jika kalian tidak tahu, saya bertanya sekali lagi, cukupkah barang-barang seperti batu-batu besar, batu kerikil dan air 10 liter ini masuk kedalam ember ini?”. Serentak kami menjawab tidak mungkin. Yah, menurut logika benda-benda itu tidak akan mungkin bisa masuk semua kedalam ember. Kalaupun masuk, tentu airnya akan meluber. Dosen itu hanya tersenyum dan mulai memperagakan tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Dengan hati-hati ia memasukkan terlebih dulu batu-batu besar kedalam ember, selanjutnya ia memasukkan seluruh batu kerikil dengan sedikit menggoyang ember itu. Setelah itu, baru ia menuangkan air itu kedalam ember, yang sungguh semuanya tertampung dalam ember tersebut.
Bagi sebagian orang, peragaan ini tidak aneh, biasa saja, dan –tentu bisa dilakukan oleh siapapun. Tetapi yang membuat saya kagum adalah cara mudah beliau dalam memberikan pemahaman tentang konsep kehidupan. Yah, setelah semua benda itu masuk ke dalam ember, ia memberikan teori tentang apa yang barusan dilakukannya. Ia menggambarkan kehidupan ibarat satu ember barusan, ia bisa menampung semua yang awalnya pesimis dapat dimasukkan kedalam ember. Namun peletakkan tiga batu besar diawal, adalah pondasi agar semua benda dapat tertampung. Tiga batu besar inilah yang ia jadikan analogi semacam prioritas kehidupan. Batu besar pertama adalah sebuah sikap terhadap Khalik (pencipta) alam semesta, batu besar kedua adalah sikap terhadap sesama makhluk (hablu min-naas/hubungan antar manusia) dan batu ketiga adalah sikap terhadap alam.
Jika semua telah menjadi prioritas hidup, maka apapun yang kan terpikir sebagai aktivitas hidup lainnya akan tertampung dalam diri manusia. Kerikil dan air menjadi sebuah sub yang menunjang kehidupan. Sehingga kontrol diri akan lebih dominan kala nafsu dan syahwat menggeliat sepanjang jalur kehidupan. Karena memang, manusia terkadang harus ‘banting stir’ tuk meyakinkan bahwa perjalanan dunia mereka kan berakhir. Iblis bukanlah makhluk yang dapat menyesatkan manusia, iblis hanya bertugas sebagai penggoda dan pembisik. Pola pikir dan kelemahan iman seorang manusia-lah yang mengakibatkan manusia itu tergoda oleh rayuan iblis terkutuk. Sebagaimana Rasulullah SAW pun tak kuasa memberikan hidayah pada setiap manusia.
So, jika hidup kita prioritaskan seperti tiga batu besar diatas, maka kontrol diri dalam mengisi hidup kan selalu membendung syahwat yang kadang meronta.




