Khusnudzan Pada Hari Esok

Hari ini adalah hari esok yang kucemaskan kemarin,
Namun begitu indahnya hari ini.
Mengapa aku cemaskan hari ini kemarin,
Kini tak ada alasan kucemaskan esok di hari ini,
Karena mungkin esok tak ada lagi.
Hingga ku hidupi hari ini seolah esok tak kembali.

Banyak pesan yang kudengar tentang hari esok. Betapa besar pengaruh esok dan masa depan tuk kehidupan. Banyak kudengar pula orang berperang tuk hari esok, dan tak sedikit yang menakutkan tibanya hari esok. Begitu seramkah hari esok hingga meluluhkan segala energi hidup hari ini. Berpikir keras tuk hadapi esok, seolah bencana kan menimpa prematur, seolah langit tersungkur dan bumi kan terkubur. Berprasangka buruk pada kejadian esok hari hanya akan menghancurkan hari ini, yang sejatinya terukir indah tuk menjumpai hari esok. Banyak waktu terbuang sia-sia hari ini hanya untuk berpikir bagaimana dengan hari esok. Hari ini bukan sarana tuk berprasangka pada hari esok, hari esok tak punya dosa tuk disalahkan. Karena hari ini belum juga tergapai seutuhnya. So, tetaplah berprasangka baik pada hari esok agar optimis tetap terjaga.

Dalam melangkah hidup, kita dibatasi oleh tiga jenis waktu. Pertama, masa lalu. Ia sudah terlewati dan kini berada di luar kontrol kita. Banyak yang merasakan kesengsaraan dan kenikmatan hidup karena buah dari masa lalu. Sehingga masa lalu akan menjadi bekal dan pelajaran hidup tuk hari ini. Kedua, masa depan, atau hari esok. Kita sering panik menghadapi masa depan. Tanah kian mahal, pekerjaan semakin sulit, persaingan semakin ketat dll. Tetapi perlu kita tegaskan bahwa masa lalu dan masa depan, kuncinya ada pada hari ini. inilah bentuk waktu yang ketiga.

Seburuk dan semanis apapun masa lalu kita, jika hari ini dirangkai dengan sangat baik maka semua yang telah terjalani akan berbuah manis dikehidupan abadi kelak. Pun demikian dengan masa depan, sesuatunya kan semakin buram jika kita hanya berprasangka buruk pada langkah yang belum terpijak. Prasangka-prasangka negatif pada waktu yang kan dihadapi hanya akan membuat kenyataan itu terjadi pada apa yang dipikirkannya. Karena Allah SWT akan memberikan ‘Sesuatu’ apa yang ada dalam prasangkanya. Sehingga prasangka buruk hanya menjadi mimpi buruk yang kan diraih hari esok. Pesimis pada kehidupan esok hari akan memberikan dampak negatif pada efisiensi diri, setiap hari kan selalu dirundung kegelisahan dan kecemasan.

Karena itu, Islam mengajarkan umatnya tuk selalu bersikap optimis dalam memandang hari esok yang masih abstrak. Optimisme adalah keyakinan diri bahwa kita pasti bisa menghadapi keadaan apa pun yang harus dihadapi. Dari sudut pandang kecerdasan emosional, optimisme laiknya sebuah harapan. Memiliki pengharapan yang kuat bahwa secara umum, segala sesuatu dalam kehidupan akan terselesaikan, kendati ditimpa kemunduran dan frustasi. Optimisme merupakan sikap yang menyangga orang agar jangan sampai terjatuh ke dalam kemasabodohan, keputusasaan, atau depresi bila dihadang kesulitan.

Sejatinya muslim yang baik adalah muslim yang sudah tahu betul apa yang akan dilakukan pada hari ini, dan ia sadar bahwa apa yang ia lakukan hari ini akan memberikan dampak yang signifikan pada masa mendatang. Tak ada nilai-nilai keraguan ataupun nilai yang cenderung kepada sikap pesimistis, karena semua tahu bahwa esok adalah sesuatu hal yang masih ghaib dan harus dipersiapkan dengan matang.


Kategori

Tag

2 KOMENTAR untuk artikel ini:

Komentari artikel ini: