Journey to the Real Happiness

Membaca buku “Keliling Eropa 6 bulan hanya 1000 dolar!” Karya Marina Silvia, benar-benar membuat saya iri. Iri karena dia bisa melakukan semua itu dengan sangat mudah, lebih iri lagi karena dengan ‘enaknya’ dia berhasil menuangkannya dalam beragam prosa, sketsa dan cerita yang semuanya sangat terasa. Ketika sampai dipenghujung buku, ia menuliskan kata sakti dari pertualangannya, yakni semua pengembaraan itu seolah hanya untuk sebuah kebahagiaan. Hmm, yaa… definisi bahagia kadang sulit dimengerti. Tapi secara klasik, semua orang tahu bahwa manusia hidup di muka bumi tiada lain tuk mendapatkan kebahagiaan, di dunia maupun akherat. Namun sejenak kita simpan tujuan sama kita tentang kebahagiaan, kita beranjak bagaimana proses menemukan kebahagiaan itu sendiri. Dan saya yakin semua itu menimbulkan perbedaan dari beragam sudut pandang.

Ketika seseorang ditanya tentang makna bahagia, ia berkata “Kebahagiaan adalah tawa”. Namun, ketika ia tertawa sendiri di suatu pagi, setelah istrinya dikuburkan minggu lalu, ia merasakannya sebagai tawa yang paling menyedihkan sepanjang hidupnya. Tawa yang sepi, tawa yang mengguncang. “Kebahagiaan adalah kebersamaan”, katanya lirih. Bisa juga proses bahagia adalah menemukan seseorang untuk dipeluk saat kita menangis dan berbagi perih bersamanya. Dan, kesedihan adalah saat kita harus tertawa sendiri.

Kebahagiaan sangat tergantung bagaimana kita memaknainya. Menegak air es saat dahaga di tengah gurun, mungkin saja sebuah kebahagiaan, tetapi tidak di tempat lain yang bersalju. Memiliki banyak uang bisa saja kebahagiaan setelah keluar dari lubang kemiskinan, tetapi tidak bagi mereka yang tidak memiliki banyak pilihan dengan tumpukan uang. “Kebahagiaan adalah menemukan diri sendiri menjadi lebih bermakna di mata orang lain”. Begitu kata orang suci. Saat kita menolong, saat kita bersedekah, saat seseorang datang meminta bantuan, dan hal banyak lainnya yang membuat orang tersenyum, adalah kebahagiaan yang luar biasa terasa.

Setiap orang memiliki kebahagiaannya sendiri-sendiri, ‘Everybody’s happy in his own way’. Bahagia tidak bisa terukur oleh uang, mobil mewah atau rumah bertingkat, karena bahagia muncul dari jiwa. Kemanapun kita pergi, kebahagiaan kan tergantung pada kondisi jiwa dari kebeningan hati.

Marina Silvia sukses merangkai perjalanan hematnya, karena kondisi hati yang bahagia, enjoy dan menikmati setiap perjalanan yang terlampau, -meski- tentu saja ditemukan dinamika yang berwarna dalam setiap episode ceritanya.

Jika dikorelasikan pada perjalanan bahagia yang hakiki, maka semua orang (muslim) yakin, bahwa perjalanan menuju Baitullah lah yang memiliki kebahagiaan paripurna dari slide-slide perjalanan hidupnya. Selama masih terdapat noktah positif dalam diri, maka dipastikan ia kan larut pada kebahagiaan yang sebenarnya. Terkecuali pada jiwa yang merasa bahwa harta dan dunia lah yang membuat hidupnya bahagia. Sehingga tanah suci luput dari agenda perjalanan hidupnya.


Kategori

Tag

Komentari artikel ini: