Biasanya diluar jam kantor, kami selalu mengadakan pertemuan santai, atau obrolan ringan bersama sosok paling berpengaruh di Cordova malam hari. Membicarakan tema-tema hangat seputar aktivitas hidup, dan kadang mengarah pada sebuah hikmah kehidupan. Meski ‘liar’, namun selalu –saja- ide yang bergulir membuat inspirasi banyak orang tuk melakukan hal-hal yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Namun, pertemuan –yang sesungguhnya sangat dirindukan setiap staf Cordova itu- berlangsung pagi hari. Kebetulan pagi itu sudah nampak, sosok muthawif Cordova di KSA, Ust. Masyhun Bahrain, yang tahun ini berlibur ke tanah air bersama keluarganya. Memang Cordova memiliki program “We Love Muthawifâ€, atau lebih dikondisikan setiap tahunnya Muthawif secara bergilir mudik ke Tanah Air, merasakan bersama bagaimana tautan hati terbangun antara Cordova Jakarta dan KSA. Bertukar pengalaman serta sharing mengenai hal-hal dalam melayani jemaah, tak luput dari pembicaraan santai di pagi itu. Ada hal yang –menurut saya- sangat menarik untuk dicerna dalam obrolan itu, yakni mengenai “Pelayan Allahâ€, yah jika sebagai travel haji, atau muthawif di tanah suci, kita selalu menyebut, bahwa kita sebagai pelayan tamu-tamu Allah nan agung. Ada sebuah semangat untuk memberikan pelayanan yang istimewa, karena –memang- mereka adalah tetamu Allah yang mulia. Doa dan harapannya menjadi sangat terkabul.
“Jika kita ditanah suci menjadi pelayan tamu-tamu Allah, maka sesungguhnya, setiap muslim dimana pun, memiliki peluang menjadi Pelayan Allahâ€. Ungkap Bapak yang kerap menggulirkan ide-ide segar bagi Cordova. Tidak menganggap remeh suatu kebaikan, tentunya adalah proses menuju predikat “Pelayan Allahâ€, lebih mengerucut, konteks melayani Allah -tentunya- bukan melayani secara pemahaman manusia terhadap Sang Khalik. Namun lebih di fokuskan untuk melakukan yang terbaik bagi agama dan manusia pada umumnya (rahmatan lil ‘alamin). “…Jika kamu menolong (agama) Allah, maka Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu†(QS. 47:7).
Contoh kecil dalam menolong agama Allah, atau melakukan yang terbaik bagi agama Allah, adalah seperti membuang sampah pada tempatnya, berlaku adil dalam takaran dagang dan hal sekecil apapun. Karena jelas, dengan demikian posisi agama Allah tidak terkotori oleh perlakuan buruk penganutnya. Jika terus dilakukan dengan “dawam†terus menerus, hakikatnya kita telah menolong agama Allah (Islam) dari kewibawaan dan kemuliannya.
Ditemani gemericik pancuran air kolam, pagi itu, kami tak henti berdiskusi dari tema ke tema, permasalahan satu ke permaalahan lain dengan mengalir. Juga mengenai bagaimana professionalitas kerja team Cordova yang terus dilecut dan disemangati, agar benar-benar dalam melayani para tamu Allah dengan sangat detail dan berskema.
Jika saja waktu belum menunjukkan pukul 09 pagi, mungkin obrolan hangat itu terus bergulir, dan –tentunya- akan menciptakan gelombang inspire yang besar bagi setiap team yang hadir. Namun kami harus melangkah kembali menuju aktivitas kantor sebagai proses dalam membentuk komunitas “Pelayan Allahâ€.



