Allah Selalu Punya Rencana

Didik Wijayanto
(Alumni smartUMRAH Cordova 2010)

Aku seorang suami dan ayah dari dua orang anak yang sangat lucu. Saat ini aku baru saja menyelesaikan pendidikan dokter spesialis di Jakarta. Sempat aku bernazar saat dalam pendidikan, jika lulus nanti, insya Allah aku dan keluarga akan menjalani ibadah umrah sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmatNya tiada terhingga. Seperti yang sering disebutkan dalam surat Ar Rahman berulang-ulang. Tak terasa waktu demi waktu kujalani dan hari kelulusanku pun tiba, saat kelulusanku ternyata hampir bersamaan dengan musim haji sehingga rasanya untuk menjalankan ibadah umrah kami sekeluarga harus bersabar hingga 3-4 bulan ke depan. Ada sebuah biro perjalanan haji dan umrah di Jakarta yang secara tak sengaja kami temui di Makkah Al Mukkarama sejak tahun 2006, ketika aku dan istriku menunaikan ibadah haji, mereka menawarkan untuk umrah di bulan Januari dengan memanfaatkan undangan salah seorang Amir di Saudi Arabia untuk mendapatkan visa umrah tentunya, karena seperti kita ketahui bahwa ibadah umrah untuk Asia Tenggara baru dibuka pada bulan Maret.

Pucuk dicinta ulam tiba pikirku, Allah selalu menjawab niat baik umatnya apalagi jika umatnya ingin mendekatkan diri kepadaNya. Saat hari pemberangkatan tiba, beberapa teman dekat sempat mengucapkan selamat jalan melalui telepon bahkan ada seorang temanku yang belum pernah ke Saudi ingin sekali berangkat haji dengan menanyakan kepadaku, jika ada biro perjalanan haji yang membutuhkan tenaga dokter, maka temanku tersebut siap untuk berangkat, sungguh mulia niatnya pikirku saat mendengarkannya bercerita.

Beberapa jam sebelum kami berangkat ke bandara, datanglah manajer dan pemilik biro perjalanan haji dan umrah tersebut ke kediaman kami, untuk memberitahukan dengan berat hati bahwa perjalanan umrah tertunda untuk waktu yang tidak ditentukan karena masalah visa. Tidak masalah, jawabku dan istriku sambil tersenyum mantap, karena ini adalah undangan Allah sehingga masalah berangkat atau tidak, adalah ketentuan Allah, kami sangat menyadari itu karena aku dan istri sering mengalami hal-hal yang menurut kami adalah semacam ketentuan atau jalan dari Allah SWT yang sulit kami jabarkan secara gamblang di sini.

Pihak biro pun merasa heran bercampur lega saat itu karena kami tidak marah ataupun kecewa bahkan kami sempat berbincang-bincang mengenai masalah lainnya. Di kesempatan itu pulalah pemilik biro perjalanan haji dan umrah tersebut menawarkan aku untuk menjadi tenaga medis saat ibadah haji tahun 2010 ini. Subhanallah, sempat ku terhenyak karena beberapa saat yang lalu temanku ingin sekali menunaikan ibadah haji dengan menjadi tenaga kesehatan di sana, doa temanku langsung diijabah oleh Allah SWT. Kukatakan apa adanya kepada pemilik biro perjalanan tersebut bahwa aku merasa sangat terhormat dan berterima kasih karena sudah dipercaya, namun apabila tidak keberatan sebaiknya temanku yang berangkat karena atas pertimbangan bahwa temanku belum pernah berhaji serta -mungkin juga- memang doa temanku tersebut yang diijabah oleh Allah SWT.

Pemilik biro tersebut tanpa ada keraguan sedikitpun langsung menyetujuinya. Di sinilah tangan Allah bekerja, bagaimana mungkin beberapa komponen bertemu pada saat yang sama sehingga menghasilkan suatu keputusan penting ? Apakah ini suatu kebetulan ? Tentu tidak, ini adalah ketentuan Allah SWT. Ini adalah nikmat pertama, tidak berangkat umrah, namun diganti dengan menghajikan seorang teman. Fabi ayyi alaa irobikum matukadzibaan (Karunia Tuhanmu mana lagi yang kan kau dustakan).

Tidak disangka, rizki kembali menghampiri kami di awal bulan Februari, pemilik biro tersebut memberitahukan kepada kami bahwa visa sudah didapatkan dan kami dapat berangkat tanggal 4 Februari 2010. Bahkan aku sempat tidak menyadari bahwa jadwal berangkat tersebut di bulan Februari, karena sepertinya aku salah membaca pesan singkat melalui Short Message Service yang dikirimkan oleh pihak biro perjalanan tersebut yang sempat kukira berangkat pada tanggal 4 Maret 2010. Subhanallah, kenapa tiba-tiba jadi sangat lancar seperti ini ? Kebetulankah ? Tentu tidak, kembali ini adalah campur tangan dari Allah SWT, karena begitu diberi satu ujian dan kita dapat menerimanya maka kita akan lulus dan naik kelas tentunya, hadiahnya ? Inilah hadiahnya, berangkat umrah dilancarkan.

Pesawat berangkat dari bandara Soekarno-Hatta dengan tujuan Madinah Al Munawara tak terasa kami tempuh dalam waktu 10 jam, cuaca cerah di Madinah, suhu berkisar 15-17 derajat celcius, cukup sejuk walaupun matahari bersinar dengan terang. Badan sedikit letih mungkin karena jet lag, namun rasa bahagia kami sekeluarga serta merta telah menghilangkan rasa lelah tersebut begitu melihat keagungan masjid Nabawi, telah terbayang di pelupuk kami semua bahwa kami akan segera bertemu dengan Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya, tak sabar rasanya ingin menyapa Rasulullah SAW, bahkan ayahku yang belum lama ini terkena serangan jantung dan berhasil selamat walaupun terlihat mulai tua dan lelah namun begitu melihat masjid Nabawi, masjid Rasulullah SAW terlihat binar-binar kebahagiaan di wajahnya yang sulit dijelaskan di sini.

Jarak hotel kami dengan masjid hanya terpaut pagar pembatas saja, namun demikian bagi seorang yang pernah terkena serangan jantung mungkin terasa jauh karena harus berjalan beberapa saat, namun hal itu tidak memupuskan niat ayahku untuk beribadah, walaupun jarak tersebut harus ditempuh dengan beberapa kali istirahat dengan berjalan kaki, dengan sabarnya ibuku menunggu ayah saat berjalan.

Assalamualaika ya Rasulullah, bergetar hati ini rasanya ketika mengucapkan itu di depan makam Rasulullah dan sahabat-sahabatnya , betapa berat ya Rasulullah perjuanganmu saat itu untuk menyiarkan Islam, namun lihatlah hari ini ya Rasulullah, umatmu sudah datang dari berbagai penjuru dunia. Tak terasa air mata mengalir dari mata ayahku, aku, anak laki-lakiku yang berusia 9 tahun, dan mutawif.

Dua hari di Madinah kami isi dengan ibadah di masjid, dan selalu kami sempatkan untuk sholat di Raudah, tak lupa pula kami selau minum air zam-zam yang disediakan di masjid tiap kali selesai sholat. Betapa damai dan indahnya suasana hati kami semua saat berada di Madinah, kota yang dicintai Rasulullah SAW, bahkan anak perempuanku yang berusia 6 tahun pun merasa senang sekali berada di Madinah khususnya di masjid Nabawi, tak henti-hentinya dia mengucapkan “aku suka air zam-zam.”

Perjalanan umrah kami lanjutkan menuju Makkah Al Mukarramah untuk menunaikan ibadah umrah, tak lupa kami semua pamit kepada Rasulullah SAW. Miqat kami ambil di Bir Ali di pagi hari dengan cuaca cerah dan udara yang sejuk. Selama dalam perjalanan kami bersama muthawif tak henti-hentinya mengucapkan talbiyyah “Labbaik allahuma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik…” Menyambut panggilan Allah SWT, tak terasa kami sudah berada di depan Dar Al Tawhid- Intercontinental Makkah, setelah sempat berhenti sesaat untuk makan siang di pertengahan jalan.

Kembali hati ini berdegup kencang, terharu, senang, bercampur aduk menjadi satu karena akan melihat Baitullah, apalagi anak perempuanku semangatnya hampir mengalahkan semua anggota keluarga lainnya karena selalu meminta untuk melihat Kabah yang sebelumnya hanya dapat dilihatnya di majalah atau layar kaca, Subhanallah anak ini ujarku, betapa bersyukurnya aku dan istri memiliki anak-anak yang soleh dan solehah. Pasti ini karena doa orangtua kami, saudara-saudara kami, dan kerabat-kerabat kami yang selalu mendoakan.

Tak terasa air mata sudah mulai menitik, betapa besar rasa sayang Allah SWT kepada keluarga kami, kupandangi wajah anggota keluargaku satu persatu dari mulai ayah, ibu, istri, anak lelaki, anak perempuanku, begitu bersemangatnya mereka semua untuk beribadah, tak terlihat sedikitpun rasa lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan mobil GMC. Tanpa menyia-nyiakan waktu yang ada, kami bergegas untuk melaksanakan ibadah umrah. Tak kuasa hati ini rasanya begitu kembali memandang Kabah, mata ini kembali mengalirkan air matanya, ya Allah telah engkau dengarkan doaku sehingga aku bersama keluargaku tercinta dapat kembali menjadi tamu Mu ya Allah, karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.

Suasana Masjidil Haram memang cukup lengang saat itu karena musim umrah belum mulai. Enam tahun yang lalu saat aku menunaikan ibadah umrah pertama kalinya aku pernah memohon kepada Allah SWT agar aku diberikan kesempatan untuk dapat mencium batu yang berasal dari syurga yang dilekatkan di Kabah atau biasa disebut dengan Hajar Aswad. Dalam doaku, aku sempat memohon agar diberikan kesempatan untuk menciumnya, namun tanpa harus menyakiti orang lain karena untuk menujunya, harus berdesak-desakan. Bahkan saat menunaikan ibadah haji pun aku sempat berdoa dengan doa yang sama, hanya saja memang doaku sedikit terdengar mission impossible. Namun bagi Allah SWT tiada yang tak mungkin, setelah menunggu dengan sabar selama 6 tahun ternyata Allah tidak tega membiarkan umatnya merengek terus meminta hal yang sama.

Pada kesempatan umrah kali ini Allah SWT membiarkan aku dan keluargaku mencium Hajar Aswad berkali-kali tanpa harus berdesak-desakan, cukup dengan antri tidak sampai dua menit dan hal tersebut dapat terlaksana dengan sangat sempurna. Terima kasih ya Allah, betapa Engkau selalu mendengarkan keinginan setiap umatMu. Begitu pula saat aku tiba-tiba mengungkapkan keinginan untuk sholat fardhu di depan Kabah ketika qamat mulai dilantunkan, padahal saat itu aku jauh berada di belakang, “Ayo pak kita maju aja ke depan jalan pelan-pelan” ungkap mutawifku. Saat itu kami bertiga, ternyata diantara shaf depan yang sudah penuh terisi tersebut tersisa tempat untuk tiga orang, Subhanallah.. sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum apabila kaum tersebut tidak berusaha.

Kemudahan-kemudahan dan berbagai keajaiban terus terjadi pada keluarga kami yang jika dijabarkan satu persatu, mungkin akan terlalu panjang jika disebutkan di sini. Bahkan ketika kami sedang mengunjungi museum Kabah yang izinnya terkenal ketat, saat itu seharusnya museum ditutup karena belum waktunya buka, ternyata kami diperbolehkan masuk dengan mudah. Tak henti-hentinya kami sekeluarga bersyukur atas apa yang telah Allah SWT berikan kepada kami. Lainsyakartum laidzadanakum, lainkafartum inna adzabii lasyadiid.

Perjalanan spiritual selama 8 hari serasa cepat sekali berlalu dengan indah, hubungan kami dengan para mutawif di sana pun sudah seperti keluarga, begitu ikhlas, penuh perhatian, sabar, dan berdedikasi tinggi. Terima kasih ya Allah, terima kasih orang tuaku, terima kasih istri dan anak-anakku, terima kasih Cordova. Semoga semua ini jadi amalan baik kita dan menjadi modal di akhirat kelak.

Kupersembahkan untuk Iin, Rafi, dan Medine
Tangerang, 16 Februari 2010


Kategori


6 KOMENTAR untuk artikel ini:

  • abdillah berkomentar:

    bukan hanya rencana Allah tapi ini skenario besar-Nya yang tidak pernah kita duga.Subhanak Yaa Rohman!!!



  • firgianti sahara berkomentar:

    subhannallah.. membaca artikel ini tdk kusangka air mata mataku bercucuran ,sungguh besar kekuasaanmu yaa allah,, yg tdk lelah mengurusi umatx. salam marhaban yaa ramadhan wahay sobatku, yg sdh terpanggil ,i.allah aku akan ikut jejakmu. amiin.



  • desti arya berkomentar:

    subhanallah..saya ikut menitikkan air mata, semoga Allah melancarkan niat saya + suami untuk umroh di thn 2013 bersama Cordova, insya Allah, amiin.



  • nurhayana berkomentar:

    sy sangat terharu membaca tulisan anda, sebentar lg sy jg akan menunaikan ibadah umrah, insya allah apa yang menjad pengalamn anda merupakan pelajaran buat sy nantinya ,,,amin



  • ibnu berkomentar:

    Subhanallah… ikut menitik air mata ini membaca tulisan bapak… sungguh memotivasi… Insyaa Allah kami sekeluarga juga akan kesana… pada saat yang Allah tentukan, tidak lebih lama ataupun lebih cepat… mohon doanya… terima kasih…



  • erik berkomentar:

    Subhanallah. berapa umur Bapak anda, mohon info di fb. e_erik@yahoo.co.id mmg betul perjalanan haji dgn niat yg tulus ikhlas menghasilkan pengalaman spiritual yg tak terlupakan, krn Allah SWT mendampingi kita sebagai tamunya Alhamdulillah.



Komentari artikel ini: