Dzalim + Fitnah = Lebay

Anda mungkin heran dan sedikit mengerutkan kening saat membaca tema diatas terdapat di sebuah website Cordova –yang notabene sebagai media seputar haji dan umrah-. Tetapi, disinilah justru letak perbedaan media Cordova yang senantiasa concern dengan segala dinamika kehidupan umat Islam, tidak melulu harus terpaku pada permasalahan haji dan umrah. Tapi dengan website ini, pembaca dapat berkhayal menembus segala batas yang “menyekat”. Termasuk dengan artikel ringan ini, Anda akan tahu bahwa dipelosok negeri ini, akan banyak ditemukan sosok-sosok liar penyebar kedzaliman dengan kelihaian seni kata yang berujung benih-benih fitnah. Tentunya ia lakukan semuanya hanya untuk ke-eksis-an dirinya dimata khalayak ramai. Meski terbungkus rapi dengan busana muslim, tidak menjadi jaminan bahwa manusia itu rapi dengan watak dan kharakter seorang muslim taat. Bisa jadi ia hanya bertopeng untuk mengkamuflase kebejadan moralnya. Terlebih jika yang melakukan serangan-serangan fitnah kepada Anda itu seorang wanita, maka dapat dipastikan ia akan mengeluarkan jurus-jurus berbau pembenaran. Mengaku terdzalimi lah, mengaku difitnah lah dan seterusnya.

Jika tidak salah, orang yang disakiti atau yang terdzalimi adalah semulia-mulianya manusia yang meraih predikat maqbul atas doa-doanya. Hanya Dzat Maha Tahu dan dirinyalah yang tentunya memiliki peluang sebagai peraih pangkat mulia itu. Jika ditilik pada sejarah dan kehidupan para sahabat Nabi, maka orang yang didzalimi tidak akan pernah agresif untuk menyerang dengan membabi buta. Ia hanya merintih dan mengadukan segala nasibnya hanya kepada Allah Dzat Maha Kuasa. Maka disanalah letak bahwa segala permintaanya akan termaqbulkan. Tidak lantas karena merasa terdzalimi, ia berontak ingin dikasihi dan mengajak manusia lain untuk menunjukan pembenaran dengan menggulirkan gosip-gosip murahan. Orang terdzolimi, senantiasa menjaga hati dan mulutnya untuk mengobar permusuhan sebagai balas dendam, tidak berkoar-koar sembali mengeluarkan asap dari mulut baunya.

Hmm… Benar juga kata imam Jum’at tadi siang, bahwa diantara karakter manusia ada yang berpredikat “Laa Yadri An-Nahu Laa Yadri” Manusia yang tidak memiliki ilmu (bodoh) tetapi ia tidak tahu bahwa dirinya bodoh. Ditambah dalam ayat Al-Qur’an, “Bal Hum Adol” atau lebih buruk dari binatang.

Kenapa fitnah lebih keji dari pembunuhan (?) karena jelas dengan fitnah, korban yang dilumat bukan hanya satu orang, tetapi ia akan membusuk dan menular pada sekian generasi dari nasab orang yang difitnah. Ia akan menjadi semacam efek domino yang terus menggerogoti kenyamanan hidup sebuah keluarga. Alasan menyebar fitnah sangat luas, bisa terjangkit virus “Cinta Mati”, namun berujung penolakan, bisa karena iri melihat keharmonisan orang berkeluarga, sedang dirinya diujung penghancuran, ada juga motif ingin menghancurkan segala kemuliaan orang, sehingga dari celah sekecil apapun ia serang dengan membabi buta.

Lantas bagaimana cara menghindari manusia-manusia berwatak seperti itu (?) Sulit memang, tetapi usaha kecilnya menyarankan dia untuk segera konsultasi ke psikiater atau dokter jiwa terdekat. Naudzubillah…tsumma Naudzubillah…

Ingin eksis jangan lebay pliss..

To be continued


Kategori

Tag

Komentari artikel ini: