Mungkin Anda lelah mendengar bagaimana kasus Century yang terus bergulir tanpa akhir dan kejelasan simpul yang diperoleh. Atau mungkin Anda juga sudah apatis terhadap apapun yang terjadi dengan hukum di negeri ini. Begitu lamban dengan sejuta wacana dan apologi. Keinginan atau political will dari penegak hukum yang setengah-setengah membuat jengah setiap orang yang memperhatikan kasus ini. Terlalu banyak kepentingan diri berkuasa, terlalu lebar senyum topeng menutupi jiwa. Nurani telah kelam tertutup kabut kerakusan, membentuk suatu citra diri tuk melepas dari noda dan dosa. “Century Gate†memang menguji kecepatan nurani tuk segera menyibak kebenaran. Tanpa melibatkan hati, semua skandal akan begitu saja menguap tanpa proses akhir yang jelas. Pada akhirnya masyarakat luas kan mudah memaafkan dan melupakannya. Karena semua orang di negeri ini tahu, bahwa potensi keterlibatan pada kasus ini melibatkan orang-orang yang memiliki power dan kuasa. Namun berbeda –tentunya- jika suatu kasus menimpa rakyat biasa, dengan canggih semua terungkap dengan kecepatan luarbiasa.
Hukum di negeri ini memang aneh, semua dapat dipesan menggunakan kuasa dan harta. Padahal jika ditilik Bagaimana Rasulullah mengajarkan umatnya untuk berlaku adil dan cepat tanggap terhadap sebuah kemungkaran. Seperti dicontohkan bagaimana sikap Rasul ketika mendengar salah seorang kerabat, dari sahabat yang memiliki kekuasaan dan kehormatan sosial melakukan sebuah pencurian. Untuk menghindari rasa malu dari kalangan ningrat, maka mereka mengusulkan untuk menutupinya dengan membayar ratusan ribu dinar. Namun Rasulullah murka dan bersabda “Seandainya Fatimah anakku mengambil barang bukan haknya (mencuri), maka pasti aku akan memotong tangannya!â€
Hadist shahih yang masyhur diatas, menggambarkan bahwa keadilan adalah sesuatu yang wajib ditegakkan. Kepada siapapun, rakyat jelata ataupun penguasa semua sama dimata hukum. Namun yang terjadi dewasa ini, keadilan tak kan pernah terwujud selama wacana pembersihan citra kian tegak tuk sekedar mencuci tangan dari dosa dan nista.
Jika boleh saya simpulkan, kasus skandal Bank Century yang marak menghiasi Media di tanah air ini adalah sebuah permulaan membuka tabir kebobrokan oknum penguasa, bak gunung es yang semakin tampak besar jika kita selami kedalamnya. Kelambatan yang penuh intrik menanganinya, menjadikan kita bosan dan lelah memperhatikannya. Jika dibanding Centrino, salahsatu jenis processor yang berasal dari intel dan memiliki kecepatan akses yang tajam untuk notebook dan laptop, maka pencarian fakta Century hanyalah sepuluh persen dari kecepatan Centrino.
Analogi ini –mungkin- kurang benar, tapi karena di negeri ini sulit menentukan yang benar dan tidak, maka tidak salahnya jika analogi “Centrino†merupakan jawaban yang logis bagi para penegak hukum menangani kasus Century yang super lelet dan lambat, tidak seperti Centrino yang super canggih dalam mengakses data dan fakta.





kenapa mesti kasus century yg dibandingkan dgn centrino? apa ngak ada kasus lain lagi? jangan bahas kebobrokannya tapi bahas yg menjadi korbannya. itu menurut saya lebih fair.