Sejenak Mengenang Rasulullah SAW (1)

Merenungi dan mengenang bagaimana Rasulullah SAW menghadapi segala tekanan hidup bangsa Arab dulu, sarat memberikan contoh untuk menjadikannya pedoman hidup para Pemimpin, rakyat biasa, hakim, pendakwah, dan semua lapisan masyarakat muslim dimana pun berada. Kisah-kisah yang disitir dalam hadist-hadist shahih dibawah ini, akan menunjukan kepada kita betapa agung dan mulianya manusia seperti beliau. Shalawat dan salam senantiasa kita curahkan disetiap hembusan nafas ini berdetak. Ketika kenangan yang terabadikan melalui hadist-hadist Nabi dibawah ini kita cerna, -sungguh- tentunya kita selalu berharap untuk selalu berada dikesucian tanah-Nya. Mendekap kerinduan yang terlanjur menyelimuti diri, yah kerinduan pada sosok manusia agung Rasulullah SAW. menjadi tamu dan kekasih Allah di Tanah Suci adalah obat penawar yang akan sedikit banyak menumpahkan rasa bersama kekasih Allah SWT.

Berikut beberapa kemuliaan Rasulullah SAW yang tersurat melalui hadist-hadist shahihnya.
Siti Aisyah Ra. Mengisahkan: “Suatu kali aku berjalan bersama Rasulullah SAW, beliau mengenakan kain najran yang tebal pinggirannya. Kebetulan beliau berpapasan dengan seorang Arab Badui, tiba-tiba si Arab badui tadi menarik dengan keras kain beliau itu, sehingga aku dapat melihat bekas tarikan itu pada leher beliau. Si Arab badui itu berkata: “Wahai Muhammad, berikanlah kepadaku sebagian yang kamu miliki dari harta Allah!” Beliau lantas menoleh kepadanya sambil tersenyum lalu mengabulkan permintaannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Abu Hurairah Ra. Menceritakan: “Suatu ketika, seorang Arab Badui buang air kecil di dalam masjid (tepatnya di sudut masjid). Orang-orang lantas berdiri untuk memukulinya. Namun Rasulullah SAW memerintahkan: “Biarkanlah dia, siramlah air kencingnya dengan seember atau segayung air. Sesungguhya kamu ditampilkan ke tengah-tengah umat manusia untuk memberi kemudahan bukan untuk membuat kesukaran.” (HR. Al-Bukhari).

Kesabaran Rasulullah SAW dalam menyebarkan dakwah layak menjadi motivasi bagi kita untuk meneladaninya. Kita wajib berjalan di atas metode beliau, di dalam berdakwah semata-mata karena Allah tanpa membela kepentingan pribadi. ‘Aisyah Ra. Pernah bertanya kepada Rasulullah SAW : “Apakah ada hari yang Engkau rasakan lebih berat daripada hari peperangan Uhud?” Beliau menjawab: “Aku telah mengalami berbagai peristiwa dari kaumku, yang paling berat kurasakan adalah pada hari ‘Aqabah, ketika aku menawarkan dakwah ini kepada Abdu Yalail bin Abdi Kalaal, namun dia tidak merespon keinginanku. Akupun kembali dengan wajah kecewa. Aku terus berjalan dan baru tersadar ketika telah sampai di Qornuts Tsa’alib (sebuah gunung di kota Makkah). Aku tengadahkan wajahku, kulihat segumpal awan tengah memayungiku. Aku perhatikan dengan saksama, ternyata Malaikat Jibril ada di sana. Lalu ia menyeruku: “Sesungguhnya Allah SWT telah mendengar ucapan kaum-mu dan bantahan mereka terhadapmu. Dan aku telah mengutus malaikat pengawal gunung kepadamu supaya kamu perintahkan ia sesuai kehendakmu. Kemudian malaikat pengawal gunung itu memberi salam kepadaku lalu berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah SWT telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka terhadapmu, dan aku adalah malaikat pengawal gunung, Allah SWT telah mengutusku kepadamu untuk melaksanakan apa yang kamu perintahkan kepadaku. Sekarang, apakah yang kamu kehendaki? Jika kamu menghendaki agar aku menimpakan kedua gunung ini atas mereka, niscaya aku lakukan!” Beliau menjawab: “Tidak, justru aku berharap semoga Allah SWT mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.” (Muttafaq ‘alaih)


Kategori


Komentari artikel ini: