Terlepas dari polemik tentang penyantuman kata Pahlawan Bangsa untuk Almarhum KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur), mantan Presiden RI ke-4 sekaligus mantan Ketua Dewan Syuro Nahdhatul Ulama, saya –secara subjektif- menilai bahwa beliau memiliki peranan besar guna menciptakan demokratis religius di Ranah Tercinta Indonesia, meski sesungguhnya terdapat kontroversi pada pemahaman dan arah pikirannya. Saya tidak ingin terjebak dengan memihak atau tidak, pro atau kontra tentang penyantuman Gus Dur sebagai pahlawan bangsa. Saya hanya ingin mengarisbawahi betapa penamaan “Pahlawan†ternyata begitu rumit dengan segala aksesoris birokrasi yang –tidak mustahil- akan menimbulkan perselisihan antara manusia yang pro dan kontra. Padahal saya sangat yakin, saat ini Gus Dur tidak memperdulikan penyantuman pahlawan bangsa atau tidak, sejatinya –secara attitude- perselisihan yang bergejolak itu diredam terlebih dahulu, lebih baik kita fokus untuk lebih memberikan support doa bagi almarhum dan keluarga yang ditinggal. Karena memang hanya itu yang dibutuhkan oleh almarhum di alam sana. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan adalah orang yang menonjol keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani, atau lebih di spesifikkan, pahlawan bangsa adalah warga Negara RI yang berjasa membela bangsa dan Negara, dan tidak ternoda dalam track-record hidupnya.
Jika bagi para politisi, birokrat, sejarawan dan ilmuwan bahwa penyantuman pahlawan pada seseorang terjadi ketika ia sudah wafat, tetapi bagi sudut pandang saya, “Pahlawan†tidak hanya bagi mereka yang sudah meninggalkan alam fana ini. Bahkan pandangan saya lebih mengarahkan bahwa sosok dan penamaan “Pahlawan†sangat relative. Saya teringat dengan sebuah novel karya Sidney Sheldon, ada seorang tokoh pemberontak mengatakan “Bagi pemerintah, kami adalah pemberontak, tetapi bagi rakyat kami adalah pahlawanâ€. Pun demikian para pejuang Hamas adalah sosok pahlawan bagi rakyat Palestina, tetapi sebagai pemberontak bagi Israel dan Amerika demikian seterusnya.
Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan-nya. Tetapi apa cukup mereka hanya menjadi sebuah “symbol†yang akan ramai dikunjungi saat “Ritual Penghormatan†disetiap 10 November di atas batu nisan (?) Justru –hemat saya- Bangsa ini akan besar ketika attitude dan action para Pahlawan dapat menyemangati segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak lantas dengan segala “kepentingan†berebut tuk mendapatkan empati sebagai pengusung “Pahlawanâ€, tetapi sikap dan jasa sosok yang diusung melebur usai itu.
Menurut pandangan saya, siapapun memiliki kans sebagai “Pahlawanâ€, tidak terkecuali mereka yang melakukan perjalanan haji menuju Baitullah. Selain menyempurnakan bangunan keislamannya, rangkaian doa mustajabnya kerap memberikan sentuhan Ilahiyyah guna kemakmuran bangsa. Karena tanpa elemen itu, Indonesia tak kan pernah mampu bertahan menuju suatu kenikmatan berbangsa dan bernegara. Terlebih bagi mereka yang gugur dalam “Kesucian†di Tanah-Nya. ia bukan hanya sebagai haji yang mabrur tetapi pahlawan dan duta Bangsa yang mengharumkan bangsa di atas nisan yang penuh dengan keberkahan.
So, bagi saya, jemaah haji pun selain sebagai Tamu Agung mereka merupakan “pahlawan†bagi Bangsa dan Agama.




