All About Syukur

Secercah Hikmah di penghujung Tahun

Dalam sebuah pertemuan reuni SMA beberapa bulan lalu, saya sengaja hadir bersama teman-teman yang sudah lama tak bersua. Kerinduan pada masa sekolah dulu mulai terobati dengan kehadiran mereka. Saling berbagi cerita dan pengalaman hidup membuat suasana semakin hidup. Tidak hanya itu, kami mengundang staff pengajar yang kebetulan saat ini telah menjadi Pimpinan sebuah Pesantren, tepat di sudut keramaian kota Bandung. Dialog dan sharing mengenai kehidupan masing-masing kita menjadi menu utama reuni saat itu. ditengah dialog hangat, teman saya –yang dulu terkenal pintar, aktif dan juga periang (bukan tipe pemalu)- mengangkat tangan dan minta waktu untuk sedikit “Curhat” akan pengalaman hidupnya. Tanpa rasa malu, Jajang –bukan nama asli- mengutarakan dengan lantang. “Pak, teman-teman, maaf sebelumnya, saya ingin bercerita, atau bisa dibilang curhat tentang rasa “syukur”. Lima tahun lalu, hingga beberapa bulan kemarin, terus terang saya menjadi seorang yang merasa kehidupan dunia ini datar-datar saja. Tidak ada yang istimewa dan layak disyukuri. Entahlah saya begitu menyesal atas apa yang saya miliki. Pekerjaan, kehidupan, kemampuan serta fisik yang saya miliki sepertinya tidak sesuai harapan. Saya selalu merasa menjadi orang yang serba kekurangan di dunia ini. Spontan, acara yang tadinya ramai, mendadak senyap mendengar “Curhatan” Jajang. Ia melanjutkan, bagaimana Pak, atau mungkin teman-teman bisa menjawab tentang makna syukur sesungguhnya, karena rasanya sulit untuk mengaplikasikan rasa syukur itu saat perasaan serba kurang ini saya rasakan.

Guru kami yang juga seorang ustadz, menghela nafas, mencoba memberikan sedikit pesan untuk Jajang –dan tentunya- untuk saya dan Anda tentang makna syukur yang sepatutnya dilakukan setiap orang. “Baik Jajang, Bapak mengerti apa yang kamu alami, tidak hanya Jajang, Bapak pun sendiri pernah mengalami dan mungkin banyak orang yang juga sama seperti Jajang, sekarang Bapak akan ambil secarik kertas putih kosong”, beliau pun merogok tas-nya dan ditunjukkan kepada Jajang dan kami yang seksama mendengarkan beliau. “Sekarang apa yang Jajang lihat dari kertas ini (?)”, “Saya tidak melihat apa-apa Pak, semuanya putih”, jawab Jajang sangat Lirih.

Lalu guru kami itu mengambil spidol hitam dan membuat satu titik ditengah kertasnya, kembali beliau bertanya, “Nah ..sekarang Bapak telah beri sebuah titik hitam diatas kertas ini, sekarang gambar apa yang kamu lihat (?), tanyanya sedikit tersenyum. “Saya melihat satu titik hitam”, jawabnya cepat. “Pastikan lagi Jajang, ada gambar apa saja dalam kertas ini”, timpal Guru kami. “Titik Hitam Pak”, Jawab Jajang dengan sangat yakin. Baiklah Jajang, sekarang Bapak tahu penyebab masalahmu. Kenapa kamu hanya melihat satu titik hitam saja dari kertas ini, cobalah rubah sudut pandangmu. Menurut Bapak, yang terlihat dari kertas ini bukan titik hitam, tapi tetap sebuah kertas putih yang ada satu noda didalamnya. bapak melihat lebih banyak warna putih dari kertas tersebut. Sedangkan Jajang, dan mungkin juga teman-teman lainnya, hanya melihat hitamnya saja dan itu pun hanya setitik. Jawab Guru kami dengan lantang.

Beliau melanjutkan, “Dalam hidup, bahagia atau tidaknya hidup kita tergantung pada sudut pandang kita memandang kehidupan itu sendiri. Pertanyaan Jajang barusan sebenarnya dapat dijadikan pelajaran juga buat kita, bahwa jika kita selalu melihat titik hitam tadi yang bisa diartikan kekecewaan, kekurangan dan keburukan dalam hidup, maka hal-hal itulah yang akan selalu hinggap dan menemani dalam keseharian kita.

Mari kita pahami, bukankah disekeliling kita penuh dengan warna putih, artinya begitu banyak anugrah yang telah Allah berikan kepada kita. Kita masih bisa melihat, mendengar, membaca, berjalan, fisik yang utuh. Juga buat Jajang, begitu banyak kebaikan dari pekerjaan Jajang, dilain sisi banyak orang yang antre dan menderita karena mencari pekerjaan. Begitu banyak orang yang lebih miskin, bahkan lebih kekurangan daripada kita. Kenapa kita selalu melihat sebuah titik hitam saja dalam hidup ini (?), ungkap guru kami yang begitu menyentuh bukan hanya pada Jajang, tapi pada semua rekan yang mendengarkan filosofi syukur tersebut.

Yah, pertemuan “klasik” yang juga pencerahan dari sosok guru tersayang itu begitu dalam merasuk dalam jiwa. Kita terkadang lupa, bahwa begitu banyak warna putih dalam hidup kita daripada sebuah titik hitam. Rasa syukur tiada henti mengiringi akhir perjempuan itu. Bisa hidup adalah suatu anugerah paling besar dari perekayasa Nan Agung, Allah SWT.

Mumpung belum terlambat, momentum perpindahan tahun ini, kita bersama meningkatkan rasa syukur yang tidak pernah usai atas segala karunia yang terlimpah. Hingga akhirnya, kita masih merasakan bahwa syukur adalah komando utama dalam setiap momentum akhir tahun.


Kategori


Komentari artikel ini: