Let’s Get Mabrur From Beginning

Setiap tujuan dari sebuah karya –tentunya- memiliki proses yang menghimpun setiap partikel itu menjadi keutuhan yang sempurna. Mulai dari tahap awal, proses aksi hingga follow-up dari suatu aktivitas product menjadi kesinambungan bak mata rantai. Jika satu saja mata terputus, maka rantai-rantai yang saling mengikat itu kan terputus bahkan tercerai-berai. Karenanya, dalam menjaga suatu tujuan mulia, sedini mungkin harus diperhatikan dengan seksama. Pun demikian dengan mengharapkan sebuah predikat Mabrur usai menjalankan haji, maka penanganan tuk menggapainya, harus dimulai jauh-jauh hari. Atau dalam kaidah fikih, kita sering mendengar ungkapan qabla, inda, dan ba’da (before, present dan after). Sebelum, sedang dan setelah. Sehingga cita-cita Mabrur menjadi pedoman awal tuk menggapainya, baik sebelum melaksanakan haji, saat melaksanakan haji dan setelah melaksanakan haji. Integritas karakter “mabrur” itulah yang berubah menjadi kesatuan tuk mewujudkan predikat Mabrur sesungguhnya dari Allah SWT. Pembentukan karakter haji tidak bisa diwujudkan dengan sangat instant saat di Tanah Suci, semuanya harus melalui proses mulai dari niatan awal menuju Baitullah tuk berhaji. Setelah itu, barulah menciptakan karakter baru menjadi sosok manusia yang terlahir kembali menuju aktivitas hidupnya di negeri sendiri. Dengan demikian, “predikat” Mabrur itu akan sangat terasa bukan hanya oleh pribadi-pribadinya, tetapi menjadi semacam penabur kemabruran bagi masyarakat luas.

Lalu, bagaimana cara mendapatkan mabrur sebelum dan setelah haji, yang –notabene- sering “Terlupakan” karena merasa tidak lagi berada di Tanah Suci. Atau merasa bahwa kemabruran kan tercipta setelah usai melaksanakan haji, tanpa ingin membentuk karakter “Mabrur” sedini mungkin. Dalam melakukan setiap hal kebaikan tentunya harus bermula dari hal-hal yang baik pula. Konsep “Tidak Fusuq”, “Tidak Jidal”, Dan “Tidak Rafast”, mustinya bisa diaplikasikan jauh hari sebelum berangkat haji. Dalam meraih Mabrur Qabla Hajj (Before Hajj), kita bisa menciptakan iklim “Mabrur” dengan menabur benih-benih kebajikan. Mempersiapkan perjalanan suci dengan proses suci dan mulia. Menghindari semaksimal mungkin hal-hal yang berpotensi menjadi kenegatifan diri, terutama dalam mengelola penyakit hati yang –kadang- sulit terbendung oleh sikap dan perbuatan kita. Mencoba untuk terus “Membanting stir” ketika rasa mulai terbayang kemunafikan. Menguatkan keyakinan bahwa niat suci harus terus mengarah pada pundi-pundi amal kebaikan sebelum terjalin ikatan rasa bersama Allah Azza wa Jalla.

Dalam konteks hukum positif, kita berusaha mengikuti peraturan birokrasi mengenai perjalanan haji, tidak ada unsur tipu atau curang dalam merangkai kemabruran. Sekecil apapun menjadi perhatian besar agar tujuan suci tidak terkotori oleh hal-hal yang merusak jalan “menuju surga”. Kecurangan atau apapun yang dilakukan untuk mendapatkan quota (porsi haji), merupakan langkah awal yang buruk tuk menggapai kemamburan haji. Ini berlaku tidak hanya bagi calon haji, tetapi semua unsur yang berhubungan dengan jemaah haji. Baik Depag, Travel-travel haji atau pihak lainnya. Dengan memuluskan kesucian itu, maka tahap awal menggapai kemabruran sudah sangat nyata dalam genggaman tamu Allah.

Kedua, yang sering terlupakan oleh kita dalam menciptakan kemabruran haji, adalah aktivitas diri usai menjalankan ibadah haji. Dalam kenyataannya, -memang- lebih sulit memelihara predikat mabrur dibanding proses mendapatkannya. Karena revolusi karakter terjadi saat kita kembali ke Tanah Air. Jiwa “Mabrur” menjadi suatu kekuatan untuk terus memperbaiki diri. Tarbiyyah atau pendidikan yang tercipta dari “ranah haji” sesungguhnya memiliki potensi besar untuk menjalani proses “Hijrah” seseorang. Seperti Firman Allah yang bertanya tentang “Apakah sama orang yang berilmu dan tidak (?)”. Bagi tamu Allah yang merasakan bagaimana dahsyat-nya ibadah haji, tidak sama dan –tentunya- lebih mengetahui tentang “filosofi alam ghaib” ketimbang orang yang belum pernah merasakannya. Pembelajaran tentang hakikat hidup telah mereka pelajari selama menunaikan ibadah haji.

So untuk mendapatkan kemamburan, mari bersama menciptakan “iklim Mabrur” sedini mungkin. Dimana dan kapan pun kita berada. Insya Allah


Kategori

Tag

Komentari artikel ini: