Be an Energy Giver not an Energy Absorber
Seperti banyak pepatah yang mengatakan, jika kita banyak bergaul dengan penjual parfum, maka –sedikit banyak- tubuh kita kan terasa wangi dan mengeluarkan aroma yang harum. Tapi entahlah, apakah karena energy positif yang mengalirinya atau karena seringnya kita “Bergaulâ€, hingga lambat laun mindset dan pandangan kita yang menyerap energy tukang parfum tersebut. Jelasnya –menurut saya- semuanya ada dalam diri kita, kemauan, keinginan dan kebutuhan untuk menyerap aroma wangi tersebut. karena bisa saja orang yang berada dalam lingkaran positif, atau yang selalu gaul dengan tukang parfum sekalipun, mulut dan badannya masih saja mengeluarkan bau tak sedap. Tidak percaya (?) Bukankah Abdullah bin Ubay (Bapak orang munafik) hidup berdampingan dengan pesona Islam (?), ia berada dalam dekapan cinta Rasulullah di Madinah Munawarah, tetapi ternyata harumnya hanya tampak dalam hal kasat saja, ia kerap mengeluarkan aroma tak sedap justru saat berada dalam mayoritas muslim taat. Akhirnya sah saja jika saya –bukan menolak- tetapi menambahkan pepatah diatas, bahwa dengan hati kita bisa tertular oleh energy positive dari si tukang parfum diatas. Saya bukan sedang meng-analogikan tukang parfum dengan Bapak dan guru yang saya ungkapkan pada artikel sebelumnya, tetapi saya lebih melihat bagaimana esensi dan motivasi menjadi orang seperti dia, meski untuk mencontohi hal sepele-nya saja, memerlukan pengorbanan yang kuat dalam diri. Tuk mendapat ide-ide kreatif yang cemerlang.
Pada kesempatan malam itu, beliau sedikit membahas tentang “Gelar†haji yang kerap melekat pada akhiran nama seseorang usai melaksanakan haji. Apa orang yang melakukan ibadah umrah mendapatkan gelar haji (?) Tanyanya, bukankah saat berada di Masjidil Haram, para askar dan orang Arab lainnya menyebut kita dengan sebutan “Hajjâ€, Yallah yaa Hajj…yallah yaa Hajj…, meski kita tidak sedang melakukan ibadah haji, atau berada diluar waktu haji. sambil menerawang, saya ingat jelas bahwa sesungguhnya sebuah gelar, terutama gelar spiritual seperti “Haji†justru memiliki potensi dahsyat yang akan melumat kemabruran haji. yah, seperti ungkapan beliau juga, bahwa kebusungan diri selalu muncul pada sikap riya untuk mendapat sanjungan “Gelar Haji†oleh manusia. Padahal gelar haji sesungguhnya diberikan langsung oleh Allah serta dibanggakan kepada seluruh malaikat. Karenanya, stay cool! Walau kita telah melaksanakan haji, arti kata, meneruskan roda hidup dengan penuh tanggungjawab, biasa saja, untuk eksis tidak perlu narsis kata iklan sebuah product.
Dalam melanjutkan kebiasaan kita setelah melaksanakan haji, tentunya pengenalan diri pada Tuhannya harus lebih kentara. Tidak dipusingkan oleh gelaran atau sanjungan manusia, ia harus lebih memberikan yang terbaik dalam aktivitasnya. Jika seorang pengusaha –meski tidak menampakkan “kehajiannyaâ€- ia harus menjadi pengusaha yang lebih ikhlas dan bertakwa. Jika seorang pedagang –meski tidak menampakkan “kehajiannyaâ€- ia harus menjadi pedagang sukses yang bertakwa. Bahkan sekalipun jika seseorang senang mendengarkan lagu-lagu rock atau mellow, sekelas “Kangen Band†misalnya, ia tak perlu merubah haluan untuk “Terpaksa†mendengar lagu-lagu nasyid bernuansa Islam. Karena meski mendengarkan lagu-lagu nasyid, tetapi hanya sebatas telinga, maka itu tak lebih baik ketimbang mendengarkan lagu Agnes Monica tetapi hati yang terus bergejolak memahami hakikat hidup. Dengan demikian, konsep suara nyaring dalam tong kosong dapat tergeser, ketika kita memahami semua yang terjadi langsung pada esensinya, tidak hanya terpatok pada kulit dan selimutnya. Cool man… Coz Allah tidak melihat pada suatu bentuk materi apapun dalam diri kita, tetapi jelas Allah SWT hanya melihat pada hati nurani manusia, yang terkadang orang selalu salah menafsirkan manusia hanya karena tidak berpenampilan “Muslim yang berjubah dan berkopiahâ€.
Dalam pertemuan itu, saya benar-benar merasa bahwa ide kreatif, ide solusi dan ide-ide baru lainnya tidak pernah ada habisnya. Beliau memberikan keyakinan pada saya dan juga Anda, bahwa dalam kehidupan ini kita harus menciptakan suatu energy giver not energy sucker, memberikan keyakinan bahwa melayani dengan ikhlas, berbagi dengan ikhlas dan berbuat dengan ikhlas akan berbuah yang luar biasa. dengan terus menabur benih kebaikan, benih kebenaran, benih buah yang manis, itu saja belum tentu semua benih akan tumbuh. Kadang tanahnya gersang, kadang tanahnya kurang air, kadang tanahnya kurang subur, namun jika terus menerus menabur, maka pasti ada bibit buah yang akan tumbuh, yakinlah pasti suatu saat kita akan panen. Demikian keyakinannya yang terus memberikan motivasi kita untuk terus berbuat baik.
Jadilah pemberi energy… Jadilah trendsetter yang mulia untuk terus menciptakan snow ball kebajikan! Go Cordova!
To be continued



