Berziarah ke kota Madinah sesungguhnya tidak termasuk dalam rangkaian ibadah haji, tetapi keutamaan kota yang diselimuti cahaya surga itu, tak kalah menarik dan afdhalnya dengan kemuliaan kota Makkah. Maka sejak awal kedatangan smartHAJJ di Kota Cahaya (Madinah Al-Munawwarah) itu, mereka menemukan sesuatu yang berbeda. Baik dari suhu dan iklimnya, maupun kehidupan penduduk asli Madinah yang begitu hangat menyambut setiap tamu yang datang. Kebaikan yang diterima tidak sekedar basa-basi semata, senyuman dan segala prilaku positif yang diberikan pada setiap jemaah haji –memang- adalah watak dan kebiasaan mereka. Intonasi katanya pun terdengar begitu lembut dan pelan. Ketenangan kerap dirasakan setiap kita berada di Masjid yang mendapatkan garansi pahala seribu kali lipat jika beribadah didalamnya. Ada pula perbedaan yang mencolok antara Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, jika di sekitar Masjidil Haram menjulang tinggi menara-menara hotel melebihi tingginya masjid, maka di Nabawi, pemandangan itu tak kan pernah tampak. Karena ketinggian hotel dan menara sekitar Masjid Nabawi tidak boleh melebihi tingginya menara Masjid Nabawi. So, ketinggian bangunan itu lebih merata. Dengan tinggi yang sama-sama tidak melebihi batas yang diperbolehkan. Entah apakah karena Khadimul Kharamian (Pelayan dua tanah suci/kerajaan Saudia) memiliki itikad untuk menghormati rumah sekaligus makam nabi yang persis berada disamping depan Masjid Nabawi.
Hari ini Jum’at, 4 Desember 2009, smartHAJJ melaksanakan sholat jum’at, sekaligus sholat dan ibadah terakhir di Masjid Nabawi. Karena usai Jum’at, mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Jeddah hingga kembali ke Tanah Air. Kesempatan ini, tentunya menjadi sangat berharga untuk menumpah-ruahkan airmata yang sempat tersekat oleh ruang kerinduan pada Rasul Mulia, rindu yang memuncak seolah tertahan oleh “magma†ruang hati yang kian hari-kian meletup, terlebih saat mengingat perjuangan dan kecintaannya pada kita. Sholat Jum’at yang berharga, menjadi penutup rangkaian suci diantara dua masjid suci.
Rasul nan agung, kami pamit bukan berarti tak kembali, Izinkan kami Yaa Rabb tuk kembali ke tanah Haram-Mu, menggapai kerinduan pada kekasih-Mu, izinkan kami tuk selalu ada di samping rasul-Mu, dan tempatkan kami bersama Rasulullah di Jannah-Mu kelak.
Tiada yang lebih menderita ketika ditinggal atau meninggalkan kekasih hati. Kaki yang melangkah bukan hanya berat meninggalkan Rasulullah, tetapi lebih terasa kaku dan bergetar, khawatir tak bisa kembali ke tempat agung nan mulia ini. Taman surga yang tercipta di dunia, serta ribuan keindahan rasa lainnya.
Semoga segala amal yang tercipta smartHAJJ di Kota Nabi ini menjadikan rasa rindu pada Rasul kian menggebu. Karena sesuatu yang dirindu, sesungguhnya ia kan merindukan jua pada orang yang merindu. Seperti halnya Ka’bah Al-Syarif, ia kan merindu pada jiwa yang merindukan melihat ka’bah. Terlebih Rasulullah SAW, beliau adalah panutan sekaligus manusia mulia yang mencintai umatnya.
Semoga ibadah terakhir di masjid suci ini, bukan terakhir tuk selamanya. Last But Not The End…




