Bukan Tuk Takabur, Just Berharap Mabrur

Kurang dari 48 jam, smartHAJJ Cordova akan segera kembali pada the real life, kehidupan baru sebagai haji dan hajjah. Bukan gelar yang bersarang pada akhir padanan kata nama, tetapi jauh lebih dahsyat sebagai pribadi-pribadi mulia yang menerima kunci surga dengan kemabrurannya. Yah harapan besar sebagai haji mabrur bukan hanya milik smartHAJJ yang melakoni segala rangkaian ibadah haji. Tetapi semua harapan itu muncul dari setiap benak muslim bangsa Indonesia. Karena terciptanya suatu kesejahteraan dan kemakmuran bangsa dimulai dari setiap individu, keluarga, lingkungan sekitar dan meluas menjadi kemabruran yang kolektif. Awal jejak baru akan dimulai kala smartHAJJ kembali menginjakkan kakinya saat landing di Bandara Soekarno Hatta, Ahad siang, 6 Desember 2009. Perjalanan suci yang dilakoni dua pekan lebih menjadikan semacam “tarbiyyatun-nafsi”, pendidikan ruhani yang begitu besar. Segala kerikil bahkan pungkahan batu besar yang menghalang saat ibadah haji menjadikan pengalaman berharga bagi sisa hidup kita di dunia fana ini. Sebaliknya, perlu kita waspadai sedini mungkin segala celah negatif dalam diri usai menjalankan ibadah haji. karena Saat-saat seperti inilah para panglima Iblis menggencarkan serangannya untuk merampas “kunci surga”, yang kini digenggam para haji. Mereka (para durjana) tidak akan pernah menyerah untuk merebut segala yang telah kita dapatkan di Tanah Suci (berupa ampunan dan jaminan surga-Nya).

Derap langkah para jemaah usai “Berjihad”, nampaknya mustahil jika awal kedatangan di Tanah Air langsung melakukan hal-hal negatif dengan mengumpul kembali pundi-pundi dosa. Tetapi yang harus kita wanti-wanti adalah bagaimana strategi busuk iblis untuk menjerumuskan kita dengan sangat halus. Propaganda yang super dahsyat itu bahkan sulit terdeteksi dengan kemampuan alam sadar. Terkadang, saat seperti ini, para durjana itu menyelinap pada aliran darah menuju ulu hati tuk menggerakkan rasa “lebih” dan “tinggi” diantara manusia lainnya. Rasa takabur karena sudah mendapat gelar haji, mungkin tak terucap, tetapi terus mengikuti hati dan pikiran kita kemana-mana. Itulah celah yang terus dibuntuti musuh nyata kita untuk merebut kemamburan berikut kunci surganya.

Berbangga menjadi tamu Allah dan berkesempatan melaksanakan ibadah haji, tentunya adalah perasaan manusiawi. Tetapi kebanggaan itu jangan terputus dan lepas begitu saja, kita –nampaknya- musti melanjutkan rasa bangga itu dengan rasa syukur yang mendalam. Syukur tiada henti karena telah menghadiri undangan Allah SWT, syukur tiada tara karena telah menyelesaikan rukun Islam terakhir tanpa gangguan kesehatan yang serius. Syukur tiada usai karena kembali bertemu dengan keluarga tercinta. Segala syukur sejatinya sama-sama kita panjatkan untuk para tamu Allah yang mulia. Syukur tanpa batas.

Wajar tentunya, kita yang berada di Tanah Air berharap menunggu keberkahan para “Manusia Suci” yang telah menjalani rangkaian suci di Tanah Haram. Segala kebaikan yang terpijak menjadi jejak yang patut tuk diikuti. Semoga menjadi pribadi-pribadi haji yang mabrur, jauh dari sifat takabur, tuk menggapai Indonesia Makmur.


Kategori


Komentari artikel ini: