Dalam hadis sahih dinyatakan, ”Al-Hajju ‘Arafah” (haji adalah Arafah). Menurut para ahli fikih, hadis ini berarti wukuf di Arafah merupakan rukun haji yang paling utama (Mu’zhamu arkan al-hajj al-wuquf bi Arafah). Sebagai rukun utama, maka wukuf pada 8 Dzulhijjah di Padang Arafah menentukan keabsahan ibadah haji. Ini berarti, tiada ibadah haji tanpa wukuf di Arafah. Namun, kaum sufi memahami hadis di atas dalam pengertian yang agak berbeda. Menurut mereka, hadis itu berarti bahwa ibadah haji harus membuahkan ma’rifatullah, yaitu mengenal Allah dalam arti yang sebenar-benarnya. Dalam perspektif ini, haji identik dengan perjalaan untuk mencapai ma’rifatullah itu sendiri. Tanpa ma’rifatullah, maka ibadah haji menurut mereka telah turun derajatnya menjadi ritual tanpa makna. Ma’rifatullah adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Dalam upaya mencapai ma’rifatullah ini, manusia terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, golongan awam, yaitu mereka yang mengenal Allah secara lisan melalui pengucapan dua kalimat syahadat. Kedua, golongan intelektual atau kaum cerdik pandai, yaitu mereka yang mengenal Allah melalui pembuktian rasional. Ketiga, kaum sufi, yaitu mereka yang mengenal Allah melalui penyingkapan tabir penghalang (kasyaf).
Inilah pengetahuan yang dinamakan ma’rifah. Kata Arafah memang memiliki akar kata yang sama dengan ma’rifah, yang secara bahasa berarti tahu atau kenal. Makrifat (ma’rifah), menurut ahli tafsir al-Qusyairi, berarti seorang mengenal Allah dalam arti yang sebenar-benarnya. Makrifat dipandang sebagai pangkal agama sekaligus pangkal kebahagiaan. Menurut Qusyairi, makrifat dapat dicapai melalui beberapa usaha berikut ini. Pertama, menyucikan diri dan meningkatkan moral atau akhlak. Kedua, memperkuat komunikasi dengan Allah melalui zikir dan munajat kepada-Nya.
Ketiga, mengosongkan hati dan pikiran dari selain Allah dan memusatkan diri hanya kepada-Nya. Keempat, meleburkan diri ke dalam realitas mutlak, sehingga kesadaran diri hilang dan berganti kesadaran ketuhanan. Pada tingkat ini, seorang dikatakan telah mencapai makrifat. Orang yang mencapai makrifat dinamai orang arif. Orang arif adalah orang yang hanya melihat Allah di balik segala yang ada. Ia bahkan tidak dapat melihat dirinya sendiri tanpa dikaitkan dengan eksistensi Tuhan.
Ia selalu dalam keadaan riang dan gembira, sehingga ia dapat tersenyum dalam segala situasi dan keadaan. Baginya sama saja emas maupun batu, kesenangan maupun kesengsaraan, pujian maupun cercaan. Dari orang arif hanya lahir kebenaran dan kebaikan. Dikatakan, orang arif adalah man yunhidhuka qawluhu wa fi’luhu (orang yang kata-kata dan perbuatannya mampu membangkitkan semangatmu menggapai kebaikan). Ibadah haji, seperti diharapkan Nabi dalam hadis di atas, harus membuahkan makrifat, sehingga para jamaah haji kembali ke kampung halaman dengan membawa dua gelar sekaligus: gelar haji dan gelar arif billah.




