Get Mabrur (Two)

Ada dua syarat penting yang sering terlupakan oleh calon jemaah haji saat kaki menginjak tanah suci. Syarat yang terlahir dari sebuah harapan pahala hajinya diterima itu, adalah sebuah pintu menuju kemabruran haji. Diantara syarat tersebut adalah:

1. Ikhlas, semua ritual yang dilakukan harus ikhlas karena Allah SWT. Bukan karena ingin mencari popularitas atau gelar yang disandang masyarakat sebagai “Pak Haji” atau “Bu Haji”. Jika niat awal sudah berharap sanjungan dari manusia dengan gelaran tersebut, maka sia-sia sudah amalan dan pengorbanan kita selama di tanah suci. Sebagaimana komentar Umar bin Khattab ra. Melihat kuantitas masyarakat muslim yang besar saat berhaji, tetapi minim kualitas “Sesungguhnya yang berhaji sangatlah sedikit, tetapi yang banyak hanyalah pelancong.”
2. Ditunaikan sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Karena suatu ibadah jika dikerjakan tidak sesuai dengan contoh Rasul atau menambah-nambahkan tanpa didasari tuntunan Rasul sesuai hadist-hadits shahih, maka bisa dikategorikan ibadah itu sebagai sesuatu yang tertolak. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Khudzuu ‘annii manaasikakum” (Ambillah dariku tatacara ibadah hajimu).

Karenanya, ilmu mengenai tatacara (manasik) haji sangat penting untuk diketahui. Berikut sepintas bahasan mengenai manasik haji yang simpel dan mudah dipelajari.

A. Jenis Haji

- Tamattu

Haji tamattu lebih sederhana diartikan sebagai haji yang relatif mudah dikerjakan oleh jemaah haji, terutama jemaah yang berasal dari Indonesia. Karena jemaah hanya mengenakan kain ihram saat melaksanakan ibadah umrah ketiba tiba di batasan tanah Haram. Biasanya yang mengerjakan haji Tamattu terbagi pada dua kelompok. Pertama, mereka yang langsung menuju kota Mekkah. Kedua, kelompok yang menuju Madinah. Bagi mereka yang berangkat dan akan langsung menetap di Makkah, sambil menunggu saat haji (hari tarwiyyah) tiba, dianjurkan menggunakan kain ihrom di atas (atau sebelum naik pesawat). Karena Ketika akan melalui Miqot, biasanya awak pesawat memberi tahu, bahwa beberapa menit lagi mereka akan melewati Miqot dan bersiap dengan niat umroh dengan menjauhi segala larangan ihrom. Kelompok kedua, adalah jemaah yang akan bertolak ke Madinah setelah sampai di bandara Jeddah. Mereka tidak perlu menggunakan pakaian ihrom, karena akan memulai ritual umroh (menggunakan kain ihrom) setelah mereka akan menuju Makkah dari Madinah. Miqot Makani, atau batasan tempat bagi jemaah yang dari Madinah. Namanya adalah Dhu’l Hulaifah atau lebih dikenal dengan Bir Ali.

Ringkasnya, haji Tamattu adalah melaksanakan umroh, haji dan terkena kewajiban kurban (hadyu). Haji ini adalah jenis yang lebih afdol dikerjakan.

- Ifrad

Haji Ifrad sebenarnya lebih sulit bagi jemaah Indonesia khususnya yang tak terbiasa menggunakan kain ihrom. Jemaah menggunakan kain ihrom hanya untuk berhaji. Setelah tiba di Makkah, mereka harus segera melakukan thowaf dan sya’i untuk haji. Mereka juga tidak perlu tahalul, atau mencukur rambut selama tidak melepaskan kain ihramnya. Jemaah akan terus menggunakan kain ihram sampai tiba hari raya Iedul Adha, atau setelah pelemparan batu di jamrah Aqobah.

- Qiran

Pada dasarnya, kewajiban mereka yang melakukan haji dengan jenis Qiran adalah sama dengan apa yang diharuskan dengan haji Ifrad. Hanya saja bagi jemaah Qiran ada kewajian melakukan qurban, sedang haji Ifrad tidak dikenakan kewajiban tersebut.

(To be continued)


Kategori

Tag

Komentari artikel ini: