Setiap jelang hari raya Iedul Fitri, ada satu dari ragam rasa yang mencuat pada sebuah kesedihan diantara senyum menggapai kemenangan fitri. Diantara lipatan bahagia serta hangatnya kondisi keluarga saat lebaran, ada sosok yang hilang dari satu kebiasaan. Ada semacam kekuatan yang setengah pincang dari aktivitas keseharian. Sosok-sosok setia yang telah menjadi bagian dari keluarga besar itu, harus selalu meninggalkan justru saat momentum kebahagian terpancar dalam kehangatan hari raya. Mereka bukan orang kecil yang kadang terkucilkan oleh sebagian orang. Mereka justru orang-orang yang handal dalam melakukan pekerjaan harian. Totalitas serta loyalitas setiap tugas yang diemban kerap mereka tunjukan pada sang majikan. Sebagai makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain untuk bisa eksis, mereka adalah para pekerja dengan tingkat kesetiaan yang tinggi, kesederhanaan dan ke-uletan yang tak kenal lelah. Kini, hampir dipastikan para “Mbok†akan meninggalkan sementara pekerjaannya. Bertemu dengan orangtua di desa, berbagi rasa dengan sanak keluarga. kini, barulah kita tahu bahwa betapa besar peranan si’Mbok’ disetiap gerak keseharian hidup kita.
Ada ribuan, bahkan jutaan “Mbok†di Indonesia. Bekerja dengan segenap hati. Sebagian dari mereka rela bekerja hanya dibayar dengan menitipkan perutnya agar bisa makan dan tempat untuk berteduh. Tapi terkadang jasanya terbiaskan hanya karena dia melakukan kesalahan dalam bekerja. Biasanya kita selalu menganggap penting seseorang, manakala ia pergi dan meninggalkan keheningan dengan tugas yang menumpuk. Kehadiran si “Mbok†dalam tataran sosial ibarat udara, ia tidak terlihat tapi bisa dirasakan dan tentunya sangat penting. Si “Mbok†dalam kehidupan masyarakat Indonesia sesungguhnya memiliki peran sosial yang penting, namun strata kelas menghambat publikasi gerak sosial para “Mbokâ€. Para “Mbok†memiliki kekuatan dan pengaruh sosial yang dahsyat dalam sejarah kehidupan bangsa Indonesia. Bisa dilihat dari pemberian nama pada komunitas si “Mbok†itu dari sejak jaman dulu. Mulai dari pembantu, bedinde, babu, batur, jongos, dll. Budaya lokal yang paling banyak menggunakan jasa dan tenaga si “Mbok†adalah budaya jawa.
Si “Mbok†dalam makna Jawa juga memiliki hak untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik dengan mobilitas sosial mereka ke strata kelas yang lebih terhormat. Tanggung jawab ini secara moral berada di pundak sang majikan. Terlepas dari itu, kekuatan dari jasa dan tenaga si “Mbok†ini sangat diperlukan setiap majikan. Hubungan yang awalnya hanya tergambar dari ikatan atasan dan bawahan, lebih meruncing pada bangunan kekeluargaan yang sulit dipisahkan. Seolah rekat untuk bisa saling membutuhkan. Selamat jalan “Mbok†semoga mudik kali ini menjadi mudik berkah sampai tiba desa, bertemu keluarga tercinta. Tanpa si “Mbok†kita merasa kehilangan separuh tenaga dalam aktivitas rumah.




