Agama bukan sekedar lagenda, atau dongeng belaka. Ia bukan sebuah cerita yang hanya menampilkan sisi kehidupan orang-orang terdahulu, shaleh atau tidak, surga atau neraka. Ia juga bukan kendaraan untuk melakukan sebuah kehancuran. Agama adalah jalan hidup, sebuah idealis yang tertanam dalam jiwa, mesin pengontrol diri dan jembatan menuju final destination di alam fana. Tanpa agama, setiap diri bebas melakukan apa yang dikhendaki. Baik maupun buruk, suka atau pun tidak, merugikan orang atau tidak, juga tak ada batasan nafsu, laiknya kehidupan binatang yang tak terkendali oleh sekatan moralisme. Islam adalah agama samawi yang paripurna. Meliputi segala gerak hidup manusia dan alam semesta. Mengajarkan sesuatu dengan sangat detail, bukan merugikan orang, bahkan sebaliknya memberikan rahmat untuk semua yang ada di langit dan bumi. Sebagai jalan hidup, Islam memberikan rambu-rambu yang sangat jelas bagi para ‘penjelajahnya’, rambu-rambu yang tak pernah usang dimakan waktu itu adalah Al-Quran dan Hadist. Karenanya, jangan pernah terpikir, Islam hanya relevan bagi orang-orang terdahulu.
Meski Al-Quran turun belasan abad silam, tetapi ke-otentikan-nya masih dan akan terus terjaga hingga akhir masa. Sejarah Islam bukanlah lagenda yang banyak ditemukan dalam dongeng-dongeng mistik. Ia menjadi sebuah jalur menuju asal dimana kita hidup. Pun demikian sejarah rambu petunjuk jalan itu (Al-Quran), memberikan suatu pelajaran yang sangat berharga bagi umatnya. Bagaimana skenario Maha Sempurna yang menurunkan wahyu pertama pada Muhammad SAW, yang secara manusiawi tidak bisa membaca. “Iqra!†(Bacalah!) “Maa ana Bi qaariin†(saya tidak bisa membaca), “Bacalah, atas nama Tuhanmu yang telah menciptakanmu… (QS. Al-Alaq 1-5). Sebuah persitiwa besar di awal penurunan wahyu itu mengandung “track†yang sangat jelas bagi umat yang berakal. Pertama, makna “Iqra†diatas bisa dikategorikan “melihat†dan “Berpikir†pada semua ciptaan Allah SWT. Merenungi bagaimana hewan-hewan tercipta, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana gunung-gunung ditegakkan, dan bagaimana bumi dihamparkan. Bacalah! Renungilah! Karunia Allah mana lagi yang akan kita dustakan.
Kedua, makna “Iqra†diatas bisa mengandung pembelajaran bagi orang-orang yang pintar, mahir dan cerdas untuk melek terhadap sebuah kebenaran. Ada sebuah skenario dahsyat kenapa Allah SWT menurunkan wahyu-Nya pada seorang hamba yang ‘ummi (tidak bisa membaca). Ini semua untuk “cambukkanâ€, bagi mereka yang mampu membaca untuk mudah melakukan perintah Ilahiyyah. Ketiga, kenapa Allah menurunkan wahyu pada sosok mulia yang ‘ummi, semuanya guna menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah karena tuntunan dan sentuhan Sang Maha Pencipta. Tidak dari hawa nafsu dan emosional kemanusiaan seorang Nabi dan Rasul.
Islam bukan hanya sebuah lagenda, Islam menjamin pada sebuah pembelajaran dari kombinasi antara kehidupan dulu, kini dan masa yang akan datang. Konsep futuristik dalam agama Islam sudah sangat detail terbungkus dalam Maha Karya nan Sempurna. Just do it for Islam!




