Mencari Tuhan Dalam Keindahan

“Inna-Allaha Jamilun, wa Yuhibbul Jamaala”, Sesungguhnya Allah itu indah, dan cinta pada sesuatu yang indah. Fitrah manusia sesungguhnya mencintai sesuatu yang bersifat keindahan. Siapapun orangnya, akan mendamba suatu hal yang terindah. Kita akan menemukan segala nuansa keindahan dari semua aspek yang ada di jagad raya. Ekosistem yang berjalan indah, tata surya yang berputar seimbang, dan semua sistem yang mengalir dalam diri manusia, merupakan sesuatu yang teramat indah untuk disyukuri. Pun demikian dalam “Menemukan” Tuhan, kita akan mengarungi samudra yang penuh dengan keindahan dan kedamaian. Bukan kehancuran dan ke bar-baran yang tercermin dalam esensi agama Allah (Al-Islam). Naik menuju tangga kesempurnaan Islam, bak menelusuri sebuah taman bunga yang penuh dengan pesona keindahan. Islam mengajarkan umatnya untuk melakukan sesuatu dengan cara dan konsep dakwah yang indah. Bagi siapapun yang sedang “Mencari” menuju keindahan Tuhan, mereka memiliki hak tuk mendapatkan sesuatu yang bersifat indah dan damai. Thariqatu ad-Dakwah (konsep dakwah) yang dimiliki Islam, sejatinya harus memberikan rasa indah dan damai bagi para ‘Pencari Tuhan’.

Memberikan suatu ‘petuah’ dengan bijaksana dan menghindari keresahan para ‘Pencari Tuhan’ adalah hal yang sepatutnya menjadi kharakter dakwah Islam. Tidak mudah mengatakan kebencian atau keresahan yang telah resah dari jiwa mereka. Justru sebaliknya, mereka ‘Para Pencari Tuhan’ lebih menerima ungkapan dan pesan kedamaian yang mereka dengar, lihat dan rasakan. Dalam keindahan lah mereka menemukan cahaya Islam sebagai pemberi rahmat bagi alam semesta. Kepongahan, keganasan, kecarut marutan, kesombongan dan kebencian akan menjadi senjata boomerang bagi dakwah Islam nan indah. Menolak dari dakwah yang teralur dari pesan yang ‘garang’ adalah konsekwensi bagi penyalur dakwah yang sporadis dari nilai-nilai kelembutan dan kedamaian. Bak seekor kambing yang baru tumbuh tanduk di kepalanya, ia senantiasa gatal untuk menanduk apapun yang menghalangi jalur langkahnya.

Berbeda dengan keindahan dan kedamaian Rasulullah dalam menyampaikan pesan-pesan Ilahiyyah yang begitu menggugah. Langsung menyentuh kedalam nurani tanpa sedikipun menyakitkan. Kedamaian yang terhembus dalam lajur dakwah kerap diterima oleh mereka yang –baru- mengenal cahaya Islam. Tidak sebaliknya mencari keindahan Tuhan dalam bentuk kekerasan. Islam tidak berkembang menggunakan pedang dan parang, Islam melejit karena kedamaian nilai yang terusung, keindahan sistem yang tersusun, dan kearifan messenger dalam menyampaikannya.

So’, kita akan menemukan berbagai keindahan menuju Ma’rifatullah (pengenalan pada Tuhan). Kehancuran, kekerasan dan ragam kenistaan sesungguhnya bukan bentuk dari risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Tetapi Islam memiliki kekuatan untuk bertahan dan bertempur mana kala kehormatannya terinjak-injak.


Kategori

Tag

Komentari artikel ini: