Makkah Al-Mukarramah pada awal Rasul SAW menghirup udara, adalah sebuah lembah yang penuh dengan nista. Ruas waktu yang berjalan sangat lamban dan seolah gersang akan seorang ‘Oase’ yang memberikan warna hidup umat manusia kala itu. ketika Muhammad bin Abdullah secara “resmi†mendapat titah dari Dzat Maha Kuasa untuk menjadi seorang khalifah, Nabi sekaligus Rasul Allah SWT. beliau seolah mendapatkan sesuatu yang sangat menakutkan. Sehingga mengalami demam yang sangat, “Selimuti aku, selimuti akuâ€, sabdanya pada istri tercinta, Siti Khadijah. Pun ketika Beliau mulai menampakkan keeksisan-nya sebagai Rasulullah, berdakwah secara sembunyi dan terang, bumi Mekkah turut mengeja duka yang dirasa Rasul atas kebengisan kaum Quraisy. Seperti hari itu, ketika Rasul sedang sholat di sekitar Ka’bah. Sementara Abu Jahal bersama kawan-kawannya memandangi beliau. Mereka saling berseloroh, “Siapa yang berani mengambil kotoran unta, dan menimbunnya ke atas pundak Muhammad ketika sujud?â€, lalu pergilah seorang dari merekamengambil kotoran unta, dan menimbunkan pada punggung Rasul ketika sujud. Mereka hanya menyaksikan dan tertawa terpingkal-pingkal.
Rasulullah terus sujud. Sementara orang-orang kafir hanya terbahak atas kejadian itu. rasulullah tidak beranjak dari sujud, sampai Fatimah, putrinya datang membersihkan kotoran itu. rasulullah segera bangkit dan meneruskan sholatnya. Di waktu lain, ketika Rasulullah berjalan diantara lorong kota Mekkah, tiba-tiba datang orang-orang Quraisy menguyurkan lumpur ke atas kepalanya. Rasul pun bergegas pulang. Setiba dirumahnya, Fatimah menangis melihat apa yang dialami ayahnya. Ia lantas membersihkan lumpur itu. Rasul menghibur putrinya, ‘Wahai anakku, janganlah engkau menangis, sesungguhnya Allah melindungi ayahmu’.
Kisah di atas sebenarnya bukan sekedar hikayat Rasulullah yang mulia. Lebih dari itu, hal ini juga adalah sebuah sikap. Bahkan sebuah deklarasi yang menjelaskan kepada kita, bahwa perjuangan dalam konteks apapun akan selalu berat. Saat Islam pertama diturunkan, ia menjadi track perjuangan, laiknya para Rasul yang harus berjuang menyampaikan wahyu. Sebagian dari mereka terbunuh, sebagian besar lainnya dilecehkan, dianiyaya, disiksa, di usir, di hina dan di fitnah. Agama ini memang tidak akan pernah tegak dalam sekejap, dan berdiri dengan harga murah.
Berjuta-juta jiwa gugur dan tertanam di bumi. Berjuta-juta nyawa pulang kehadapan Allah. Berjuta-juta tubuh bergelimang darah dan air mata. Berjuta jiwa tercekam, terusir, terasing, terpinggirkan, bahkan terlindas arogansi orang-orang dzalim. Dengan jelas Allah berfirman, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu (?) Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Kapankah datangnya pertolongan Allah (?)†Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (QS. AI-Baqarah: 214).
Di sisi lain, Rasulullah juga harus berjuang di jalur kehidupannya yang wajar sebagai manusia di dunia. Menambal bajunya sendiri, mencari nafkah untuk keluarganya, dan membantu istrinya di rumah. Rasulullah tidak saja tegar di medan da’wah, tapi juga tegar dalam mencintai umatnya, sahabat-sahabatnya, anak-anak dan juga istrinya. Maka, ketika istri-istrinya pada suatu hari meminta kenaikan nafkah, Rasulullah pun sedih dan harus berjuang menyelesaikan urusan duniawi tersebut. Berjuang meluluhkan hati para istrinya. Hingga akhimya mereka ridha dengan apa yang telah diberikan Rasulullah.
Itu menunjukkan sisi lain dari sebuah perjuangan. Bahwa hidup di dunia ini juga dilahirkan di atas rel perjuangan. Perjuangan untuk hidup. Perjuangan untuk memenuhi hak-hak orang lain. Dan perjuangan mempertahankan eksistensi keluarga. Perjuangan tidak mengenal batas. Apa saja yang kita berikan untuk kebaikan adalah berjuang. Perjuangan adalah nafas dan naluri kehidupan setiap hari. Kita memang harus berjuang, karena di sanalah habibat kemanusiaan dan kemusliman kita. Karena di sanalah tempat kita menabung, untuk dipanen anak cucu kita sebagai amal jariyah, atau kita panen sendiri di akhirat kelak sebagai amal kebaikan.
Namun jika perjuangan itu tidak dilandasi oleh hati yang ikhlas, dan mental yang membaja, bisa jadi perjuangan itu hanya menjadi “penutup†rasa malu akan sebuah tanggungjawab yang terpikul. Asal kerja, asal Bapak senang, dan asal hidup aman menjadi rekayasa perjuangan yang kian membias. So’ mari kita libatkan hati dalam setiap track perjuangan. Karena medan juang masih terlalu panjang!




