Black Campaign

Saat Kampanye PilPres apapun negaranya di seluruh penjuru dunia, adalah ajang Kompetisi unjuk kebaikan, start dari slogan bernada baik, peduli rakyat kecil, hingga kebijakan ekonomi mulai ditebar dalam bentuk janji-janji. Bahkan keinginan ‘memperbaiki negara’ ditempuh meski kadang harus black campaign terhadap kompetitornya. Pihak A menghantam ideologinya, yang lain memperburuk citra pasangan lawannya, bahkan tak jarang semboyannya bernada mengungguli satu sama lain. Catatan sejarah bahkan ada presiden yang terbukti melakukan kejahatan politik yang di beberapa bangsa dibolehkan atau lebih tepatnya dibiarkan. Begitu juga dengan kompetisi lainnya, apapun arenanya. Tingkat RT, RW, Lurah, Camat, Walikota, atau Gubernur, tiga uang setalinya. Ada yang paling ironis saat pemilihan Ketua DKM di salah satu perumahan baru. Karena khawatir tidak tertampung aspirasinya, mulailah membuat black campaign, “Jangan pilih si Pulan, ga bisa maulidan kita nanti, shalawat sama tahlilan bisa dihabisi”. Maka munculah kebencian yang diinginkan iblis sejak awal ketentraman ada. Sudah bisa diduga, yang tadinya bisa berjamaah tanpa ada prasangka, berujung tarik-tarikan karena beda kepentingan. Dan bisa dipastikan memakan korban dikalangan jamaah yang tanpa dosa alias tidak tahu apa-apa.

Inilah yang namanya kompetisi untuk mendapatkan keduniaan, berbeda dengan kompetisi ukhrowi, nihil korban, karena dalam persaingan paling sehat ini, semua orang akan tumbuh kecintaan yang datang dari Allah Azza wa Jalla. Karena lombanya menuju surga, yang ukurannya hanyalah takwa. Ketika kompetitor kita lebih rajin sholatnya, kita tidak marah, saat ada yang melewati tingkat ibadah, kita malu dan terpacu, malah. Tatkala ada yang melampaui ukuran sedekah kita, hati sangat sedih, kenapa kita tidak berinfaq lebih banyak. Waktu orang lain rajin shaum sunnah, dalam hati kecil kita sering bangga dan kagum.

Maka Maha Benarlah Allah dengan segala firman-Nya. Dalam Surat Al-Hud QS 11 ayat ke 15-16: Jika ingin mencari dunia saja, maka Allah akan mencukupinya, tidak akan sedikitpun dikurangi. Tetapi di akherat, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Alias nothing. Karena segala sesuatunya dinilai dari materi belaka.

Ketika masuk dalam arena lomba yang bertajuk fastabikul khairat (berlomba dalam kebaikan), maka bisa dipastikan ada sebagian yang berhasil muncul sebagai pemenang dan ada yang gagal. Hebatnya di kompetisi akhirat ini, yang gagal pun akan tetap dinilai baik. Karena semua berada di posisi perbaikan menuju kepada kebaikan. RasuluLlah SAW dalam tutur manisnya: Innama a’malu bil khowatim, Sesungguhnya amal itu tergantung bagaimana akhirnya. Maka, mati dalam keadaan Husnul Khotimah menjadi mudah, karena kuncinya pada akhir amalan tadi, ketika kita mati dalam keadaan menuju kepada kebaikan, maka Insya Allah surga bagi kita, karena pergerakan hati, lisan dan fikiran kita sedang dalam perjalanan kebaikan yang didasarkan pada pijakan takwa.

One Response to “Black Campaign”

  1. andhika Says:

    Mudah2an kita menjadi golongan orang2 yg mau meningkatkan nilai2 ibadah kepada Allah SWT, amin hingga layak menerima label badah kita yg ihlas sang pencipta Alam semesta dan isinya. hingga akhir hayat yg husnul khotimah ..Amin


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>