Masa libur sering menjadi inspirasi keluarga untuk mengisi waktu luang. Pergi tamasya, atau ziarah ke berbagai tempat yang dirasa memberikan sejuta kenangan indah. Tidak hanya itu, objek yang dituju pun kerap menghasilkan sebuah potret sejarah yang –mungkin- oleh sebagian orang hanya dijadikan sepenggal dongeng penghantar tidur. Padahal semua yang terpijak olehnya tak kan pernah lepas dari lingkaran sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, terlebih jika menyangkut dengan sejarah ke-islaman. Maka bisa diartikan, agama yang besar adalah agama yang menghargai sejarahnya. Karenanya, jika kita menilik kandungan ayat-ayat suci Al-Quran, terdapat ruah sejarah masa lalu yang diabadikan. Karena sejarah selalu memberikan pelajaran hidup bagi generasi-generasi setelahnya. Dengan sejarah juga, manusia mampu menciptakan sebuah ide dan pemikiran jauh lebih berkembang. Mengenang masa lalu, dan menciptakan pandangan futuristik dari analisis sejarah yang tergambar dari seponggah batu sekalipun.
Mencoba untuk lebih memberikan spirit keislaman yang lebih wise, Cordova kembali akan meng-agendakan program umroh plus Turki. Dua hari lagi, smartUMRAH Cordova akan menuju Negeri Utsman, atau lebih dikenal dengan “Khilafah Utsmaniyyahâ€, Turki. Negeri Ribuan Kubah ini menjadi destinasi yang sangat fantastik. Negeri impian yang kerap mengundang decak kagum setiap orang melihatnya. Meski mengidentikkan diri sebagai Negara sekuler, nuansa keislaman di Turki sangat kental terasa. letak biografi yang berada di dua wilayah benua Asia dan Eropa ini, menjadi kawasan Turki sangat strategis untuk dikunjungi wisatawan dunia. Negeri tua yang sempat menjadi kejayaan Islam selama rentang 1300 – 1918 Masehi itu, menempatkan Turki sebagai punggawa arsitektur keislaman yang sejajar dengan Negara ber-peradaban tua lainnya.
Ankara adalah ibukota Turki, tetapi kota terpadat dan banyak dijadikan destinasi para pengunjungnya adalah kota Istanbul. Kota damai yang terbentang sebuah selat indah membelah dua perairan antara Asia dan Eropa, Bosphorus itu begitu indah. Pun saat kaki Anda melangkah, arahkan pada satu fenomena keindahan bangunan masjid berarsitek canggih. Sebuah masjid yang kesohor itu adalah masjid Sultan Ahmet, atau Blue Mosque (Masjid Biru). Masjid dengan enam menara itu menjadi monument paling terkenal diseantero Turki dan Dunia.
Saat kita memasuki kompleks masjid, pandangan kita akan dimanjakan oleh taman bunga yang dilindungi pepohonan rindang. Deretan tempat wudlu yang rapi menyambut kita sebelum memasuki masjid. Sesungguhnya, penamaan masjid biru itu tidak bisa dibuktikan saat terlihat di luar masjid. Tetapi, jika Anda masuk ke dalam masjid, barulah Anda paham kenapa masjid ini disebut masjid biru. Tampak interior masjid ini dihiasi 20.000 keramik berwarna biru.
Ornamen bunga-bungaan dan tanaman bersulur, tampak indah memendarkan warna biru saat ditimpa cahaya matahari yang masuk lewat jendela 260 kaca patri. Di sebrang Masjid Biru, terdapat sebuah bangunan indah bernama Hagia Sophia. Namun sebagian turis mancanegara menamakan bangunan gereja yang berubah fungsi menjadi masjid, dan kini menjadi Museum itu dengan sebutan Ayasofya. Bangunan ini didirikan oleh Konstantin yang agung dan dianggap sebagai adikarya seni Bizantium. Awalnya Ayasofya ini dirintis sebagai gereja, namun setelah perang salib keempat, bangunan ini menjadi Masjid pada abad ke-15.
Symbol agama Islam dan Kristen menghiasi interior bangunan itu. Tulisan-tulisan lafadz Allah, Muhammad dan kaligrafi Islam menghiasi dinding dan kaca patri di jendela. Sementara bagian dalam kubah masih terdapat lukisan Maria dan putranya.
Masih banyak tempat-tempat yang indah dan sarat akan sejarah peradaban Islam di negeri ini. Diharapkan perjalanan ini dapat memberikan makna yang lebih berwarna dalam pandangan kita mengenai perjuangan Islam hingga sampai ke negeri Turki. Tentunya, pelajaran dari kehancuran Khilafah Turki Utsmaniyyah pun harus menjadi bahan renungan kita semua.




