Tuhan, dalam bahasa Indonesia berasal dari kata ‘Tu Hyang’ yang artinya bila disadur dari bahasa sanskerta adalah “Kepala Dewa” (Ketua para Dewa). Bicara tentang Tuhan, bicara tentang pengabdian total manusia, taat sepenuhnya kepada sang Maha Penguasa, menjalankan apa saja untuk menunjukkan bahwa kita cinta pada Sang Maha Segala, Pembentang alam raya dan semua berjalan sesuai kehendakNya. Sampai sini kita semua masih bisa bersepakat tanpa interupsi. Maka ketika tidak ada yang bisa mengalahkan apa yang sedang kita kerjakan karena kita menyukai apa yang kita kerjakan untuk Tuhan, sejatinya kita sedang berasyik masyuk dengan Tuhan kita. Tak satupun perintah yang bisa menggeser kita dari duduk penuh kita, tak satu kuasapun (kecuali kuasa Tuhan tentunya) yang mampu menggerakkan kita kecuali kita sendiri. Pada saat inilah yang sering disebut dengan khusyu, dan biasanya orang lain di sekitar kita tidak punya cukup nyali untuk ‘mengganggu’ kita.
Ketika Saudara kita di Katolik menyebut Tuhannya dengan Jesus, Saudara kita di Hindu memuji Sang Hyang Widi Wasa, Kawan” Budha NSI menyebutnya dengan Gohonzon, Teman” Saksi Yehova menyebut Tuhan dengan Allah Bapa, di Islam menyembah Allah Rabbul ‘alamin. Entah bagaimana dengan rekan” kita yang agnostic, Kong Hu Cu, dan penganut Taoism-nya Tao Te Cing.
Ketika LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) dalam kaidah King James Translation mengartikan Lord Jesus menjadi Tuhan Yesus, sedangkan di kamus International, Lord berarti Tuan, sebagaimana teman” di lingkungan Yehova Witness. Maka Tuan Yesus di perTuhankan. Tidak perlu kita salahkan, karena LAI tidak pernah melakukan koreksi selama ini, maka biarkan saja mereka mempertuhankan Tuan Yesus. Toh kita liat sebagian besar penganut Tuhan Yesus tidak jahat sama kita, tidak mengganggu kita, jadi ya biarkan saja…, jangan diganggu ‘kekhusyuan’ mereka.
Begitu pula dengan yang selama ini mengaku mempertuhankan Allah Izzati Robbi. Jangan ganggu ‘kekhusyu’an’ mereka. Meskipun pada kenyataannya banyak yang mempertuhankan segala hal selain Allah Subhananu Wa Ta’ala. Maka kita saksikan betapa uang jadi Tuhan, pekerjaan jadi Tuhan, Atasan jadi Tuhan, Client jadi Tuhan, Istri dan anak jadi Tuhan, Perhiasan Duniawi jadi Tuhan, Kekayaan jadi Tuhan. Dan banyak lagi yang dijadikan Tuhan. Apa buktinya?
Persaksikan olehmu saudaraku, betapa banyak pedagang kaget saat Jum’atan di sekitar masjid, menggelar dagangan, yang tidak sholat jum’at? inilah saat Uang jadi Tuhan. Ketika adzan berkumandang, betapa banyak orang yang masih ‘khusyu’ bekerja, dan menunda shalat, bahkan di institusi syariah atau departemen agama sekalipun, inilah saat pekerjaan jadi Tuhan. Ketika atasan jadi Tuhan, adalah saat kita berani melanggar norma agama yang diatur oleh Tuhan demi untuk atasan. Ketika Client minta perempuan dan minuman keras, disinilah saat Client diperTuhankan. Tatkala pelesir bersama keluarga, lupa membawa sajadah dan mukena, karena kendaraan penuh dengan bekal makanan & peralatan, this is the time for Family is my God (waktunya Keluarga jadi Tuhan). Di sekitar masjid Nabawi & Haram Mekkah, andai saja askar & baladia (Polisi/Petugas tramtib) tidak keliling, sangat boleh jadi terjadi transaksi seperti saat di Jeddah kala kumandang adzan. Ternyata banyak yang tidak mempertuhankan Tuhan.
Bahkan ketika kita sering mengandalkan diri sendiri, seolah semua persoalan bisa dihadapi tanpa izin Allah. Momen inilah kita masuk dalam tataran mempertuhankan diri sendiri. Maka Rasul SAW dalam hadits riwayat at Tirmidzi: “Ya Allah hanya RohmatMu yang kami harap, jangan Kau biarkan hamba mengandalkan diri sendiri, dan perbaikilah semua kesalahan yang hamba buat, tiada tuhan yang pantas di sembah kecuali engkau Ya Allah ”
Semakin kita meniadakan diri (Istilah Kang Ari Ginanjar – Zero Mind Process) atau menghamba sepenuhnya, atau menihilkan kinerja manusia, maka Tuhanlah yang mengerjakan semuanya, dalam bahasa sederhana “HasbunaLlah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nassir” Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Kita ga punya daya, tiada upaya tanpa izin Sang Maha Kuasa. Tapi saat kita memunculkan diri, mengendarai hawa nafsu, kita akan jadi tuhan yang sok tahu, menganggap diri paling benar, semua salah dan berakhir pada kelelahan, karena kita bukanlah tuhan. Tapi berusaha mengambil alih peran Tuhan.
Allah Tuhanku 100%, karena ketika kita muncul 0,1 persen saja, maka Allah akan jadi 99,9%, makin naik prosentasi ke-Aku-an, makin merosot peran Allah. Maka biarkan Allah bekerja sendiri, setelah ikhtiar kita yang terbaik, sesudah doa kita yang terkhusyu, sepurna sedekah kita yang terikhlas.
Do the best, Be the best, Let Allah take care the rest…..
Catatan Ust. Dodi Elza Al-Jambary, Sharia Advisor Cordova Travel




