Kokohnya Sebuah Mata Rantai
Apr 23, 2009 Inspiration
Salute For K-Link –Pernik Perjalanan Umroh-
Semua kita meyakini, bahwa kekuatan sebuah rantai yang berkaitan satu sama lain lebih dikarenakan kuat dan kokohnya lingkaran awal yang menopangnya. Tidak hanya itu, managerial lingkaran rantai itu tergantung jua pada karakteristik genggaman awal sang pioneer. Pun demikian dengan K-Link, sebuah perusahaan yang menghasilkan product kesehatan itu begitu luar-biasa. Dengan semboyan “Saling Membantu Meraih Kesuksesan dan kesehatan” di muka website-nya itu, begitu terasa perpaduannya saat melangkah bersama menuju sebuah keharmonisan di samudra cinta Allah SWT. Terbukti dengan 120 jemaah yang melaju dengan jiwa besar dalam menghadapi rintangan menuju “Tangga Suci” itu meyakinkan semua pihak, bahwa dibalik kekuatan team itu, tak lepas dari sosok leader bahkan owner yang sangat luar biasa. Menciptakan sebuah kesolidan team tidak semudah membalikkan telapak tangan, semuanya harus ditopang oleh sebuah leadership yang mapan, anti stagnasi dan kokoh dalam penajaman visi misi setiap man power-nya. Tak berlebihan jika decak kagum pada sosok ibu kelahiran 25 November 1970, Ibu Lisnawati itu mengalir deras. Tegas, disiplin dan terkonsep di setiap langkah hidupnya adalah hal yang menjadi kekuatan beliau dalam mengolah setiap product dan company-nya. Ibu yang mengambil spesialis Sastra Inggris di sebuah universitas kenamaan itu menapaki “Jalur Suci” menuju tanah suci bersama Cordova bersamaan dengan kepulangan 120 jemaah K-Link di tanah Air.
Awal Rintang Skenario Allah SWT
Perjalanan menuju tanah suci ini menggunakan pesawat Emirat Airline. Kondisi dan service-nya tak jauh beda dengan pesawat Ittihad. Menu makanan dan fasilitas flight-nya terkesan sama, karena memang kedua pesawat itu milik Negara kaya minyak, Uni Emirat Arab. Perbedaannya -mungkin- hanya daerah transit-nya saja. Jika Ittihad transit di Abudhabi, maka Emirat memakai bandara Dubai International Airport sebagai tempat singgah sebelum menuju destinasi akhir, King Abdul Aziz Airport, Jeddah. Saya merasa ketika pesawat yang menghantarkan kami telah sampai di Dubai, mungkin akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Bukan karena jumlah kami yang lumayan banyak, tetapi menurut pengalaman sebelumnya, proses imigrasi dan arah exit Bandara di Dubai sedikit lebih ribet. Sehingga tak disangka, semua proses itu memakan waktu sampai 3 jam lebih. Awalnya, setiba di Dubai kami telah meng-agendakan city tour diseputar kota Dubai, yang salah satunya menyaksikan “Burj Al-Arab” hotel megah yang berbentuk pohon palem.
Bukan untuk berapologi, terlebih menyia-nyiakan amanah. Saat kami keluar bandara, transportasi telah ready tuk menghantarkan kami keliling kota Dubai. Tetapi, banyak dari tamu Allah, termasuk saya merasakan kelelahan yang sangat. Sehingga waktu yang semestinya digunakan untuk melakukan tour, kami pakai untuk istirahat di hotel. Selain itu, waktu menjelang departure, sangat sempit bila digunakan tour ke sekeliling sudut kota.
Saya sangat yakin, “insiden” ini terjadi selain dari –kelalaian- kami adalah juga scenario Allah SWT. Dalam merancang perjalanan menuju rumah-Nya. Dengan kondisi fisik yang payah, emosi kadang tergoyah, yang akhirnya saya takut segala niat ibadah kami sia-sia. Tetapi Alhamdulillah, meski kondisi seperti itu, jemaah K-Link menunjukkan sebuah kekompakan dengan niatan ibadah yang telah terpatri. Sehingga terjadi penajaman visi dan misi yang terkolaborasi antara slogan K-Link “Saling membantu meraih kesuksesan…” dengan sebuah niatan suci yang luarbiasa. Subhanallah…
Madinah – Makkah, Perjalanan Suci yang penuh “duri”
Saya menyadari, perjalanan menuju tanah suci sangat berbeda dengan “wisata” kita ke Negara lain. Bukan untuk menutupi segara kekurangan dan kelemahan saya, tapi memang begitulah fakta yang menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok antara perjalanan spiritual (haji dan umrah) dengan wisata kita ke negeri lainnya. Skenario Allah kembali “memaksa” kita untuk terus melantunkan rasa syukur dan menguatkan jiwa sabar yang sesungguhnya. Diawal perjalanan menuju Makkah, dua diantara tiga bus yang ditumpangi jemaah kami mengalami kerusakan mesin dan As roda bus yang patah. Meski patah, sesungguhnya bus itu masih bisa berjalan, tetapi dengan kecepatan 20 KM per-jam, jika dipaksakan berjalan, bisa dibayangkan jam berapa kami sampai Makkah Al-Mukarramah.
Ya Allah…Yaa Qayyum… Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah… Saya bersama sebagian jemaah K-Link semakin yakin, bahwa Allah SWT benar-benar sangat mencintai kami. Sehingga dengan kuasa-Nya, Dia memberikan point-point plus guna penambahan pahala dan pengguguran dosa-dosa kami. Di samping itu, saya benar-benar salut dengan jiwa tabah dan sabarnya para tamu Allah ini, meski terdapat percikan emosi dalam diri, tetapi mereka tetap istiqomah tuk menahan diri. Semoga Allah Rabbul Izzati menempatkan semua peristiwa dalam perjalanan kami ini pada sebuah kemuliaan hidup, di dunia maupun di akherat. Yaa Rabb…


April 24th, 2009 at 3:38 am
Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). QS 2:269