The Power of “Silent Thing”

Sebelum kita masuk pada sebuah kerangka tasawuf mengenai asal-muasal dan pendefinisian ruhani versus jasmani, ada baiknya jika kita sedikit membuka kran mengenai “Sesuatu yang diam” (silent thing), atau bisa juga diartikan sebuah benda diam yang ternyata memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Kita merasa bahwa apa yang disekeliling kita berupa benda-benda mati itu tidak memiliki kekuatan sedikit-pun tuk melakukan sesuatu. Padahal telah banyak sumber sekaligus fakta, bahwa “silent thing” itu mampu menjadikan manusia bahagia dan merana. Bukankah letusan gunung adalah sebuah fenomena alam yang menurut kasat mata hanyalah sebuah gerakan benda mati, aliran lahar panas dan dingin, tsunami yang menenggelamkan bumi, api yang melalap ribuan bangunan, hingga banjir yang terus menggenang sebagian lahan hidup kita adalah sebuah kekuatan “silent thing” yang tak bisa dipungkiri. Karenanya, guru sekaligus Bapak saya selalu mengajarkan bahwa apa yang ada disekeliling kita, sesungguhnya memiliki sebuah “Rasa” yang dapat menimbulkan efek “counter attack” yang dilakukan manusia-nya. Intinya, bagaimana kita memberlakukan “silent thing” ini dengan segala rasa. Maka “mereka” akan jua memberlakukan kita dengan “rasa” dan power mereka.

Jika kita telaah, maka sesungguhnya apa yang ada dalam tubuh kita sebagai manusia ternyata memiliki dua unsur “Thing” yang berbeda, yakni perangkat-perangkat benda materi yang MATI. Dan unsur ghaib yang menopang manusia dapat hidup dan berkembang biak, hal itu tiada lain adalah rohani. Dalam wujudnya, jasmani manusia ini sangat luarbiasa. Mulai dari sel-sel yang membentuk jaringan tulang, jaringan otot, jaringan kulit, pembuluh darah, saraf, system saluran pernafasan dan jutaan lainnya yang terdapat dalam tubuh. Kesemua itu terbentuk dari sari pati yang berasal dari semua jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi. Semuanya adalah benda mati, dengan unsur ghaib berupa rohani lah manusia bisa menggerakkan semua yang tercipta itu.

Kata-kata rohani adalah mempunyai arti yang sangat luas, ia meliputi apa yang dinamakan jiwa, akal, hati, dan nafsu. Diantara semua mahluk dimuka bumi ini, manusia-lah yang ditempatkan pada golongan makhluk hidup yang tertinggi karena rohaninya, jiwanya, akalnya dan nafsunya. Tetapi dengan semua itu pula manusia dapat berubah kedudukan dan golongan pada level yang paling rendah, serendah-rendahnya makhluk diantara semua makhluk yang ada. (QS: At-Tin).

Intisarinya adalah, bahwa kekuatan manusia yang mampu melakukan apa saja, hakikatnya adalah sebuah kekuatan “Silent Thing”, yang sifatnya benda mati. Kesemuanya tergantung managerial ruhani (yang terdiri dari jiwa, akal, hati dan nafsu) yang mampu membuat sebuah kekuatan. So jangan pernah meremehkan sesuatu yang menurut kasat mata hanyalah sebuah benda mati yang tak bisa melakukan apa-apa. Jangankan gunung, air dan langit, sebuah coretan pada dinding pun akan menjadi saksi betapa manusia berpotensi menjadi seorang makhluk yang disebutkan dalam surat At-Tin diatas. Naudzubillah…


Kategori

Tag

Komentari artikel ini: