Eksplorasi Jejak Purba
Setelah berpisah dengan 30 jemaah yang kembali ke Tanah Air, kami hanya menunggu 45 menit menuju boarding di Bandara King Abdul Aziz. Dengan menggunakan maskapai Egypt Air, kami kembali menembus awan Mediteranian. Hanya butuh 1 jam 45 menit perjalanan udara dari Jeddah, Saudia Arabia menuju Cairo, Egypt. Pesawatnya tidak terlalu canggih dibanding dengan Ittihad Airline, tetapi nuansa religius yang unik dan menjadikan pengembaraan menuju negeri tua itu semakin kentara. Mengenal budaya orang-orang Mesir kota dan pedalaman membuat perjalanan udara selama dua jam kurang itu semakin bermakna. Bayangkan saja, ketika pesawat ini landing di Cairo International Airport, serentak para penumpang yang mayoritas orang Mesir asli itu bertepuk tangan dengan gembira. Geli, lucu sekaligus heran menyaksikan ekspresi mereka. Entah apakah tepuk tangan itu adalah gambaran rasa syukur mereka, atau kolaborasi doa dalam hati dan syukur dengan raga (bertepuk). Selain itu, suara keras mereka dalam berdialog diatas pesawat maupun setelah landing menandakan kerasnya watak mereka. Anda dapat membayangkan bagaimana kisruhnya mereka saat hendak turun dari pesawat. Wah, pokoknya kaya di pasar dech…
Bapak Salam Muhammadong, Bapak Rinaldi dan juga beberapa jemaah lainnya, malah asyik melihat budaya dan kebiasaan mereka. Suara keras, dan kebiasaan mereka bersorak, tidak lantas mengganggu keberadaan smartUMRAH plus Cairo. “Jika setiap perjalanan ingin bermakna, maka usahakanlah menikmati segala yang terjadi, baik itu positif maupun negatifâ€, urai Pak Rinaldi, Manager Allianz Syariah di kota Purwakarta. Bapak muda berdarah Sunda itu menambahkan, “Jika disetiap trip, ada kekurangan-kekurangan dan kita getol complain, itu mah bikin kita gak bisa menikmati perjalanan, nikmati sajaâ€, kata-nya santai.
Ada yang menarik saat kami menuju imigrasi bandara Kairo, biasanya pengurusan visa on arrival itu membutuhkan waktu yang sangat lama, tetapi karena koordinasi Cordova dengan staff keamanan KBRI Kairo, Iman Hilmanuddin, yang juga sebagai keluarga Besar Cordova-Mesir, dapat membantu melancarkan pengurusan visa dan hal-hal yang menyangkut ke-imigrasi-an, sehingga begitu mudah terlalui. Tidak lebih 30 menit urusan imigrasi dapat terselesaikan.
Setelah disambut team Cordova-Cairo di pintu keluar Airport, kami bersama melangkah menuju bus yang akan menghantarkan ke lokasi Nile Cruise (Dinner di atas sungai Nil dengan kapal pesiar). Akhir bulan Maret di Mesir, adalah awal musim semi. Udaranya sangat mirip dengan Indonesia, tetapi malam itu di Cairo terasa sangat dingin, 19 derajat celcius saat malam tiba, dan siangnya berkisar 23-25 celcius. Melihat pemandangan waktu malam di cairo memang sangat mempesona, deburan pasir, gersangnya udara dan kumuhnya pemukiman kota tidak terlihat sedikitpun. Yang ada hanyalah warna-warni lampu kota yang begitu melankolis. Ramai-nya kota menuju down town Cairo, sangat terasa dengan hempasan angin sepoi dari arah sungai nil.
Setiba di area sungai Nil, kami mulai memasuki kapal pesiar. Tidak lama menunggu, kapal itu berlabuh, waitress mulai sibuk menyiapkan buffet. Dari makanan khas Mesir sampai International tersedia. Selama perut mampu menampung, kami bisa makan sepuasnya disana. Bukan hanya itu, pihak nile cruise pun menggelar atraksi budaya local. Di tengah perjalanan, saya bersama beberapa jemaah naik menuju deck atas kapal. Sekedar menikmati panorama sungai Nil tepat diatas kapal pesiar. “Dingin-nya udara disini sangat mirip dengan udara di Los Anglesâ€, kata Muhammadong, salah-satu jemaah yang mirip Brad Pitt.
Kapal pesiar yang berlabuh di atas sungai nil, memakan waktu 2 jam, dimulai dari bilangan Ma’adi menuju kawasan Tahrer dan kembali ke Ma’adi. Kami begitu takjub saat melihat budaya Mesir melalui manusia payung-nya. Berputar-putar dengan merubah kain-kain belang dengan ragam atraksinya.
Setelah dari Nile Cruise, kami langsung menuju hotel. Semiramis Intercontinental menjadi pilihan utama hotel Cordova di Cairo. Letaknya persis disamping sungai Nil. Tak butuh lama untuk chek-in, kami langsung istirahat tuk mempersiapkan agenda esok hari menuju kota Alexandria. Karena hari itu agenda-nya sangat padat, maka perjalanan menuju Alexandria dijadwalkan pergi pukul 6 pagi. Selama di Alexandria, jemaah menuju Alexandria Library, sebuah perpustakaan terbesar didunia, yang konon sempat dibakar oleh Napoleon Bonaparte saat Perancis menjajah Egypt. Dari sana, mereka menuju benteng pertahanan Mesir, Qait Bay, di pesisir laut tengah, Mediteranian. Begitu eksotisnya pemandangan pesisir laut Alexandria, manjadikan jemaah betah untuk sesaat menikmati udara laut dengan ragam pose di depan kamera.
Setelah Lunch, di restoran Sea Food sembari menikmati udara Laut Tengah, mereka kembali ke Kairo menuju museum Nasional Mesir, (dimana mumi fir’aun/Ramses II, jaman Nabi Musa terbaring kaku). Setelah mengeksplor jejak purba di museum itu, jemaah menuju sound and light show pyramida. Seperti halnya show and light-nya di Bejing, show di Pyramida juga tak kalah menariknya. Sayangnya, udara malam saat itu, sedikit mengganggu kenyamanan jemaah.
Hari terakhir di Kairo, kami menuju kembali ke Pyramida dan Sphink di Giza. Selain untuk mengabadikan background photo, kami bersama menikmati aura purba yang benar-benar terasa. Setelah itu, kami menuju Airport Kairo untuk kembali ke tanah air. “The First Choice Journeyâ€, terbukti memberikan kami perjalanan utama guna berpetualang menembus lapisan awan guna menyaksikan fenomena yang terjadi dibelahan dunia. Dengan mengenal peradaban-peradaban yang sarat dengan world heritage-nya.




