
Pernahkah terpikir bahwa teknologi tele-conference dapat bermanfaat bagi jemaah haji di padang Arafah (?) Yah, dengan teknologi wi-fi, Cordova dapat merealisasikan sebuah moment terpenting dalam pelaksanaan haji. Kerinduan yang terhujam dalam sanubari smartHAJJ Cordova bisa sedikit terobati dengan bertatap muka langsung bersama sanak keluarga di tanah air. Acara yang berlangsung selama 5 jam, di halaman kantor Cordova itu, menyisakkan perasaan haru diantara keluarga jemaah yang hadir menyaksikan “Cordova Wukuf Liveâ€. Betapa tidak, setelah pelaksanaan khutbah Arafah, doa bersama yang diikuti doa-doa permohonan masing-masing diri, serta dilanjutkan permohonan maaf diantara jemaah Cordova di Arafah, ada sebuah moment yang menusuk jiwa mengkoyak rasa di area kantor Cordova. Perasaan yang terbenam dalam jiwa itu pecah diantara gema takbir yang saling bertautan. Lihat saja bagaimana Sasya, putri dari pasangan Bapak Fujiyama dan Ibu Rahmi, menanyakan kabar kedua orangtuanya sembari mata berkaca. “Mami…Sasya kangen mami…â€, spontan apa yang terasa oleh Ibu Rahmi akan sama dengan apa yang dirasa oleh orangtua siapa saja yang jauh dengan buah hatinya. Terlebih ia berada dalam dekapan cinta bumi Arafah.
“Mami juga kangen sasya, doain mami dan papi yaâ€, lirih ibu Rahmi yang hanya diikuti oleh anggukan Bapak Fuji dengan linangan airmata yang tak kuasa tertumpah diantara dua kelopak matanya. Begitu haru, begitu lembut, selembut perasaan Sasya yang hanya bisa menggerakkan telapak tangannya untuk menyentuh muka kedua orang tercintanya di layar monitor. Tentu saja suasana menjadi hening, sehening perasaan Pak Fuji saat melihat buah hati dan keluarganya, yang hanya bisa dipandang tanpa mampu tersentuh oleh kehangatan dirinya. Begitu juga yang terjadi dengan Ibu Yusra, ketika melihat anak dan cucunya, ibu berusia 62 tahun ini tak henti-hentinya menangis. Menangis dan menangis…air mata yang masih hangat itu terus menetesi bumi Arafah. Kerinduan akan keluarga tercinta menjadi mesin pompa yang merangsang emosi tuk terus menangis dihadapan Rabb-nya. Tangisan ibu Yusra, memancing sekitar 80 orang yang menyaksikannya, menjadi sebuah keyakinan akan tulusnya kasih sayang orang tua. Tangisan itu pula yang akan menjadi kekuatan Ibu Yusra untuk terus mendoakan orang-orang yang dikasihinya.
Lautan cinta yang terpancar dalam raut wajah smartHAJJ di padang Arafah sangat jelas terlihat. Meski dalam keadaan kusut, karena kurangnya istirahat, muka-muka para haji itu seolah mencerminkan sesuatu yang sangat bersih terpancar. Tak ada sedikit pun goresan wajah suram, terlebih bermuram durja, wajah mereka bercahaya dan bersinar. Mungkin saja karena mereka telah lahir kembali dalam ke-fitri-an, Subhanallah.
Selain Ibu Yusra, tangisan kerinduan pun pecah dari seorang Bapak tua berdarah Sunda, bapak Farohadin. Ia tak mampu membendung linangan airmatanya kala melihat anak dan istri yang menanyakan kabar kesehatannya. Pak Farohadin hanya bisa terseguk diantara nafas dan suara lirih yang kurang jelas, dengan bahasa sunda-nya, ia hanya bisa berucap “Do’akan apa (Bapak) yaâ€. Berbeda dengan Pak Farohadin dan Ibu Yusra, bapak Atang dan Pak Aichi terlihat lebih tegar kala menyaksikan langsung wajah-wajah orang yang di-cintainya. Mungkin saja Pak Atang bersama Ibu Elly Nuryati menyembunyikan tangisannya agar kedua putra-putrinya tak luput jua dalam kesedihan. Begitu juga dengan Pak Aichi, wartawan Metro TV ini terlihat lebih tegar, meski –sesungguhnya- tak bisa disembunyikan, ia terlihat berkaca-kaca saat menyaksikan istri dan anaknya, menggerakkan telapak tangan, sembari meminta maaf dan memohon doanya dari beliau.
Sungguh luar-biasa moment wukuf, ia bisa menjadikan hati keras menjadi lembut, badan tegap menjadi rengkuh. Berbaur dengan kesamaan diri dan kesucian hati. Ia juga mampu mengenalkan diri sesungguhnya pada Ilahi Rabbi. Moment “Cordova Wukuf Live†ini bisa saja memberikan peluang kepada setiap orang untuk belajar bagaimana Arafah mampu menggetarkan jiwa dan menumpahkan airmata. Karena dengan airmata hati kan selalu terjaga. Maka biarkanlah kami menangis…




