Biarkan Kami Menangis

Setiap menjelang keberangkatan haji, kita dianjurkan untuk membenahi niatan suci yang terbalut oleh segumpal darah. Darah yang terbungkus apik dengan desain Maha Sempurna adalah hasil dari sentuhan Ilahi. Tanpa kawalan ketat, hati terkadang membawa petaka pada raga yang liar. Guncangan jiwa dan raga sesungguhnya bermula dari hati yang dibiarkan kering dari nuansa religi. Karenanya, tak berlebihan jika Rasulullah SAW menempatkan hati diatas segalanya. Lebih lanjut, Rasulullah SAW menerangkan bahwa segala sesuatunya berawal dan bersemi dari hati sanubari. Berbicara masalah hati, tentu tak bisa lepas dengan apa yang saat ini jemaah smartHAJJ Cordova hadapi. Delapan hari lagi adalah hari yang penuh dengan momentum. Sebuah perjalanan suci yang akan menjadi sejarah baru dalam lembaran hidup setiap tamu Allah SWT. Mereka ikhlas menghadapi panggilan-Nya, mereka juga tak ragu tuk melepas segala sesuatu yang terkait dengan kepentingan duniawi, mereka para tamu Agung telah siap lepas landas tuk menghampiri dekapan Allah Sang Pengasih. Selamat datang dunia baru, dunia yang akan menghantarkan jiwa manusia pada satu titik kemulyaan, keagungan dan “kesempurnaan”.

Jika diteliti dengan seksama, sesungguhnya Allah SWT memanggil hambanya melalui dua panggilan suci. Pertama adalah panggilan untuk segera melaksanakan ibadah haji, dan yang kedua adalah panggilan Allah melalui Izrail tuk melepaskan ruh dalam kehidupan sementara. Prosesi ibadah haji adalah sebuah sistem ibadah yang dikemas menyerupai panggilan kematian. Kain putih yang dikenakan para haji adalah simbol kongkrit dari kesamaan manusia dihadapan Azza wa Jalla, kain ihram putih juga menandakan bahwa manusia diakhir hidupnya tidak akan membawa bentuk materi apapun terkecuali kain kafan yang membungkus jasadnya. Semestinya, dalam menghadapi dua panggilan Allah SWT itu, kita harus mempersiapkan segala sesuatunya. Tidak hanya materi yang dipersiapkan, tetapi keikhlasan hati dalam mengarungi perjalanan suci pun menjadi nilai yang sangat berharga.

Karena haji bukan hanya perjalanan fisik, maka tahapan pembersih jiwa nampaknya harus sudah tertanam sedini mungkin. Rengkuhan diri ditengah malam jelang detik keberangkatan harus sudah dibiasakan. Hati kita sudah semestinya menyatu dengan pesona kabah nan suci. Jiwa kita pun harus sudah merapat dengan kondisi tanah suci. Air mata yang tercurah dikegelapan malam adalah modal penting menghadapi keberangkatan haji. Tataplah istri dan anak kita yang tertidur pulas disamping kita, dengarkan suara hati mereka saat akan ditinggal, damaikan jiwa mereka -yang mungkin- tak kan pernah paham akankah kepergian ini tuk selamanya atau tidak. Curahkan permohonan maaf kepada mereka, seolah kita akan meninggalkan mereka selamanya. Dalam sujud malam, kita serahkan semuanya pada genggaman Allah SWT. Iringan tangis sang anak dan kerabat dekat adalah bukti bahwa kita hidup tidak sendiri. Titipkan mereka hanya pada Allah Ta’ala, karena sesungguhnya Dia-lah yang lebih menyayangi dari siapapun.

Jika kita memiliki rizqi lebih, ada baiknya untuk mengadakan walimatus Safar, meminta maaf kepada keluarga, saudara dan juga tetangga. Yakinkan, bahwa kedatangan mereka adalah sebuah anugrah untuk dijadikan kesempatan kita agar mengakui kealfaan dan permohonan maaf yang tulus. Bukan malah dijadikan ujub sebagai orang yang akan mendapat gelar haji. Hapus sudah semua itu, dipenghujung waktu ini mari bersama kita tingkatkan keshalehan kolektif sebagai tamu Allah SWT yang hanya mengharapkan keridhaan dan keberkahan-Nya. Buang ketakaburan, kurangi canda tawa, dan fokus pada satu ibadah yang sama-sama kita nantikan. Biarkan airmata terus membasahi sajadah malam kita. Berharap agar segalanya menjadi berkah.


Kategori


Komentari artikel ini: