Sepekan lagi –atas izin-Nya- kita akan menuju tanah suci menghadap panggilan Rabbil Izzati. Tentunya banyak prosesi yang harus dilakukan saat meninggalkan keluarga tercinta. Bukan hanya sebuah perintah agama untuk saling memberi dan memaafkan jelang kita berhaji, tetapi juga proses pencairan jiwa dan hati saat kaki mendayuh langkah menuju airport, meninggalkan isakan tangis anak, istri dan sanak keluarga. Hempasan benda tajam nan panas seolah menusuk ulu hati kala menyaksikan air mata jatuh deras dari kelopak sang buah hati tercinta. Sangat manusiawi, kala mata ini basah oleh air bening nan suci dari hati. Karena atas doa dan keikhlasan mereka jualah kita bisa bersama menyambut panggilan suci. Kemampuan kita meninggalkan mereka tentunya adalah karunia Sang Khalik memberikan secercah kekuatan dan keyakinan. Hanya Engkau-lah ya Allah yang mampu memberikan kami kekuatan, dan hanya kepada Engkaulah ya Rabbi kami tunduk, patuh dan rengkuh menyambut panggilan suci ini. Biarkanlah airmata ini mengalir deras menjadi saksi betapa agungnya rasa cinta ini pada-Mu. Saksikanlah Yaa Rabbi… tanpa kekuatan-Mu, hamba tak mampu lagi melangkah dengan iringan tangis orang-orang yang kami cintai.
Ritual ruhiyyah menjelang prosesi haji adalah sebuah gambaran betapa perjalanan haji sangat berdampak pada pembentukan jiwa. Saat itu, kelembutan hati akan terasa, dan kekerasan hati akan binasa. Karena bukan hanya sanak saudara yang berduyun menghantarkan kita, tetapi ribuan malaikat pun bersama menghantarkan kita dengan kelembutan. Sentuhan makhluk paling taat itu memberikan semacam kekuatan ruhiyah pada setiap tamu Allah SWT. Jiwa siapa yang tak tersentuh setiap menghantarkan kepergian para haji, lambaian tangannya bak sebuah mesin yang mampu menarik air dari kelopak mata. Wajahnya bercahaya, langkah tubuhnya tegap, karena yakinlah semua tamu agung itu dihantar dan “dipapah†oleh kekuatan malaikat.
Biarkan kami menangis Yaa Allah… Biarkan air mata ini membasahi langkah kepergian ini. Biarkan jiwa ini bergetar menyaksikan teriakan sendu sang anak. Biarkan…biarkan yaa Rabbi bathin ini merenungi betapa bersyukurnya memiliki keluarga yang ikhlas ditinggalkan dengan iringan doa dan isakan tangis. Tangisan adalah rasa nyeri sesaat yang menghentak jiwa, setelahnya, tangisan mampu memberikan jiwa semakin tenang dan damai. Karenanya, jangan pernah yaa Allah Engkau hentikan air mata ini sebagai pelipur lara kala jiwa terserang kegersangan.
Labbaika…Allahumma Labbaika… Dengan ketulusan jiwa dan keikhlasan hati, kami langkahkan kaki ini tuk menghadap panggilan-Mu Yaa Rahman. Bismillah…kaki ini kami injakkan menelusuri syariat Khatamal An-Biya Muhammad SAW. Dengan tangisan kami mencoba untuk menjadi tamu yang Engkau mulyakan. Dengan tangisan pula semoga perjalanan suci ini semakin berarti. Jangan halangi airmata ini berhenti tuk selamanya…Jangan biarkan airmata ini kering sehingga pesona kabah berada dalam pandangan. Jangan pernah yaa rabbi…




