Waktu terus bergulir, ia tak akan pernah menyempatkan untuk kembali melihat dan berhenti menanti sebuah peristiwa. Siap atau tidak, waktu akan melanggeng menapaki trayek yang tak pernah berubah. Semuanya akan “pasrah†mengikuti porosnya. Sebuah peristiwa yang akan terjadi dikemudian hari, lambat laun akan dihampiri jua oleh sang waktu. Begitupun masa penantian haji, ia akan menjadi sebuah penantian yang berarti. Segala bentuk persiapan, baik materi maupun mental akan menjadi sebuah bekal yang tak terhingga di tanah suci nanti. Untuk smartHAJJ Cordova tahun ini, sisa waktu yang tertinggal hanya dua pekan saja. Tak aneh jika denyut aktivitas yang tertuju pada ibadah haji terus digalakkan oleh segenap jemaah Cordova. Mulai dari persiapan bekal sehari-hari, pemantapan niat, mental, hingga pengadaan syukuran-syukuran dengan bentuk Walimatus Safar diadakan secara serempak. Tak terkecuali tentunya persiapan Cordova untuk memberikan pelayanan terbaik untuk jemaahnya. Mulai dari pengurusan Barcode (Nomor Identitas Cordova di KSA), produksi semua perlengkapan haji, penyusunan agenda acara, hingga hal-hal detail yang menyangkut kenyamanan jemaah di tanah suci.
Untuk pelaksanaan ibadah haji maupun umrah, Cordova tak pernah main-main dalam memberikan pelayanan dan kenyamanan tamu Allah SWT dalam merengkuh niat sucinya. Demi mendukung kemabruran haji, dengan segenap cinta, Cordova mempersembahkan mulai dari hal-hal sekecil apapun yang terkadang luput dari perhatian jemaah. Bagi Cordova, hal kecil yang tak terpikirkan terkadang menjadi hal besar perusak khusyuk. Ia akan menjadi semacam duri tajam yang menusuk pada urat nadi. Karenanya, jangan heran jika hal detail selalu saja menjadi kekuatan Islam dalam membenahi keterpurukan. Katakanlah peristiwa kekalahan perang umat Islam yang pernah terjadi saat komandan perang di pegang oleh Usama bin Zeid, di masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq. Saat itu, umat Islam dipukul mundur oleh kekuatan musuh, kendati belum dinyatakan kalah. Padahal koordinasi pasukan Islam saat itu berada dalam kondisi yang sangat kuat. Setelah diselidiki apa yang sebenarnya terjadi, wal hasil ternyata saat berkecamuk pertempuran sengit itu, umat Islam meninggalkan hal kecil yang dianggap sepele.
Apa gerangan hal kecil itu (?) Ternyata masalahnya karena sebagian besar umat Islam ketika melangkah ke medan laga meninggalkan siwak (sikat gigi). Maka setelah melakukan “hal sepeleâ€, yang ternyata adalah penyebab utama kekalahan itu, umat Islam kembali ke medan pertempuran dengan semangat membaja. Akhirnya, atas karunia Allah SWT. kemenangan besar dapat diraih oleh kekuatan Islam.
Demikianlah, Islam mengajarkan bahwa jangan pernah sekali-kali meninggalkan hal yang biasa kita anggap kecil. Karena kegemilangan Islam tumbuh berasal dari hal-hal kecil. Begitu juga dengan Cordova, selalu membiasakan berpikir dan bertindak dari hal sekecil apapun, karena yakin bahwa tidak ada yang tidak bermanfaat ketika hal sepele dikerjakan. Terlebih tujuannya untuk memberikan kenyamanan dan kekhusyuan ibadah para tamu Allah Azza wa Jalla.




