
Ketika setiap event bergulir, biasanya setiap kita langka menyaksikan sesuatu “Berharga†dibalik layar pra dan pasca event yang terjadi. Padahal, justru banyak point plus yang kita dapatkan saat kita menyaksikan peristiwa dibalik layar yang tak terekam ke permukaan. Sebut saja dalam event “The real Manasik†11-12 Oktober kemarin. Banyak peristiwa yang luput dari pandangan kita dan jemaah Cordova. Bagaimana setiap arsitektur yang menyulap Wiladatika menjadi “tanah suci†adalah bagian yang sangat penting untuk di angkat. Dengan kesigapan dan kelihaian seorang arsitek yang mampu membangun miniatur dari setiap etape perjalanan suci. Kang Aji begitu kami memanggilnya, adalah sosok kalem namun memiliki jiwa kreasi yang tinggi. Daya talar dengan ketepatan waktu mampu menciptakan karya seni yang begitu mempesona kala mata memandang, bukan hanya event ini saja, disetiap event Cordova, kekuatan Aji team mampu memberikan sumbangan terbesar bagi kelancaran acara. Dibantu oleh beberapa kru, ia bisa menjadikan hamparan luas menjadi desain bangunan yang mengagumkan.
Sebenarnya badan, tenaga, otot dan postur tubuhnya terbilang biasa, namun keinginan dan rasa needed-nya pada setiap kegiatan begitu besar, hingga apapun yang akan dikerjakannya, begitu sangat detail. Semangat akan persembahan yang terbaik untuk para tamu Allah juga ia tampakkan dengan keseriusan bekerja. Bayangkan, untuk membangun semua etape tanah suci, dengan area yang sangat luas, ia beserta team menyelesaikannya tak kurang dari dua pekan. Kang Aji beserta teamnya tak bisa dipandang rendah, terlebih lepas atau terlupakan dari bagian tubuh Cordova. Merekalah yang senantiasa menjadi lakon disetiap event Cordova, tetapi jagoan-jagoan ini selalu tak tampak saat Anda bercengkrama dengan hasil karya spektakuler mereka. Tak berlebihan nampaknya, jika Cordova memberikan predikat “heroes†pada kinerja mereka. Dua hari dua malam sebelum pergelaran the real manasik dimulai, kang Aji beserta team bahu membahu menciptakan arena luas Wiladatika mendekati kondisi real tanah suci, tentunya dengan mengurangi jatah istirahatnya.
Jemaah Misterius
Jangan miris dulu ketika Anda membaca sub judul diatas. Ini mungkin peristiwa langka yang Anda temukan disekitar lingkungan Anda berada. Setelah prosesi atau simulasi thawaf dan syai di sekitar air mancur wiladatika (dikiaskan sebagai Masjidil Haram) sekitar pukul 00.20 WIB, kang Idris, team Cordova yang selalu berpenampilan sosok kyai sepuh ini mempunyai pengalaman menarik. Saat itu, setelah jemaah kembali menuju area hotel Intercont, ia melihat seorang jemaah yang masih merenung duduk dibawah tangga dengan mata sayup melihat ka’bah. Kang Idris yang juga mantan didikan Aa gym ini menghampiri jemaah perempuan yang berbalut pakaian hitam dengan kerudung yang menutupi hampir sebagian wajahnya. Idris yang juga terkenal jago memainkan seni pencak silat itu merasa tergugah untuk mendekati jemaah yang nampaknya seperti tertinggal dari kelompok jemaah manasik.
Dengan santai Idris menghampiri jemaah itu, berharap bisa membantu dan mengantarkan kembali bersama kelompoknya. Tetapi, percayakah Anda setelah kira-kira tujuh langkah lagi kaki Idris menghampirinya, jemaah yang berbalut kain hitam itu tiba-tiba menghilang dan pergi tak berbekas. Sejauh mata memandang, dan secepat kedipan mata Idris “jemaah†itu tak dijumpai. “Jemaah†yang akan dibantu Idris itu ternyata tak ditemukan. “Bulu pundak saya benar-benar merindingâ€, ujar Idris saat menceritakannya dihadapan ustadz Dody dan team Cordova. Kontan saja, setelah menyaksikan peristiwa itu, Idris balik kanan menuju posko team Cordova. Mungkin saja itu halusinasi, atau pandangan kabur kang Idris saja, atau ustadz Dody (UD) bilang “atau coba saja antum di rukyah dech..â€. wah..wah..wah.. kang Idris ternyata… Wallahu ‘Alam
Prosesi Pemindahan Ka’bah
Anda jangan mengira dulu bahwa ka’bah yang dipindahkan itu adalah ka’bah asli di Baitullah. Akan tetapi, ka’bah yang benar-benar dipindahkan oleh team Cordova itu adalah ka’bah yang berada di area manasik. Tepatnya ditengah kolam air mancur Wiladatika. Meski hanya sebagai perangkat manasik, ka’bah dengan ketinggian 3.5 meter itu, tidak mudah untuk dipindahkan. Kita harus masuk kedalam kolam dan berbasah dengan mengangkatnya pada empat kaki kayu yang harus seimbang. Prosesi yang dipimpin langsung oleh KS Cordova itu sangat mengesankan. Terlebih prosesi non-khidmat ini menjadi tontonan wisatawan lokal yang sengaja rekreasi di taman indah itu. Super hero pada prosesi ini adalah Mad Sholeh, sosok bujang tampan yang selalu menjadi bulan-bulanan team dalam mencairkan masalah ini, paling bersemangat ketika mencebur dalam kolam. Entah karena jarang melihat air atau memang hobinya merendam di air “hijauâ€.
Terjadi “chaos†dalam pengangkatan ka’bah ke darat. Pasalnya ketika Roni melambatkan niatnya untuk terjun ke kolam, akhirnya harus “dipaksa†dengan menyemprotkan air hijau ke seluruh tubuhnya. Entah siapa yang memulai akhirnya terjadi saling lempar air ke seluruh team, KS pun tak terhindar dari siraman air hijau pada seluruh tubuhnya. Setelah semua berbasah ria, akhirnya ka’bah pun bisa terangkat ke darat. Tak sampai disitu, melihat Bram yang masih kering (karena tak bersama mengangkat ka’bah), lagi-lagi Mad Sholeh beserta Pedro dengan semangat 45’ mengangkat dan menceburkannya ke kolam.
Peristiwa dan kejadian yang mungkin tak pernah terpikirkan itu, sepintas hanyalah sebuah canda dan permainan konyol. Tetapi, sungguh yang terjadi dalam peristiwa itu mampu mengikat persaudaraan dan kekompakan kami lebih erat. Meski Mad Sholeh yang selalu menjadi “objek penderitaâ€, tetapi itu hanyalah perangkat menuju keluarga yang harmonis. Terbukti, ketika satu hari saja Mad Sholeh tak nampak di kantor, kang Nurdin dan team lainnya merasa sangat kehilangan. Atau mungkin saja kehilangan objek yang didera…




