Tepat di penghujung tahun 2004 lalu, ketika saya bersama rombongan mahasiswa Kairo hendak melakukan ibadah haji menggunakan kapal laut. Banyak sekali ditemukan hal-hal yang secara manusiawi tak pernah terpikirkan, namun terjadi begitu saja. Mulai dari urusan administrasi, sampai masalah non teknis yang membuat saya benar-benar yakin akan uniknya melaksanakan ibadah penutup rukun Islam ini. Bukan hanya unik, “Peranan†Allah SWT dalam menentukan para undangan-Nya pun menjadi lebih dominan. Saat itu, ketika saya beserta rekan lainnya menunggu turunnya visa dari kedutaan Saudia Arabia di Kairo. Perasaannya begitu cemas, berharap sembari bathin terus berdebar. Betapa tidak, satu hari menjelang turunnya visa, adalah hari terakhir kapal laut menuju Jeddah. Begitupun via pesawat, waktunya hanya tinggal 30 jam saja. Selebihnya, pemberangkatan via laut maupun udara diperuntukkan untuk tamu-tamu undangan kerajaan Saudia ataupun mereka yang ber-pasport diplomat.
Bagi mahasiswa, perjalanan laut adalah “Satu-satunya†jalan menuju tanah suci, karena selain biayanya jauh lebih murah, menggunakan kapal laut dapat lebih leluasa membawa barang-barang asal Mesir untuk dijajakan di tanah suci, pikirnya sembari ibadah dapat pula mencari rizki. Pun demikian sepulangnya dari Saudi mereka bisa dengan leluasa pula membawa buah tangan tanpa sortiran jumlah dan berat timbangan. Baiklah, kembali pada kondisi hati saat menunggu turunnya visa, jika saja ada voting yang mengungkapkan pekerjaan apa yang menyebalkan, pasti “Menunggu†mendapat rating yang tertinggi. Resah, gelisah bercampur dengan harapan menjadi pilihan yang terdaftar dalam list undangan Allah SWT. Meski demikian, apapun yang terjadi tentunya sudah menjadi skenario Allah dalam menentukan pilihannya.
Menjelang 12 jam pemberangkatan kapal laut, visa masih belum keluar, perasaan positif yang awalnya menggebu untuk berangkat ibadah haji itu mulai terasa hambar. Rasanya ada penyesalan yang sedikit mengkeruhkan niat saya tuk beribadah. Namun tiba-tiba ada info bahwa visa akan keluar 6 jam lagi, wah jika demikian masih bisa terkejar jika seandainya benar visa turun 6 jam lagi, karena untuk menuju pelabuhan Suez, hanya membutuhkan waktu 2-3 jam saja. Saya pun bergegas mempersiapkan kembali barang-barang yang tadi sempat terabaikan.
Ternyata benar, visa haji saya dan teman lainnya keluar sebelum 6 jam pemberangkatan kapal laut. Saya bersama rombongan segera menuju bus yang disediakan oleh travel Mesir. Lalu bus berangkat menuju pelabuhan dengan cepat guna mengejar waktu. Tetapi, ada saja aral yang melintang, setelah satu jam perjalanan, yang berarti hanya tinggal satu setengah jam lagi menuju pelabuhan, bus yang kami tumpangi mogok berat. Hingga mesinnya tak bisa lagi beroprasi. Alhasil, ditengah gurun yang dingin (saat itu musim dingin) kami harus rela untuk menunggu pasokan bus yang dating dari Kairo. Berbagai perasaan menyelimuti kami saat itu, bagaimana jika bus yang dijanjikan tidak berangkat sesuai jadwal, bagaimana jika kami tertinggal kapal, dan lain-lain. Masing-masing dari kami menghelas nafas ditengah gurun gelap sembari menunggu ketidakpastian.
Setelah kesal menunggu hampir satu jam, tiba-tiba lewat dihadapan kami sebuah truk gandeng yang nampaknya muat untuk ditumpangi oleh sekitar 80 orang. Setelah melalui perdebatan alot dengan supir bus mengenai ongkos menuju pelabuhan, akhirnya dengan terpaksa kami semua naik truk gandeng tanpa berpikir jauh, terlebih menunggu bus yang tak pasti. Namanya truk, tentu lajunya sangat lamban, namun bagaimana lagi, daripada tertinggal kapal, lebih baik melanjutkan dengan ragam rasa. Mungkin ini skenario Allah SWT pikir kami yang kembali membuat tersadar dan tenang berjalan bersama truk gandeng.
Alhamdulillah akhirnya, setelah menempuh perjalanan dua jam diatas bak truk, kami sampai jua di pelabuhan Suez yang akan menghantarkan menuju tanah suci. Sembari bergegas mengambil barang bawaan, kami semua berlari menuju gerbang pelabuhan untuk chek imigrasi. Namun apa yang terjadi (?) ternyata benar-benar terjadi, momok yang menyeramkan akan fantasi kami takut tertinggal kapal, nyatalah sudah. Kapal baru saja meninggalkan dermaga, ia melaju tepat didepan mata kami, tepat diantara reruntuhan perasaan kami. Begitu sakit, sesak, dan tak kuasa menahan amarah yang tak tahu ditujukkan ke siapa. Ada apa (?) Kenapa (?) Mengapa (?) Allah tak kunjung menerima kami sebagai tamu-Nya (?) Apakah ini juga adalah bagian skenario Allah SWT memberlakukan tamu-Nya (?), Tanya saya membatin. Akhirnya, setelah melepaskan gundahan rasa, saya bersama rombongan kembali ke Kairo malam itu, menggunakan angkutan umum yang ramai terdapat di pojok-pojok gerbang dermaga.
Tiba di kairo menjelang Subuh, dengan raut muka berantakan dan tenaga yang terkuras. Setelah sholat, saya merebahkan diri guna menghilangkan perasaan yang sangat sakit. Apakah Allah sedang menguji atau malah sedang murka, sehingga niat tulus kami berhaji tertolak mentah, pikiran itu yang terus menggelayut dalam benak saya, hingga terpulas tidur.
Percayakah Anda, ditengah drop-nya perasaan yang masih terasa, ditengah niatan haji yang sudah menurun, ditengah usaha guna mengembalikan spirit, saat itu setelah bangun dari tidur, saya beserta 6 orang satu flat ditawari melanjutkan perjuangan menuju tanah suci menggunakan pesawat yang akan berangkat tepat 5 jam lagi. Seat kosong itu diinformasikan oleh salahsatu staff KBRI Kairo, meski harus menambah penukaran tiket dari laut ke perjalanan udara sebesar 200 USD. Akhirnya tak pikir panjang, biaya tambahan itu dibayarkan terlebih dulu oleh beliau dengan perjanjian pelunasan setelah kembali dari tanah suci. Subhanallah…Walhamdulillah…Wallahu Akbar… Akhirnya kami satu rumah berangkat juga menuju Baitullah menggunakan Egypt Airlines. Tak henti kalimat takbir, tahmid dan talbiyyah terucap, air mata saya menggenangi tuk memohon ampun atas segala prasangka buruk terhadap Dzat Maha Segalanya.
Kisah dan cerita saya diatas, sebenarnya hampir sama dengan kasus smartHAJJ Cordova tahun 2008 ini. Namun, memang berbeda dalam alur ceritanya. Ibadah haji selalu sarat dengan hal yang tak terduga. Faktor x yang semuanya dimiliki Allah SWT selalu mendominasi kekuatan manusiawi. Jika Anda telah terdaftar dalam list tamu-Nya, maka tak ada kekuatan satupun yang mampu menghalangi Anda menjadi tamu istimewa-Nya. Skenario dan rahasia Allah dalam ibadah paripurna ini selalu penuh dengan hikmah yang patut menjadi pelajaran.
Selamat kembali bergabung bersama Cordova. Pastikan bahwa niat kita masih kokoh walau awalnya harus bercerai karena kehendak-Nya. Tak ada yang tak mungkin jika Allah sudah “terlibat†dalam jiwa kita, pelunasan sebagai syarat mendapatkan quota, insya Allah nampaknya (mungkin) tidak lagi Anda khawatirkan, karena ini benar-benar UNDANGAN ALLAH SWT yang patut kita syukuri bersama. Selain itu, saya yakin bahwa jiwa Anda sudah menyatu dengan kehangatan dan kerinduan terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW.




