Menjelang hari raya I’edul Fitri, segala sektor kehidupan masyarakat bermayoritas muslim disibukkan oleh kegiatan yang tertuju pada hari suci. Tidak hanya arus mudik yang mengalami kepadatan, arus komunikasi pun saling berebut menuju jaringan operator yang kian hari semakin bergelombang. Kendati demikian, tetap saja niatan yang telah terpatri dalam diri tak pernah berhenti menghadapi kondisi seperti itu. Meski perjalanan akan menuai kemacetan yang luar biasa, namun pemudik tetap melakukan perjalanan, tentunya dengan satu tujuan, bisa berkumpul bersama sanak keluarga. Begitu pula dengan jaringan komunikasi yang tak pernah berhenti meski diatas sana arus gelombang saling berebut menuju tujuannya masing-masing. Demikian sekilas potret kehidupan yang mengajarkan kita untuk berkomitmen dalam melakukan sesuatu meski kendala menghadang.
Mungkin tak pernah terpikir oleh seorang jutawan, jika ia menderita sakit, untuk menunda-nunda berobat karena terpikir biaya yang mahal atau waktu kesibukan yang membelenggu dirinya. Ia akan berpikir “Pokoknyaâ€, “Yang Pentingâ€, saya bisa sehat dan kembali beraktifitas. Begitu pula dengan seorang tukang becak misalnya, meski diguyur derasnya hujan, dihembus panasnya polusi dan didera kelelahan, ia tak akan pernah berpikir untuk kembali kerumahnya, mungkin yang terpikir dalam benaknya adalah kalimat “Pokoknyaâ€, “Yang Pentingâ€, anak dan istri saya bisa makan dan tidur nyenyak. Subhanallah…komitmen hidup yang patut di contoh dalam meneruskan perjuangan, walau kondisi terpahit sekalipun menghadang, mereka tak pernah kalah untuk tidak mundur.
Begitulah sebenarnya pesan-pesan nubuwah yang terjadi dalam keseharian kita. Jika kita mengambil garis merah diantara cerita diatas untuk di-implementasikan dalam ruang lingkup ibadah wajib (meski sesungguhnya kasus diatas merupakan suatu ibadah), seperti menyegerakan panggilan Allah SWT untuk melakukan ibadah haji adalah suatu yang patut ditiru. Betapa tidak, ketika niat terpatri, bekal teratasi, maka (seharusnya) tak ada lagi urungan jiwa yang menghalangi niat suci ini. Seperti tukang becak yang menggenggam erat kalimat “Pokoknyaâ€, dapat juga ditiru oleh seorang muslim “Mampu†untuk menyatakan “Yang penting saya berangkat ke tanah suci†masuk dan berbaur bersama lautan cinta Allah SWT. Berapa pun yang harus saya keluarkan. Karena sebenarnya harta yang berlimpah adalah amanat Allah, yang mungkin sebagai jalan agar dapat melaksanakan ibadah haji.
Berapa banyak orang muslim yang hartanya berlimpah ruah, meski dalam jiwanya terdapat buncahan niat untuk berhaji, namun selalu terhalangi oleh proyek-proyek duniawi. Seakan merasa confident untuk masih bisa bernafas dikemudian hari, sehingga dengan mudah menyatakan ketidakmampuannya. So, jangan takut untuk menentukan pilihan hidup. Tak ada ceritanya seseorang berharta akan jatuh bangkrut setelah melakukan ibadah haji. Malah sebaliknya, ia akan mendapatkan keridlaan dan keberkahan yang berlipat-lipat dalam mengarungi kehidupan duniawi dan ukhrawi. Yaa Rabb!




