Sejak kecil setiap kita yang terlahir dengan agama Islam, telah diajarkan pemahaman dasar-dasar keagamaan. Baik itu rukun Islam maupun rukun-rukun iman. Tak ada yang menyangkal, semua mengamini lima rukun Islam itu sebagai tolak ukur keislaman seseorang, meski pada saat kecil, kita hanya bisa menghapal 5 rantai dasar Islam saja, yang (mungkin) tanpa aplikasi sebenarnya. Di penghujung Ramadhan ini, terdapat 3 rukun Islam sekaligus yang akan terlampaui oleh kita, yakni sholat, puasa dan zakat. Semuanya satu mata rantai dalam kesatuan ibadah di bulan suci. Adapun rukun Islam perdana (Syahadat) sesungguhnya telah dilakukan oleh setiap manusia dalam perut janin sang ibu, dengan dialog bersama Allah SWT. Atau sudah termasuk (include) dalam sholat 5 waktu. Nampaknya urusan rukun Islam dan Iman, kita semua sudah mengetahui dengan sangat detail. Sehingga tak perlu lagi dijelaskan tentang bagaimana hukumnya ketika meninggalkan salahsatu rukun Islam tersebut.
Penjelasan mengenai “estafet four to five†adalah kelanjutan atau meneruskan ibadah rukun 4 menuju rukun Islam yang paripurna. Satu rukun yang meliputi seluruh ibadah rukun Islam lainnya. Setelah melaksanakan zakat sebagai rukun ke-empat, maka pelaksanaan haji adalah “Penutup†rukun yang bisa saja menjadi puncak “Sempurnaâ€-nya manusia dalam menghadapi kehidupan setelah alam kubur. Karena pelaksanaan haji sebagai rukun terakhir sarat dengan nuansa pertemuan hamba dengan tuhannya. Jika diperhatikan dengan seksama, maka rukun haji adalah rukun yang menghantarkan kita pada muara kehidupan abadi. Bukan hanya kain putih yang membalut raga para haji saja yang menjadi salahsatu tamsil haji sangat erat dengan kehidupan “akheratâ€. Keberadaan kita saat wukuf di padang arafah juga bisa dikatakan sebagai “Percontohan†manusia ketika dikumpulkan di padang Masyhar kelak.
So, untuk menjadi manusia seutuhnya dihadapan Allah SWT. Lima rukun Islam itu harus menjadi target pencapaian setiap muslim, tentunya bagi mereka yang mampu. Setelah Ramadhan meninggalkan kita, maka akan tiba kembali bulan yang dinanti-nanti oleh umat Islam. Apalagi jika bukan bulan Dzulqodah dan Dzulhijjah (musim haji). Kalau empat rukun telah kita sempurnakan di bulan suci ini, kenapa tidak, haji yang menjadi ibadah paripurna sebagai penyempurna drajat manusia dihadapan-Nya, tidak kita sempurnakan. Bahkan nyaris tak teragendakan dalam hidup kita.
Estafet Four to Five, saatnya bergeser dari rukun 4 ke rukun Islam paling bontot. Rukun Islam yang memberikan jaminan surga bagi pelakunya, rukun Islam yang integral, meliputi seluruh ibadah yang terdapat dalam rukun Islam. Selama kesempatan masih terbentang, mari niatkan bersama untuk menyegerakan ibadah haji sebelum terbentang kaku di pembaringan.




