P U L A N G

Ramadhan menuju penghujungnya, dan Syawal pun menjelang. Hiruk pikuk kita mulai disibukkan dengan persiapan “Mudik”. Kita yang mencari penghidupan di perantauan tentunya dengan segenap hati mempersiapkan segala sesuatunya untuk pulang ke kampung halaman. Kebahagian tiada terkira manakala pada hari suci Idul Fitri dapat merayakannya bersama keluarga. Terasalah sebuah puncak kebahagiaan. Ayah, Ibu, saudara, sanak-kerabat, yang selama ini tiada bersua, kini dapat saling berpelukan dan melebur dosa. Kembalilah kita semua dalam keadaan suci, bagai terlahir kembali.

Mudik memang selalu menjadi fenomena tersendiri di hari raya Idul Fitri atau Lebaran. Kita yang mudik tentunya berusaha melakukan berbagai persiapan jauh-jauh hari sebelumnya. Kita berusaha benar memanfaatkan waktu yang ada setahun sekali ini.

Bekal, baik finansial maupun material benar-benar diperhitungkan. Uang hasil kerja yang telah dengan gigih kita upayakan dan kita tabung selama setahun. Bekal makanan dan minuman untuk selama di perjalanan. Berbagai buah tangan sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Juga tak lupa perlengkapan lebaran yang semua serba baru. Alat transportasi yang akan digunakan juga menjadi perhitungan tersendiri. Menjelang mudik, orang rela berdiri dalam antrian panjang untuk mendapatkan tiket di loket-loket stasiun, terminal, pelabuhan maupun bandara. Hingga pada saatnya keberangkatan pun rela berdesak-desakan. Apalagi bagi yang tidak mendapatkan tiket tempat duduk, berdesakan, sikut kiri-sikut kanan, berjuang berebut tempat duduk yang memang terbatas. Atau ada pula yang akhirnya pasrah dengan membeli tiket pada calo walau harganya telah begitu dilambungkan tinggi. Belum lagi bila ternyata jadwal keberangkatan kendaraan umum kita ternyata mengalami delayed atau keterlambatan, kita harus merelakan waktu kita untuk sabar menunggu. Bagi yang membawa kendaraan sendiri, rela berjalan pelan dalam kemacetan karena banyaknya kendaraan tidak sesuai dengan kapasitas jalan. Bahkan mungkin juga di tengah jalan kendaraan kita mogok, lagi-lagi kita harus mengeluarkan biaya untuk perbaikan dan tentunya extra kesabaran untuk menambah waktu sampainya ke tujuan. Rasanya apapun akan dilakukan demi satu kata, pulang.

Demikianlah, begitu seriusnya kita mempersiapkan ’bekal’ untuk sebuah ’kepulangan’ demi menemui orang-orang yang kita cinta dan rindui.

Lebih dalam lagi mari kita renungi. Ada saatnya nanti kita semua akan ’pulang’, kembali kepada Sang Maha Memiliki kehidupan ini. Mati, adalah penghujung dari perjalanan panjang hidup kita nanti. Kehidupan panjang yang kita lalui sekarang ini adalah masa kita mempersiapkan bekal untuk kepulangan kita. Pulang ke kampung akhirat. ”Setiap yang berjiwa pasti akan mati” (QS Ali Imran 185). Setiap kita telah memegang tiket kepulangan kita. Hanya saja Allah-lah Yang Kuasa akan menentukan kapan jadwal keberangkatan kita. Kini kita dalam antrian panjang menuju gerbang keberangkatan. Jika saatnya tiba, tiada mampu kita menunda, tiada kata delayed, tanpa ada kemacetan, tidak pakai acara mogok, maka berangkatlah kita.

Untuk sebuah kepulangan mudik ke kampung halaman saja kita begitu gigih mengupayakannya. Bagaimana dengan persiapan kita menghadapi kepulangan kita ke kampung akhirat ? Telah cukupkah bekal kita ?

Suatu saat dalam sebuah majelis ada sahabat dari kaum Anshar bertanya kepada RasulullahSAW, “Wahai Nabi Allah, siapakah orang yang paling cerdik dan terkuat pendiriannya?”. Kemudian beliau menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling banyak persiapan untuk menghadapi kematian. Mereka itulah orang yang paling cerdik dimana mereka berangkat dengan kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat” (HR Thabrani)

Dalam sepekan di pertengahan bulan Ramadhan ini pula, Cordova kehilangan dua Alumni Jamaah Umrah yang berpulang ke Rahmatullah. Yang pertama adalah Bapak Rudy Prajitno, alumni smartUMRAH 7 Juni 2008, yang wafat pada tanggal 15 September 2008. Dan yang kedua adalah Bapak Djurzan Hamid, alumni smartUMRAH 11 April 2007, yang wafat pada tanggal 17 September 2008. Kita doakan semoga arwah Bapak Rudi dan Bapak Djurzan diterima disisi Allah SWT, diampuni segala dosanya dan diterima segala amal ibadahnya. Dan semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa dikaruniai ketabahan dan kesabaran.

Maka, marilah kita yang masih dikarunia kehidupan dan umur panjang sampai saat ini, mari bermuhasabah .. seriuskah kita mempersiapkan ’bekal’ untuk sebuah ’kepulangan’ menemui Dzat yang kita cinta dan rindui ?
Wallahu’alam bishshawab…


Kategori


1 KOMENTAR untuk artikel ini:

  • Roeslan M.Soetedjo berkomentar:

    Dalam artikel yang berjudul ” SELAMAT MENIKMATI AL-JENAZAH AIRLINES ” Penerbangan ini datangnya tanpa “Pemberitahuan” Nama anda telah tertulis dalam tiket untuk penerbangan. Datangnya bisa saat ini, nanti sore, besok pagi atau lusa, tahun depan, dua tahun lagi atau sepuluh tahun lagi, tak ada di antara kita yang tahu.
    Astaghfirullah,ampuni aku ya Allah.
    Kel.besar Bpk.Rudy Prayitno,Smart Umrah Summer Cordova 07 Juni 2008.( Mohon maaf atas segala kesalahan almarhum dan mohon doa semoga arwah beliau diterima disisi Allah SWT, Amin )



Komentari artikel ini: