Hakikat Silaturahmi

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahim (Arham). Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. 4:1)

Silaturahmi secara bahasa berasal dari dua kata, yakni silah (hubungan) dan Rahim (Rahim perempuan) yang mempunyai arti Hubungan nasab, sebagaimana ayat diatas kata al-Arham (rahim) diartikan sebagai Silaturahmi. Namun pada hakikatnya silaturahmi bukanlah sekedar hubungan nasab, namun lebih jauh dari itu hubungan sesama muslim merupakan bagian dari silaturrahmi, sehingga Allah SWT mengibarat kan umat Islam bagaikan satu tubuh. Sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (49:10).

Hubungan persaudaraan inilah yang menjadikan sesama muslim mempunyai kewajiban untuk saling membantu, saling menghormati, menjenguk ketika sakit, mengantarkan sampai ke kuburan ketika meninggal dunia, saling mendoakan, larangan saling mencela, menghasud dan lain sebagainya.

Al-Qur’an telah banyak menceritakan kisah terputusnya silaturahmi, padahal mereka mempunyai hubungan nasab. Diantaranya, Nabi Ibrahim AS menjadi jauh dengan bapaknya, karena seorang Musyrik. Malah doa nabi Ibrahim untuk bapaknya sendiri tidak dikabulkan oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya, “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun”. (QS. 9:114).

Nabi Luth AS harus berpisah dengan istrinya dikarenakan tidak mau mengikuti ajarannya, sehingga Allah SWT mengadzabnya bersama kaum yang lainnya, Nabi Nuh AS harus berpisah dengan anaknya Kan’an dikarenakan tidak mau mengikuti ajarannya, sehingga Allah SWT menenggelamkannya bersama umat yang lainnya. Begitupun dengan Nabi Muhammad SAW tidak bisa bersama-sama didalam surga bersama pamannya Abu Thalib, padahal pamannya sangat menjaga dan menyayangi beliau.

Untuk menghindari terputusnya silaturahmi, Allah SWT mengajarkan sebuah doa supaya senantiasa ada dalam keimanan,”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. 3:8)
Wallahu a`lam bi ash-Shawab.


Kategori

Tag

4 KOMENTAR untuk artikel ini:

  • fifin berkomentar:

    good very good



  • aburahmansyaffa berkomentar:

    izin share artikel ini smoga penulis bertambah pahalanya



  • Azha Nabil berkomentar:

    Salam silaturrahmi dari Pesantren Mahasiswa Ath-Thohiriyyah Purwokerto Banyumas.

    Silaturahmi itu bahasa Arab, dari kata shilah (shilat) yang berarti jalinan dan rahim (rahim) artinya kasih sayang. Silaturahmi berarti jalinan kasih sayang. Ibn Al-Atsir menyatakan bahwa silaturahmi adalah menjaga kebajikan (ihsan) kepada keluarga senasab dan karib kerabat (Lisan Al-‘Arab, Juz 11: 726).

    Dari silaturahmi terbangun persaudaraan. Persaudaraan memiliki beberapa lingkup: sekeluarga (QS An-Nur: 61), seagama (QS Al-Hujurat: 10), sesama bangsa (QS Al-A’raf: 65, 73 dan 85) dan sesama manusia (QS Al-Hujurat: 13).

    Semoga bermanfaat… Amin

    Azha Nabil
    http://www.thohiriyyah.com/2010/09/kh-drs-m-dian-nafi-m-pd-silaturahmi.html



  • dieyna berkomentar:

    Subhanalloh, terimakasih untuk artikelnya



Komentari artikel ini: