Tahukah Anda Bahwa setiap fenomena yang terjadi di jagad raya, sesungguhnya adalah sebuah cermin besar yang sarat pelajaran. Belum lama ini media Denmark menyembunyikan kematian seorang pelukis karikatur Nabi Muhammad SAW. Beserta keluarganya dengan sangat tragis. Yah, sang pelukis arogan itu wafat terbakar bersama keluarga dan hartanya. Dramatis memang, namun itulah kehidupan. Seorang kekasih Allah SWT yang mulya dan dimulyakan oleh segenap isi cakrawala dilukis dengan gambar menyerupai sang teroris berkepala bom. Lupakan itu, kini mari kita beranjak pada fenomena yang lebih kental terasa sebagai cermin yang lebih besar. Cermin tua yang masih jelas tergores pada kalam Ilahi, cermin yang terbalut kaku mesti masih menjadi guru. Cermin bertubuh kaku bermuram durja dalam peti kaca. Meski kaku, ia berhasil menjadi cermin tuk pelajaran hidup. Siapa lagi jika bukan Ramses II, Fir’aun Laknatullah.
Sepintas jika Anda menyaksikan jasad Fir’aun, tak ada istimewanya, sama seperti jasad lainnya yang terbalut kain. Tinggi dan bentuknya hampir sama dengan perawakan manusia abad kini. Entah karena ada penyurutan pada balsam yang diawetkan, ataukah memang bentuknya seperti itu. Rambut berwarna pirang dengan gumpalan kriting masih tersisa pada sela kepalanya yang sedikit bulat. Hidung dan kulit mukanya sedikit terkelupas, mirip benar dengan visualisasi adegan film “Mumy returnâ€. Tak sedikit, orang yang menyaksikan langsung mumi Fir’aun ini, berdiri bulu pundaknya. Tak sedikit pula, paska penyaksian akan kebenaran Al-Qur’an ini, langkah hidupnya lebih bermakna. Hidupnya lebih hati-hati, karena memang tubuh kaku itu telah menjadi guru.
Banyak pelajaran yang mesti kita peras dalam tubuh yang terkujur tak berdaya itu. Sifat sombong, arogan, diktator, pendusta, nampaknya adalah warisan dari jiwa fana Fir’aun. Semua ini mencerminkan bahwa kekuasan diri dengan pijakan kokoh diatas singgasana mewah tak berarti segalanya. Waktu akan melindas semua kebanggaan itu. Kesombongan kan menjadi bumerang yang memecahkan kepala besar yang menjijikkan. Kemunafikan kan menghujamkan diri pada tanah yang siap melahap. Dan semua isi bumi kan menari menginjak tubuh yang tak berdaya. Pada akhirnya, We Are Nothing…



