Membaca judul diatas, Anda pasti mengerutkan kening. Atau seolah mencari memory yang familiar dengan kalimat diatas. Yah, sebut saja Ayat-Ayat Cinta, sebuah film yang diangkat dari novel fenomenal karya kang Abik. Menjadi dahsyat karena pangsa pasar yang dibidik sangat besar, yakni umat Islam Indonesia. Namun, ada apa dengan “Sayat-Sayat Cintaâ€, apakah karena hati Maria yang sempat tersayat oleh cinta Fahri, atau tersayatnya jiwa dan cinta Nurul oleh sikap apatis Fahri. Ohh, ternyata beda, semua itu hanya ada dalam Ayat-Ayat Cinta. Kini kita berada dalam “Sayat-Sayat Cintaâ€, sebuah kenyataan yang kadang menyakitkan kalbu, saat cinta tersayat. Baik oleh kedzhaliman diri, atau oleh penghianatan cinta. Siapa pun, dimana pun, sayat-sayat cinta kan terasa.
Sayat cinta bukan menggambarkan ayat poligaminya Fahri, tapi lebih dari meng-poligamikan Khalik Sang Pencipta dengan sesuatu yang lebih dicintai di muka bumi. Pembenahan diri tuk lebih dekat dengan Ilahi tak kunjung klimaks kala jiwa mendua dengan harta, tahta dan wanita. Akankah Tuhan tersayat oleh manusia yang menduakan-Nya (?) Tidak, sama sekali tidak akan pernah Allah tersayat oleh kekerdilan cinta duo seorang hamba. Mengaku dekat dengan Allah, tapi mempersulit beribadah pada-Nya. Mengaku seorang pengadil, namun harus diadili. Mengaku seorang ‘alim, tapi selalu lalim. Mengaku muslim, tetapi selalu menyayatkan cinta pada Sang Pencipta.
Aku jauh, Engkau jauh. Aku dekat Engkau dekat… Demikian penggalan syair Bimbo yang mengajarkan kita untuk lebih mengenal Rabb SWT. Biasanya, disaat kita mengalami penderitaan, atau keterpurukan, maka kedekatan pada Allah mulai terbangun. Namun, kala segalanya berada dalam genggaman, Allah pun dipoligamikan. Demikianlah –sebenarnya- manusia yang mengalami sayatan cinta yang kekal.
Jika tokoh Fahri yang “sempurna†bak malaikat itu berpoligami mendulang ayat-ayat cinta. Maka kita perlu mereformasi cinta yang selalu menyayat cinta Allah yang hakiki.




