Cahaya Embun Pasir

Cakrawala dalam seketika senyap tak bersua. Gemuruh petir menyambar bumi. Gelombang air menggulung gunung. Semua makhluk ter-“Fana” Bersama tanah. Hanya makhluk diatas perahu Nuh yang masih terjaga. Banjir hebat menenggelamkan bumi itu adalah awal dari kehidupan manusia jilid terbaru. Deck awal perahu dipenuhi berbagai species hewan buas yang berkembang jenisnya hingga masa kini. Deck kedua dipenuhi manusia (kaum Nabi Nuh) yang akan memadati dunia pasca banjir besar. Dan deck ketiga dihuni hewan-hewan jinak. Pergantian manusia secara massal terjadi setelah manusia berdusta pada amanah ilahiyyah dimuka bumi. Setelah itu terpancarlah cahaya dibalik embun yang masih basah. Pasir yang masih basah juga membalut puing kehancuran manusia sebelumnya. Dari sanalah – setelah berabad tahun lamanya- terlahir manusia agung, penebar cahaya cakrawala, penebar pesona, pencipta kedamaian manusia. Muhammad Rasulullah SAW.

Hitam putih telah menggoreskan warna hidup manusia di jagad raya. Baik buruk manusia telah bercengkram dengan kentalnya pasir kehidupan. Kebodohan mulai sirna oleh cahaya risalah nabi akhir zaman. Kekasih Allah, panutan manusia yang tak kan pernah mati ditelan zaman. Shalawat dan salam yang mustahil putus hingga bumi ini udzur bahkan hancur termakan usia. Kecintaan nabi terhadap umatnya begitu besar mengisi relung jiwa meski terpisah oleh putaran roda waktu. Jangan biarkan airmata rasul menetes oleh kelaliman manusia pemutus risalah. Tanam dan suburkan kecintaan kita pada Rasulullah hingga ruh ini terputus dari tenggorokan.

Seribu tahun lebih Rasulullah meninggalkan kita, namun risalahnya masih terasa kental. Meski Rasul tak pernah mengajarkan kita tuk merayakan kelahirannya, namun mentadabburi akan tilas perjuangannya dinilai sangat perlu. Sehingga nafas perjuangan Islam akan terus bergema dipandu risalah nabi.

Tidak hanya membaca dan menelaah history kerasulan, menyapa dan berziarah ke makam Rasulullah jua dapat menambah kekuatan besar pada jiwa sang perindu Rasul. Jika kesempatan ada, jangan biarkan ia terbang tak bermakna. Kita yakinkan bahwa generasi umat ini takkan terganti oleh generasi selanjutnya yang tergulung oleh adzab Allah, laiknya banjir besar pada kaum nabi Nuh As. Sebab kita masih berpegang pada risalah nabi tercinta Muhammad SAW. Insya Allah


Kategori

Tag

Komentari artikel ini: