Setelah menyaksikan tulisan sebelumnya mengenai tapak tilas kaum Nabi Shaleh yang berada di kota Madain Saleh, sebelah utara kota Madinah Munawarah. Kini kita beranjak menyaksikan puing sejarah kehancuran kaum Tsamud karena durhaka pada Allah dan Nabi-Nya. Kota ini (Madain Saleh) sebelum ditempati oleh Nabi Saleh As. Beserta kaumnya, adalah tempat tinggal Nabi Hud dan kaum ‘Ad yang dibinasakan oleh angin taufan yang begitu kencang. Sehingga banyak manusia yang ingkar pada risalah nabi Hud bergelimpangan, rumah beserta bangunan-bangunan tinggi runtuh berserakan. Hewan-hewan terbang dilumat angin. Dan seketika bumi yang dipijak menjadi gersang dan tandus.
Diriwayatkan bahwa negeri itu telah kosong dari penduduknya, karena Nabi Hud beserta pengikut setianya telah pindah ke Mekkah. Akhirnya Allah SWT. mengganti lembaran sejarah dengan diutusnya Nabi Saleh kepada bangsa (kaum) Tsamud, yang terkenal dengan kepandaian memahat bangunan kokoh dari gunung-gunung batu. Mereka tinggal bersama utusan Allah di sebuah lembah yang bernama “Al Hajrâ€, yang kini dikenal dengan Madain Saleh. “Dan kaum tsamud yang memotong batu-batu besar disebuah lembah†(QS. 89 : 9)
Setelah negeri itu dihuni oleh kaum Tsamud, bumi yang asalnya kering menjadi sangat subur. Kebun-kebun dengan mata air mengalir deras menghidupkan kembali tanah gersang yang tertimbun pasca taufan dahsyat. Nabi Shaleh mengajak kaumnya untuk bertakwa dan mensyukuri nikmat Allah yang dilimpahkan pada mereka. Karena kehidupan kaum Tsamud sama persis dengan kehidupan kaum sebelumnya (kaum ‘Ad). Mereka selalu membuat kerusakan dan kesombongan. Mengagungkan harta kekayaan yang mereka miliki, mereka mengira harta yang mereka miliki itu akan kekal dan selamanya menjadi haknya. Mengikuti hawa nafsu angkara murka, sehingga batu-batu yang mereka pahat sekalipun menjadi sesembahan dan pemujaan mereka. Berhala yang mereka sembah adalah; Wad, Jad, Syams, Manaf, Manaat, Al-Lataa dan sebagainya.
Lalu Allah mengutus Nabi Shaleh untuk bertakwa kepada-Nya dan mengikuti nasehat-nasehat beliau untuk mensyukuri atas limpahan nikmat dari Allah SWT. (QS. 26:141-152), (QS. 7:74). Namun mereka mendustakan dan meminta bukti mu’jizat pada Nabi Shaleh sebagai tanda seorang utusan Allah. Seketika itu, Allah menunjukan Ke-Maha besaran-Nya dengan memberikan mu’jizat pada Nabi Shaleh berupa se-ekor unta betina yang keluar dari celah gunung batu. Dari tetek unta itu keluar air susu yang terus menerus keluar sehingga semua bangsa Tsamud dapat menikmatinya setiap saat. (QS. 26:153-156), (QS. 54:27-28).
Karena didasari perasaan dengki dan menolak seruan nabi Shaleh, kaum Tsamud masih mendustakan mu’jizat nabi Shaleh berupa se-ekor sapi betina yang telah menanggulangi masa-masa kemarau di negeri itu dengan air susunya yang dapat diperah setiap saat. Pada akhirnya mereka mendustakan janji Nabi allah dengan menyembelih unta itu. Seraya berkata: “Hai Shaleh!!! Datangkanlah siksa yang telah engkau janjikan itu, seandainya engkau benar-benar utusan Allah, buktinya unta mu’jizat itu telah kami bunuh.†Nabi Shaleh berkata: “Kalian benar-benar telah berbuat dosa, sekarang kalian boleh bersenang-senang, setelah tiga hari janji Allah akan tiba!â€
Sebenarnya tempo tiga hari yang dikatakan nabi Shaleh As. Adalah sebuah harapan semoga kaumnya sadar dan memohon ampun pada Allah dan nabi-Nya. Akan tetapi mereka menganggap itu adalah sebagai tanda kelemahan Shaleh. Maka tepat tiga hari setelah terbunuhnya unta Shaleh As. Adzab dan siksaan Allah turun menghantam kaum Tsamud. Adzab itu berupa suara petir yang sangat dahsyat. Gemuruh petir yang sangat kuat itu dapat menyebabkan suara yang mengguntur mampu menghancurkan rumah dan bangunan-bangunan tinggi tempat tinggal mereka, bukit-bukit yang dipergunakan sebagai benteng, harta kekayaan mereka porak-poranda disambar petir dan tiupan angin. Hanya Nabi Shaleh dan pengikutnya yang beriman bisa terselamat dari adzab tersebut.
Firman Allah, “Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa.†(Qs. 69 : 5). Yang dimaksud dengan kejadian luar biasa itu ialah petir yang sangat keras, yang menyebabkan suara mengguntur dan dapat menghancurkan. Firman Allah, “Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.†(Qs. 7 : 78)
Petir adalah tenaga listrik yang terjadi karena pertemuan partikel listrik (+) yang disebut proton dengan partikel listrik (-) yang disebut electron dekat dengan bumi, maka akan menimbulkan gaya listrik yang dekat dengan partikel listrik (+) yang ada di bumi. Kalau pertemuan proton dengan electron itu pada pohon-pohonan atau manusia, maka benda itu akan terbakar. Apabila mengenai batu, maka batu tersebut akan pecah. Demikian pula apabila mengenai gedung ia akan hancur. Kehancuran benda yang terkena sambaran petir itu tergantung kepada besarnya tenaga listrik yang ditimbulkan oleh proton dan electron tersebut. Al-Qur’an menyebutkan bahwa as-Shaiqah kadang-kadang diibaratkan dengan ar-Rajfah, at-Thaghiyah, dan as-Shaidah. “Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zhalim.…†(Qs. 11 : 67)
Demikianlah puing-puing kehancuran kaum Tsamud yang durhaka pada Allah dan Nabi-nya, yang kini dapat kita saksikan langsung dengan mata kepala kita sendiri di kota Madain Saleh sebagai pelajaran yang bermakna bagi kecintaan kita pada risalah Nabi dan rasul Allah SWT. Bahkan pada perang Tabuk pun Rasulullah pernah mendatangi tempat itu dan melarang sahabat-sahabatnya meminum air dari sumur, yang dikenal juga dengan sebutan sumur Tsamud.





Ass Wr Wb Kang Teguh,
selain pyramid dan sejenisnya, apa lagi obyek wisata yang dimiliki oleh mesir terutama yang ada hubungannya dengan kebesaran kerajaan islam terima kasih.
Ass Wr Wb Kang Teguh,
Bagaimana persiapan dari team cordova di Mesir, menjelang ibadah haji 1428 H.
saya bener2 takjub dengan kisah ini,sehingga membuat penasaran untuk menyaksikan puing kehancuran kaum Tsamud.Thanx