Kota Alexandria sesungguhnya tidak seindah Pangandaran, Anyer atau kota Bali. Tata letak yang konon sangat artistik itu tak lebih dari indahnya penataan pantai Kute dengan segala perniknya. Mungkin karena kota ini sering diceritakan dalam film-film layar lebar dan mashyur oleh lantunan salah satu band papan atas Indonesia. Maka membuat setiap tamu yang datang ke Mesir penasaran tuk menjadikan kota ini sebagai salah satu destination diantara agenda perjalanannya di negeri Tua. Keberangkatan menuju Alexandria sebenarnya alternatif perjalanan kami dari agenda awal menuju St. Catherina (Gunung Sinai), jejak Nabi Musa kala mendapatkan wahyu dari Allah SWT. karena jarak antara Cairo ke Gunung Sinai harus ditempuh kurang lebih 7 jam perjalanan. Juga setibanya di sana, diperkirakan kami tidak dapat melihat panorama yang spektakuler alias sudah gelap gulita (tiba malam hari).
Hari berikutnya kami menuju kota industri yang pernah menjadi rebutan antara militer Israel dengan pasukan Mesir. Kota itu juga kesohor dengan bendungan buatan yang membelah benua Asia dan Afrika. Bendungan ini sering kita dengar dengan Terusan Suez, kapal-kapal besar terlihat sering melintasi bendungan ini. Terusan Suez kini menjadi masukan devisa terbesar setelah aspek pariwisata di negeri ini. Bayangkan, bendungan Suez ini mampu menghasilkan lebih dari 6 Juta USD bagi pendapatan negara per-harinya. Setiap hari kawasan ini dilintasi oleh 150 kapal-kapal besar.
Tidak kurang dari sepuluh meter, kami juga menyaksikan kapal besar yang dalam kondisi mesin mati di derek oleh tiga kapal kecil guna melintasi bendungan bersejarah ini. Yah, setiap kapal-kapal besar itu jika hendak melalui bendungan ini, mesinnya harus dalam kondisi mati. Sebab, dikhawatirkan baling-baling mesin kapal besar itu mengenai batasan bendungan yang mungkin masih terdapat lengkungan-lengkungan alam-nya. Saya melihat Bapak sangat tertarik dengan sejarah dan teknologi bendungan yang mampu membelah benua itu. Bukan hanya tanah yang akan mengalami pergerakan, geografis bumi juga tentu akan mengalami perubahan. Saya bersama keluarga “CORDOVA†tidak menyiakan tuk berpose di terusan Suez kala kapal besar melintasi bendungan ini.
Terus terang setiap saya berkunjung ke kota Suez, baru pertama kali ini saya mendapatkan beberapa pelajaran langsung dari seorang “Guru Segala Bisaâ€. Bahkan supir kendaraan kami, yang juga teman dekat saya di kampus merasakan beda kala berada dan berbincang bersama beliau. Hampir dipastikan setiap ucapan yang terlontar mengandung ilmu yang berbobot, ilmiah dan hal baru. Namun disajikan dengan bahasa lugas dan santai. Nampaknya, Suez benar-benar layak untuk dijadikan salah satu tujuan dari agenda perjalanan di Mesir, terlebih bagi para pelajar, mahasiswa atau mereka yang gemar meneliti sejarah dan Pengetahuan alam.
Perjalanan dari Kairo menuju Suez tidak terlalu lama. Tidak lebih memakan waktu 2 jam 20 menit. Jalanan ke arah Suez juga terbilang kosong dan lancar. Hanya hamparan sahara dan bukit-bukit batu yang membatasi kota ini. Selain itu Pemeriksaan atau chek point juga tidak terlalu rumit untuk masuk ke kota ini.




