Ramadhan Spirit in Cairo

Ramadhan kali ini jatuh tepat pada awal musim dingin. Meski belum memasuki sadidul burudah (puncak dingin), saya bersama istri harus melengkapi perlengkapan “perang” berupa jaket Cordova, syal, dan celana panjang tebal. Maklum perbedaan cuaca antara Jakarta dan Cairo begitu terasa. Terlebih istri yang baru menginjakkan kaki ke negeri Seribu Menara ini, langsung merasakan lonjakan rasa yang zigzag antara panasnya Jakarta dan dinginnya malam di Cairo.

Banyak fenomena yang menarik pada bulan ramadhan di negeri ini. Hampir setiap sore dan malam hari, saya dan istri mengelilingi sebagian tempat disekitar kantor Cordova. Menyaksikan kedahsyatan spirit orang Mesir kala menjalankan ibadah puasa ditengah aktivitas persaingan kerja yang super ketat. Bagi mereka, datangnya ramadhan bukan malah menjadikan spirit yang down, bersantai ria, dan aji mumpung untuk berleha ditengah aktivitas sehari-hari. Aktivitas perkantoran tidak ada perubahan yang berarti dengan hari biasanya. Justru dengan puasa mereka bisa lebih enjoy bekerja dengan keyakinan pahala yang akan berlipat ganda bahkan tak terhingga. Dari segmen olahraga, misalnya liga sepakbola Mesir tidak diliburkan laiknya liga Djarum Super di Indonesia yang istirahat selama ramadhan. Mereka justru bertanding pada malam hari, meski siang harinya menahan lapar dan dahaga (Puasa).

Selain itu, aktivitas yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang Mesir adalah menjaga Qiraatul Quran dengan murattal. Baik membaca ataupun mendengar kaset-kaset murattal sepanjang harinya. Fenomena yang sangat unik adalah polisi-polisi jalanan yang sering juga terlihat membaca Al-Quran disela tugasnya menertibkan lalu lintas, penjaga toko yang membaca Al-Quran sembari menunggu pembeli datang, dan orang-orang yang menunggu bus di halte sambil memegang mushaf dengan PeDe. “Save our soul with Murattal,” satu semboyan yang pernah saya dengar dari management Cordova di bulan suci ini begitu mantap. Coz, dengan membaca or mendengar Murattal, bukan hanya perbuatan negatif yang akan terjaga, pikiran kotor pun dipastikan hengkang jauh dari aktivitas ramadhan kita.

Sudah 6 hari saya dan istri menjalankan puasa di Cairo, namun pelajaran hidup bagi kami sudah banyak dirasakan. Semoga setiap denting yang berbunyi, kami bisa terus merasakan pelajaran yang berarti. Dan semoga perjalanan hari-hari suci ini dapat lebih memberikan makna bagi spirit umat Islam dimanapun berada.


Kategori

Tag

Komentari artikel ini: