Anekdot Haji

Oleh; Pipiet Senja, Alumni smartHAJJ Cordova 2006
Mencuci Melulu

Erna telah mengizinkan aku untuk mengungkap secuplik kisah hajinya. Teman sekamarku yang berasal dari Dumai ini, sejak di Tanah Air sudah sering bilang begini kepada suaminya: “Pokoknya, di Tanah Suci aku tak mau diganggu urusanmu selain untuk beribadah.”

Kenyataan berbicara lain. Selama di Tanah Suci Erna malah dengan senang hati melakukan pekerjaan rumah yang remeh-temeh demi sang suami. Erna pun setiap saat, tak kenal waktu, senantiasa setia memenuhi panggilan suami. Apakah itu untuk jalan-jalan yang lebih sering dibatalkan sepihak oleh suami. Atau untuk mendampingi suami selama makan. Pendeknya, kulihat Erna sangat direpotkan oleh urusan pasangan hidupnya, tapi dia melakukannya dengan riang hati.

Begitu sampai di Madinah hal pertama yang dilakukannya adalah mencari baju kotor, kemudian mencucinya tanpa sisa. Awalnya, aku dan Anita yang juga sekamar dengan Erna, tak memedulikan urusan cuci-mencuci itu. Setelah dua hari berlalu, jika dicermati Erna begitu hobi bolak-balik ke kamar mandi untuk mencuci apapun, termasuk meminta bajuku untuk dicucinya. Nah, mulailah aku terusik untuk membahasnya dengan Anita.

“Pssst, dikau perhatikan gak, Dek Nita,” ujarku suatu hari begitu keluar dari kamar mandi yang dipenuhi dengan berbagai macam cucian, bergelantungan, termasuk celana dalam suami Erna. “Kenapa Erna doyan banget mencuci, ya Dek?”

Tentu saja orangnya sedang berada di kamar mandi dan dipastikan sedang nguyek mencuci, entah mencuci apa pula itu!
“Iya, Teteh sayang… Sebenarnya aku juga heran, tapi gak berani ngomong,” sahut wanita Jawa yang terkesan tomboy, tak terlihat klamak-klemek.
“Pssst… CD-nya suami beliau tadi nyaris nemplok di mukaku, tauuuk!” kataku menahan tawa. Anita malah kontan cekikikan. Pas Erna muncul dari kamar mandi sambil berbasah-basahan, kami berdua langsung terdiam. Ampyuuun, jangan biarkan mulut kami jadi embeerrr! 

Suatu pagi, sepulangku dari sholat subuh di Masjid Nabawi, kudapati Erna, sang apoteker, sedang sibuk menyeterika. Yup! Dia sampai khusus membeli setrika listrik di toko pinggir jalan. Aku dan Anita mengerumuninya. Sesungguhnya aku mengagumi pengabdian seorang Erna, loyalitasnya terhadap suami, sampai kolornya pun disetrika, men! 

Tangan Erna hilir-mudik mengayunkan setrika mungil. Pekerjaan buang-buang tenaga saja, pikirku. Mending buang saja tuh kolor, beli yang baru, habis perkara!
“Hhh, kenapa sih setrika ini gak panas-panas?” Erna mendadak mengomel dengan suara keras. Hanya dua-tiga detik, tiba-tiba… bhuuusss!
“Allahu Akbaaar!” kami sama berseru kaget setengah mati. Bagaimana tidak? Benda elektrik seharga 50 real itu konslet. Bila tangan Erna tak cekatan mencabut kabel setrika, entah apa yang bakal terjadi. Ada bunga api memercik…

“Ada apaaa?”
“Listriknya padaaam!” terdengar sayup orang berteriak di lorong depan kamar kami. Sementara kami bertiga masih berpandangan, terus terang syok!
Apakah Erna kapok? Hatta, dia masih melakukan aktivitas cuci-mencuci itu, kecuali selama berada di Mina dan Arafah. Aku sempat merasa kesal juga oleh suaminya yang sering seenaknya memanggil Erna untuk jalan-jalan. Namun, kemudian kami tahu, seenaknya pula lelaki seberang itu membatalkannya.
Malam-malam mendadak Erna ditelepon, diminta turun ke lobi. Padahal dia sudah rebahan mau tidur. Kulihat Erna grasa-grusu ganti baju, memperbaiki riasan wajahnya. Belum lima menit turun, eee, dia sudah kembali dengan wajah muram.

“Kenapa… gak jadi lagi?” tanya Anita ingin tahu.
“Tak tahulah si abang itu,” sahut Erna seraya membanting tubuhnya ke ranjang, kemudian menutup wajahnya dengan bantal.
“Dek, mohon bilang sama suamimu itu ya… Hentikan kelakuannya itu. Bilang sajalah sama dia itu, aku jadi kesal ini! Tahu gak sih, kelakuannya itu mengingatkanku sama si Batak itu… Macam mana pulanya itu, bah, baaah!” omelanku tak tahan merepet, malah membuat Erna dan Anita terbahak-bahak mendengar logatku yang ajaib.

***

Doa Anita
Anita acapkali mengaku sudah puas menjadi ibu rumah tangga, ibu dari dua anak, istri seorang pengusaha furniture. Dia menyatakan senang sekali dapat teman sekamar seorang penulis. Menjelang tidur, biasanya aku (tanpa diminta!) mendongeng untuk kedua rekan sekamar ini. Tak ubahnya seorang ibu yang meninabobokan anak-anaknya.
“Mmm… jadi, begini dongengnya kali ini, ya anak-anak kucingku yang manis,” ujarku suatu kali yang disambut gelak tawa Erna dan Anita.
Istilah anak kucing yang manis, pertama kali kulontarkan saat Raymona, Anita dan Erna berpose di depan kameraku. Mereka bertiga duduk di pinggir ranjang sambil berpelukan dengan manisnya. Ehem, memang persis anak-anak kucing yang manis tuh!

“Rasanya ada yang aneh nih, Dek,” cetusku suatu kali, ketika kami bertiga beriringan keluar dari Masjid Nabawi.
“Apaan tuh, Teteh sayang?” tanya Anita.
“Tadi di lift, kalian perhatikan gak sih… Kita nyaris kegencet orang-orang bertubuh tinggi besar dan subur-subur amat, ya?”
“Kalau dipikir-pikir, sepertinya kita selalu bermasalah dengan orang-orang besar,” komentar Erna. “Coba saja, tadi di mesjid, di sekitar kita… wuuuiiih! Banyak amat jamaah gede-gede badannya!”

Ajaibnya, kalau aku jalan sendiri, tanpa Anita, hal itu tak pernah terjadi, gumamku membatin. Anita tiba-tiba bercerita bahwa ketika kongkow-kongkow dengan teman ngerumpinya, menjelang keberangkatan, ada yang menanyainya; “Hei, Nit nanti di Multazam kamu mau berdoa apa sih?”
“Mmm, doa apa yah? Rasanya aku sudah punya semua yang kuinginkan. Suami yang baik, harta yang cukuplah dan anak-anak yang manis,” jawab Anita lugas. Tapi tiba-tiba mulutnya melanjutkan. “Kayaknya aku mau berdoa minta langsing sajalah…”

“Iiih, ngapain lagi? Kamu tuh gak gemuk-gemuk amat, Dek sayang,” komentarku, mencermati sosoknya yang memang proporsional.
“Ah, Teteh ini… aku kegemukan, Teteh!” mulut Anita mendadak manyun.
Erna seketika menengahi. “Mmmm, ini dia! Aku tahu sekarang jawabannya. Kenapa kita selalu bermasalah dengan orang-orang gede… Gara-gara Mbak Nita ini rupanya!”
“Loh… kok gara-gara aku?” Anita melirik Erna.
“Iya, memang gara-gara doamu tuh, Dek,” aku pun mulai paham jalan pikiran Erna. “Kelihatannya Allah ingin memperlihatkan kepada dirimu, ini loh ada yang jauh lebih gemuk daripada dirimu… geto kaleee!”
“Oooh… astaghfirullahal adziiiim… ampunilah hamba-Mu ini, ya Allah,” gumam Anita tampak serius sekali, hingga aku dan Erna mesem-mesem. Sejak saat itu, setiap kali kami bertiga dikerumuni orang-orang bertubuh besar, biasanya kami akan saling pandang sambil tersenyum.
Ketiban Bulan
Kuakui mulutku ini acapkali ceplas-ceplos, mengomentari berbagai hal yang melintas di sekitarku. Barangkali, karena itu pula Allah menegurku dengan menghilangkan suaraku untuk beberapa jam menjelang wukuf di Arafah.
Suatu kali, aku, Anita serta Erna baru saja tiba di pekarangan Masjid Nabawi untuk qiyamul lail. Dari arah belakang kami berderap serombongan jamaah berasal Ghuenia. Sebuah pemandangan yang sangat unik. Lebih selusin perempuan berperawakan tinggi besar, mungkin dua-tiga kali ukuran badanku (demikian menurut penglihatanku kala itu) melintas di sebelah kami.

Kami bertiga untuk beberapa jenak tertegun, sama sekali tak beranjak dari tempat, terpana bahna kagumnya. Dalam hati aku berkata begini: “Ya Allah, begitu hebatnya Engkau menciptakan berbagai jenis makhluk di muka bumi ini. Dan aku bisa menyaksi di tempat ini segala kehebatan ciptaan-Mu itu, sebab semuanya Engkau kumpulkan di tempat ini… Terima kasih atas pemandangan ajaib ini, ya Rabb.”

“Ayo, kita lanjut,” ajak Erna setelah pasukan Ghuenia menjauh dari kami.
Seketika mulutku tak bisa ditahan lagi berkomentar: “Ya Allah… sungguh besar-besar amat ya, adik-adik, kaum kita perempuan itu, bagaimana…”
Anita yang mulai mengenal kebiasaan ceplas-ceplosku langsung memintas. “Pssst, Teteh, jangan bilang apa-apa, nyebut yaaa… Ingat ini di Tanah Haram!”
Beeeppp!

Kututup mulutku dengan kedua telapak tangan, erat-erat. Anehnya, di dalam hati tetap saja aku melanjutkan: “Mmm, kira-kira bagaimana ya rasanya kalau ketiban orang segede itu?”
Kami mendapatkan tempat paling depan, tepat berhadapan dengan rak Al-Quran. Inilah tempat favorit Anita, sebab tidak terusik oleh jamaah yang belakangan datang, dan mungkin saja berbadan bongsor-bongsor. Hehe.

Erna dan Anita duduk di sebelah kiriku, sedang aku mengambil tempat dengan leluasa sebelah kanan. Kami pun segera khusuk dalam qiyamul lail, dilanjutkan dengan tilawah, berdoa dan berzikir. Aku bahkan tak menyadari bagaimana pasukan Ghuenia itu, ternyata telah berada di sebelah kananku. Saat diriku merasa semakin khusuk dalam zikir itulah, sekonyong-konyong ada yang menghantam bahu kananku… Beeekkk!

Agaknya jamaah di sebelahku terkantuk-kantuk hebat, hingga tak sadar menggulirkan badannya ke badanku…ngheeekkk!
“Allahu Akbar!” seruku tertahan, tak pernah mengira bakal ada serangan horor begitu di Masjid Nabawi.

Untuk beberapa saat (rasanya seabad!) tubuhku ngelumbruk saja, dihimpit badan seorang perempuan Ghuenia yang paling bongsor. Rasanya, Sodara? Jangan ditanya lagi, serasa ketiban bulan, kalau pernah geto loh. Dadaku sesak luar biasa, napasku megap-megap, kepalaku mendadak keleyengan tak karuan…
Erna dan Anita segera memberi bantuan, menarik tubuhku dari perempuan mega-bongsor yang malah ketawa-ketiwi, dan begitu nyantey mengangkat himpitannya dari tubuhku… ampyuuun deh, aaaarrrgggh!

Rekan-rekannya agaknya segera mengingatkannya, terbukti kemudian dia cepat-cepat menyalamiku dan berkata: “So sorry, so sorry…”
Euleuh-euleuh, boro-boro hayang seuri siah, puguh mah nyeriiii!7
Tapi ini kan di Masjid Nabawi, kita kudu banyak ikhlas dan memaafkan, maka kujawab saja : “It’s oke, it’s oke…”
Sempat-sempatnya Erna dan Anita juga menertawaiku. Kupelototi mereka dengan gemas. Eee, Erna malah bilang: “Ketiban bulan, ya Teteh?”
Aku tak menyahut, mencoba kembali berzikir. Tapi saat kulirik si beliow itu, kembali terkantuk-kantuk, kepalanya doyong kiri doyong kanan, ngelanggut… Weleh-weleh, jangan-jangan karena dibilang tidak apa-apa dia mau menghantamkan lagi bulannya ke badanku? Huuu, bisa cilaka atuh euy?
Buru-buru aku bangkit sambil berkata kepada kedua rekanku. “Ayo, kita hijrah, hijraaah, Deeek!” Erna dan Anita terpaksa ikut bangkit, mengintil di belakangku sambil ketawa-ketiwi ditahan. Dasar, anak-anak kucingku yang manise!


Kategori

Tag

1 KOMENTAR untuk artikel ini:

Komentari artikel ini: