Jangan Tunda Berhaji!
Ibadah haji adalah ibadah yang tergolong banyak mengeluarkan harta. Tidak semua manusia muslim di belahan bumi dapat melaksanakannya. Meski demikian, setiap tahun jumlah haji yang berangkat ke Tanah Suci semakin membludak. Di Indonesia misalnya, jemaah terbesar di dunia dalam memberangkatkan jemaah haji, setiap tahunnya harus mengalami kendala kuota. Karena –memang- jumlahnya selalu tidak cukup menutupi animo besar dari muslim Indonesia tuk berhaji. Bayangkan, untuk terdaftar menjadi ibadah haji regular, jemaah harus mengantre dalam waiting list haji hingga beberapa tahun kebelakang. Bahkan di suatu Profinsi, terdapat antrean jemaah haji hingga belasan tahun. Hal yang sama, kini dialami juga oleh jemaah haji khusus, padahal beberapa tahun lalu, saat mendaftar haji, ia bisa dipastikan berangkat tahun itu juga. Kini, untuk mendapatkan kuota haji plus harus berjuang lebih cepat. Karena siapa cepat, dia berpotensi berangkat tahun itu juga. Bahkan untuk kuota tahun depan 1432 H/2011, jumlah kuota yang dicanangkan bagi seluruh jemaah khusus Indonesia, hanya tersisa berapa ratus saja. Artinya, memasuki tahun anyar nanti, dipastikan akan terjadi waitinglist jemaah khusus hingga 2012.
“Kolaborasi Dua Makhluk Suci”
Sabtu, 28 Agustus 2010, -Sultan Hotel-
Tak seperti biasa, sore itu udara sangat cerah. Padahal selama berhari-hari dalam pekan ini, hujan terus mengguyur hampir merata di seluruh ibukota. Bahkan, sehari sebelum event ini berlangsung, hujan dengan angin kencang melanda Jakarta dan sekitarnya. “Semoga saja cerahnya udara hari ini, adalah berkah tuk berlangsungnya Manasik”, ungkap salahsatu team Cordova. Yah, manasik Arafah bertajuk The Miracle Of Do’a ini adalah manasik perdana bagi para calon smartHAJJ Cordova 1431. Hampir sama disetiap ‘perhelatan’ Manasik, Cordova mencoba serius memberikan gambaran mengenai medan sesungguhnya di Tanah Suci. Karena itu, sesuai dengan namanya Manasik Arafah, meski berlangsung di lingkungan Hotel bertaraf Internasional, venue yang digunakan adalah Tenda Putih, laiknya tenda Arafah saat wukuf berlangsung. Acara yang diikuti hampir 93% dari jumlah keseluruhan calon jamaah haji ini, berlangsung tepat usai sholat Ashar. Menariknya, ‘calon makhluk suci’ itu ‘taat’ dan serempak menggunakan dresscode putih dengan hadir tepat waktu.
Ka’bah Getarkan Ratusan Hati Warga Cina
Hidayah bisa datang dari cara yang tak pernah diduga. Mungkin itu pula yang dialami ratusan pekerja Cina di Arab Saudi yang kemudian memilih Islam sebagai agamanya yang baru. Setelah melihat Ka'bah dari televisi, tiba-tiba hati mereka bergetar. Pintu hidayah seakan terbuka. Dan Allah SWT pun melapangkan jalan mereka untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Lebih dari 600 pekerja asal Cina berpaling menjadi Muslim setelah mendapatkan pengalaman spiritual di Arab Saudi. Mereka adalah bagian dari 4.600 warga Cina yang sedang mengerjakan proyek rel kereta api yang menghubungkan Makkah dan Madinah. Rel kereta itu nantinya akan melalui Jeddah dan Khum. Peristiwa yang sempat menghebohkan itu terjadi tahun lalu. Awalnya, kedatangan ribuan pekerja Cina itu sempat dipertanyakan warga Arab Saudi. Pasalnya dari 4.600 pekerja itu hanya 370 orang yang Muslim. Warga meminta agar pemerintah mempekerjakan buruh Cina yang beragama Islam. Namun Allah mempunyai rencana lain dengan kedatangan para pekerja itu.
Mengawal Niat Suci, Dengan Cara Suci
Jauh sebelum datangnya musim haji, saya selalu melihat bagaimana gelora rasa yang hinggap pada sosok Bapak ini. Pikirnya selalu melompat kala menemukan ide segar, -mungkin- tiada kata yang mengalir setiap hari dalam darahnya, terkecuali untaian kata “Bagaimana melayani Tamu Allah dengan sempurna.” Kadang hari-harinya hanya dihabiskan dalam ruang berukuran 5 x 1.5 Meter. Bukan tanpa cipta, justru berkarya mencipta rangkaian karya. Sinar mata dan gerak langkahnya tertuju pada suatu cita yang sulit terabaikan. Antusias dalam mengawal niatan suci para calon haji, selalu tampak dalam raut wajahnya. Kadang cemas, kadang marah, kadang bahagia membalut emosi yang meletup, yah semua itu berlandas pada tujuan suci. Sungguh sulit saya membayangkan ketika Allah memberi kelembutan hati pada hambaNya, tanpa perhitungan duniawi, ia rela menaruh jaminan hidup-nya tuk niatan suci itu. Hingga suatu waktu, saya membaca testimoni yang begitu menggugah dari sosok Bapak itu, kata-katanya begitu bermakna, kalimatnya begitu renyah, namun saya yakin jiwanya sedang gundah. Ingin rasanya bermadu rasa, tuk menadah sedikit resah-nya. Dan merekat sedikit lubang dengan keyakinan yang menggebu.
Kisah Erdogan Bersama Rakyat
Sore itu, matahari belum sepenuhnya surup di Desa Onya, salah satu daerah terpencil di provinsi Ordu, wilayah pesisir Laut Hitam (Karadeniz) di Timur Laut Turki. Masyarakat desa yang mayoritas petani miskin itu mendadak dikejutkan oleh keberadaan helikopter yang tiba-tiba mendarat di sana. Ini adalah sebuah kejadian yang tak biasa. Orang-orang desa pun berhamburan ke arah di mana pesawat itu mendarat. Baling-baling pesawat itu perlahan berhenti memutar, dan pintu pesawat pun mulai terbuka perlahan-lahan. Mula-mula beberapa orang berpakaian rapi turun secara bergiliran. Sementara orang-orang desa, mulai dari pria paruh baya, wanita, hingga anak-anak, masih termangu memperhatikan kejadian tersebut dengan penuh pertanyaan dan syak wasangka.
Jika Izrael Menyapa
Tema di atas tampak klasik, dan tidak sedikit orang yang baru membaca judul-nya, sudah enggan meneruskan apa yang terjadi dalam rangkaian kata seterusnya. Padahal tema itu sangat akrab dengan kehidupan kita, bahkan bisa saja menceritakan perjalanan akhir kita. Tak jarang juga orang membaca dan mendengar tentang kematian, namun cukup hanya menjadi wacana sesaat. Setelah itu tenggelam oleh aktivitas hidup yang menguras energi. Terlebih dalam kehidupan modern saat ini, banyak orang yang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Justru sebaliknya, tema kehidupan yang menarik tuk dikupas selalu bertolak belakang dengan kematian. Mungkin –sebagian kita- termasuk saya selalu terjebak untuk berpikir keras tentang bagaimana dan darimana saya mendapatkan harta, baju apa yang akan saya kenakan esok hari, makanan apa yang menjadi menu dinner kita nanti, terus dan terus pola pikir tercipta untuk bekal perjalanan duniawi. Namun tanpa sadar, kita lupa bahwa diantara space waktu itu bisa saja Izrael terlebih menyapa sebelum mengenakan pakaian baru esok hari, sebelum menyantap hidangan lezat dinner nanti. Dan tak ada yang mustahil setelah kita membaca artikel ini, Allah Berkenan mengutus Izrael tuk menyapa kita menuju akhir kehidupan dunia.
Live is Never Flat!
Artikel kali ini terinspirasi dari sebuah iklan di televisi, sebenarnya sudah lama saya mendengar istilah itu, namun entah –sejauh ini- hanya menjadi kerak alam pikir. Saya mencoba mengemas artikel ringan ini dengan mengkorelasikan pada sebuah perjalanan haji. Yah, seperti yang kita tahu, bahwa rutinitas perjalanan suci ini kerap berulang disetiap tahun. Sehingga para penyelenggara tahu betul bagaimana riak aktivitas yang kan dihadapi calon jemaah haji setiap tahunnya. Terlepas dari hal baru yang kan dihadapi di medan haji, semua persiapan menuju perjalanan ini –tentunya- sama dan berulang dari tahun-tahun sebelumnya. Termasuk dalam memberikan konten manasik misalnya, tidak ada yang berbeda setiap tahunnya. Tetapi saya sadar, bahwa ‘live is never flat’ hidup tidak pernah datar, meski materi yang disampaikan sama, namun cara dan pelayanan harus terus berubah. Bergerak adalah sebuah keniscayaan. Itulah yang menjadikan Cordova untuk terus melakukan inovasi dalam setiap melayani para jemaahnya. Isi, kemasan dan subjek yang melayani para tamu agung menjadi kesatuan yang membalut cita suci bersama. Yah, menuju perjalanan suci tuk meraih kemamburan adalah prioritas utama Cordova.
Me-merdekakan Kemerdekaan!
Saya bisa bayangkan bagaimana kondisi pagi hari 17 Agustus 1945 itu, di halaman sebuah rumah di jalan Pegangsaan, Jakarta, menjelang pukul 09.00 WIB. Suasana yang menderu, menggelombang dan menegangkan. Semua yang hadir tahu, mereka akan melakukan sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang menerjang kebiasaan, sesuatu yang membuka tabir gelap, dan sesuatu yang mengalir kencang melalui degup jantungnya. Saya juga merasakan bagaimana kering kerontangnya saat itu. Yah, saat moment penting kan di-proklamirkan, meski tanpa terlebih dulu meneguk secangkir kopi atau teh hangat, guna menjaga rasa grogi. Sang proklamator dengan lantang membaca teks kemerdekaan. Teks yang hanya tertulis tangan itu, mampu menembus setiap jiwa di seantero negeri, serta meluluhkan penjajah untuk segera hengkang. Saya semakin merasakan bagaimana hiruk-nya saat itu, euforia, dan airmata menyembur dari setiap kelopak yang membanjiri halaman itu. Takbir, syukur dan tahmid menggelegar di hari yang juga bertepatan dengan 8 Ramadhan 1364 H.
Tips Memilih Daging Halal
Pada kesempatan ini, sengaja smartBlog Cordova mem-postingkan artikel mengenai makanan yang menjadi favorit umat Islam di bulan suci, dan –tentunya- tuk menghadapi lebaran nanti. Selain itu, daging merupakan salah satu bahan makanan yang sering dikonsumsi. Oleh karenanya, cara memilih daging yang segar, halal, dan aman dikonsumsi sangatlah penting. Apa saja yang harus diperhatikan untuk memilih daging segar dan halal (?). Kasus penjualan daging celeng yang sempat marak beredar di pasaran beberapa waktu lalu menjadi pelajaran bagi kaum muslim untuk lebih berhati-hati. Karena itu kenali dengan baik ciri-ciri berbagai jenis daging agar tidak tertipu. Konsumen bisanya tidak terlalu pandai membedakan jenis-jenis daging hewan besar karena memiliki tampilan yang nyaris serupa. Sedangkan hewan ternak kecil seperti unggas malah lebih mudah dibedakan karena jenis dagingnya sangat berbeda.
