Scientist Zone (Part 2)

Umur Alam Semesta

Setelah mengupas, bagaimana sinkronisasi antara teks Al-Qur’an dengan fenomena alam yang terjadi di bumi pada Scientist Zone (SZ) part pertama, kita melangkah pada kajian yang tak kalah menariknya untuk dibahas. Persepktif manusia memandang bahwa Al-Qur’an mampu mengantisipasi kejadian masa depan dengan akurat, maka sesungguhnya itu hanyalah hipotesa manusia yang melihat dan merasakan suatu materi yang tampak. Padahal sesungguhnya, dalam pandangan Al-Qur’an, semua kejadian di bumi telah tercatat dengan baik di dalam Kitab Utama, Pusat Arsip atau Lauh Mahfuzh di Arsy-Nya Allah SWT sebelum kejadian tersebut berlangsung. Mohammed Asadi dalam bukunya The Grand Unifying Theory of Everything mengatakan bahwa umur alam semesta, berdasarkan penyelidikannya terhadap bintang-bintang tertua, adalah antara 17 sampai 20 miliar tahun. Sedangkan Profesor Jean Claude Batelere dari College de France menyatakan bahwa umur alam semesta kira-kira 18 miliar tahun. Dalam Al-Qur’an ada dua ayat yang mengindikasikan perhitungan alam semesta selain makna relativitas waktu, yaitu Surat as-Sajdah (32:5) dan Al-Ma’arij (70:4). >>

Journey 4 the Next Journey

Kehidupan dan kematian adalah bagian dari fase perjalanan manusia menuju pertanggungjawabannya di akhirat. Kehidupan dan kematian ibarat dua sisi dari satu mata uang, keduanya tidak mungkin bisa dipisahkan, dimana ada kehidupan di situ pasti ada kematian. Kematian hanyalah pintu gerbang kehidupan berikutnya, kematian adalah titik tolak proses perjalanan selanjutnya, kematian adalah suatu perjalanan tanpa batas, menembus waktu dan masa untuk akhirnya berhenti di antara dua kemungkinan, yakni kemungkinan berhenti di terminal kebahagian selamanya, atau berada di stasiun kesengsaraan yang abadi. Perjalanan hidup dan mati sesungguhnya adalah suatu anugerah terdahsyat, dalam (QS. 2 : 28) Allah bertanya dengan sebuah pertanyaan yang mengarah pada keyakinan akan sebuah anugerah hidup dan mati. “Bagaimana kalian akan kufur kepada-Ku, sedang kalian saat mati Aku hidupkan, kemudian Aku matikan, kemudian Aku hidupkan, kemudian kepada-Ku kalian kembali” (QS. 2:28). Perjalanan untuk perjalanan selanjutnya –sejatinya- menjadi sebagai arena grand final kehidupan. Semua orang tertuju pada garis finish, namun tidak semua orang yang berakhir happy ending dalam menggapainya. Karenanya, khusus untuk sebuah “Journey” sebelum journey selanjutnya dimulai, ada “Simulasi” journey yang patut menjadi bahan perenungan dan aksi saat kembali beraktivitas pada kehidupan dunia. Semua “Simulasi” itu meliputi pada sebuah perjalanan suci, yakni haji dan umrah. >>

Scientist Zone (Part 1)

The Amazing of Holy Qur’an

Dalam rubrik ini, Cordova mencoba memberikan semacam stimulus berseri untuk selalu menyegarkan arah pikir kita terhadap ayat-ayat suci yang terkadang hanya sering terbengkalai ditengah rimba rutinitas yang tak mengenal lelah. Sebagai tongkat dan petunjuk manusia, kehebatan al-Qur’an kerap mengusik para orientalis yang gemar memutar-balikkan fakta dengan teks kandungan dalam Qur’an. Seruan al-Qur’an tentang kebenaran sangat universal – timeless and spaceless – dialamatkan kepada seluruh manusia dan golongan jin. Kadang-kadang al-Qur’an menyebutkan makhluk yang ada di (banyak) bumi dan di (banyak) langit-yang bermakna segenap makhluk yang telah diketahui maupun yang belum diketahui. Barangkali ia adalah satu-satunya kitab suci yang seruannya ditujukan kepada manusia dan makhluk alam gaib (jin). Kritikus al-Qur’an mengatakan, “Mengapa tidak sekalian saja dialamatkan kepada iblis, atau evil (?)” Kritikus itu lupa atau tidak mengetahui, bahwa iblis dan setan adalah salah satu ras dari golongan jin. Setiap ayat, bahkan jumlah ayat atau kata, dan nama surat merupakan kebijakan abadi. Ia mempunyai beberapa lapisan pengertian, sesuai dengan tingkat ilmu pengetahuan manusia yang membacanya. >>

Cordova Turut Berduka

Ada Apa Dengan Visa Umrah (?)

Sejatinya, jika masing-masing pihak atau stakeholder dalam menangani para tamu agung ke Tanah Suci mengedepankan kepentingan jemaah, maka permasalahan yang timbul belakangan ini akan sedikit diminimalisir. Meski –tentunya- tidak dinafikan bahwa mengais rezeki dari usaha tersebut tak bisa dielakkan. Tetapi sedikit disayangkan, jika hanya terlalu money orientied dengan seribu kepentingan meraup pangsa pasar yang menjanjikan, ternyata berakibat kisruh dan kekecewaan dari setiap calon jemaah umroh, lebih parah lagi visa umroh terlambat keluar dari schedule dan perencanaan setiap orang yang merindu Baitullah. Re-schedule bukan hal mudah bagi mereka yang telah memetakan agenda kesehariannya. Untuk masalah ini -baik batalnya ribuan orang berangkat ke Tanah Suci atau yang harus menunggu keluarnya visa- kita tidak lagi memiliki stock “Apologi” bahwa Allah belum saatnya mengundang kita ke Tanah Suci. Sebab semua itu adalah perangkat yang bisa dilakukan oleh para pemegang kebijakan baik di Indonesia maupun di Arab Saudi. Hakikatnya panggilan Allah untuk mengundang hamba-Nya sudah dijawab dengan hati dan perbekalan yang mantap. Hanya birokrasi duniawi yang memuluskan rencana suci tersebut. Sedikit kita merangkai teka-teki kenapa visa umrah tahun 2010 ini sedikit alot diterbitkan. >>

Duel Maskapai; ‘Pemasungan’ Selera Terbang (?)

Menjelang keberangkatan jemaah umrah awal Maret ini, banyak kalangan yang merasa khawatir akan “Kisruh” Visa yang melanda hampir di seluruh agen penerbitan visa. Niat menggapai kemudahan dalam melangkah ke Tanah Suci, sedikit terganggu oleh birokrasi yang terkesan memonopoli kepentingan bisnis. Adanya suatu persyaratan mengenai prioritas penerbitan visa akan lebih mudah di proses, jika menggunakan salahsatu maskapai yang menjadi mitra bisnis dari salahsatu agen resmi penerbit visa tersebut, adalah suatu hal yang sangat disayangkan. Terlebih bagi jemaah yang memiliki style untuk dapat mendapatkan suatu perjalanan menggunakan maskapai pilihannya. Terjadi semacam “pemasungan” pilihan untuk mendapat fasilitas –yang sejatinya- dimiliki jemaah untuk menikmati perjalanan suci-nya. Betul jika masuknya kembali salahsatu maskapai penerbangan dalam rute Jakarta-Jeddah, menambah pilihan lebih semarak dan menguntungkan sebagian jemaah, tetapi dengan mensyaratkan “Harus” dengan maskapai tertentu, jika ingin mendapatkan visa umrah, inilah yang akan mengancam tradisi ‘Rahmatan Lil’alamin’ semakin pudar disetiap perjalanan haji maupun umrah. >>

Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal 1431 H.

Insurance Coverage at Cordova Journey

Setiap orang yang melakukan perjalanan ke suatu tempat, tentu berharap menikmatinya dengan suasana hati yang tenang, bahagia dan aman. Tidak dikejar oleh kondisi yang sebaliknya, takut, khawatir dan cemas. Kemanapun plesirnya, dan apapun rasa cemasnya. Jika ia pergi ke luar kota, maka harus jelas bagaimana kondisi kendaraan yang dipakai, apakah bahan bakarnya mencukupi, apakah ban, rem serta gasnya berfungsi dengan baik, lalu apakah supirnya berpengalaman dan tahu jalan, dan satu lagi –meski hanya bersifat wanti-wanti- apakah kendaran dan orangnya memiliki asuransi atau tidak, serta pernik-pernik persiapan lainnya yang harus diperhatikan saat kita melakukan suatu perjalanan. Khusus masalah asuransi, Bukan untuk mendahului takdir yang ditentukan Allah SWT, tentang musibah yang akan terjadi pada setiap hamba, tetapi usaha manusialah yang menjadikan asuransi sebagai modal ikhtiar sebelum akhirnya bertawakal pada-Nya sebagai Penentu setiap peristiwa. Mengikuti program asuransi tidak bertentangan dengan kaidah tawakal, yang diharuskan berserah diri pada Allah secara total, namun sebaliknya, dengan asuransi, suasana hati seperti diatas, menjadi point pe-legalan asuransi sebagai salahsatu ikhtiar manusia dalam menggapai tujuannya. >>